SILA CARI DI SINI!
Thursday, August 14, 2008
MENYAMBUT 47 TAHUN GERAKAN PRAMUKA
Wednesday, August 13, 2008
NU=NASONALISME SEJAK DULU
Sekitar 28 artikel, yang selanjutnya dikategorikan dalam empat bab, kalau dicermati secara mendalam,maka kita akan mengenal jati diri Gus Dur yang sangat mendambakan adanya semangat kebangsaan, dan penuh dengan pengabdian di domain demokarsi. Gus Dur dengan jujur mengatakan, bahwa di dalam dalam tubuh organisasi Nahdlatul Ulama ini, mengalir dara nasionalisme, yang mematok harga mati republik ini, dengan harga mati. Terorisme dikecam pula oleh buku ini, dan tiada surga bagi sang teroris, menerawang pelaksanakan Pilkada yang kadang direspon masyarakat dengan sikap apatis, terurai dengan pas.
Data Buku:
JUDUL: GUS DUR—Menjawab Kegelisahan RakyatPENULIS : Abdurahman Wahid
PENERBIT:PT Kompas Media Nusantara. Jl: Palmerah Selatan 26-28 Jaskarta 10270
E-mail: buku@kompas.com
ISBN: 978-979-709-310-5
CETAKAN : II Juli 2007
TEBAL: viii + 168; 14 cm x 21 cm
Buku ini semuanya adalah ide murni Gus Dur, terlahir sebagai bentuk penuangan pemikiran setelah melewai realitas empiris, serta perenungan-perenungan yang dialami. Asam garam pergumulannya, serta penghayatannya terhadap wilayah demokratik, maka Gus Dur dalam buku ini seakan berpidato politik. Secara khusus akan memberikan penyadaran terhadap umat agar tidak salah ketika merespon keadaan.Upaya keras ingin mewujudkan, warganya untuk melek politik, terutama jamah Nahdlatul Ulama untuk menyadari, saat kita hidup di wilayah yang serba beraneka warna.
Karena citarasa bangsa ini “nano-nano” alias bermacam-macam, mulai dari manis, pahit, hingga masam. Tanpa penyadaran itu, maka proses integritas akan terlindas, dan segalanya akan berakhir dengan konflik.
Komentar Gus Dur tentang Negara Islam
Setelah banyak peratanyaan terkait dengan apakah sebenarnya konsep Islam tentang Negara? Gus Dur memberikan pandangan dengan kata-kata: tidak ada. Gus Dur beranggapan, Islam sebagai jalan hidup [syari’ah] tidak memilik konsep yang kelas tentang Negara. Mengapa Gus Dur mengatakan demikian? Karena sepanjang hidupnya, Gus Dur telah mencari dengan sia-sia makhluk yang dinamakan Negara Islam. Sampai hari ini pun belum ditemukan. …[hlm: 3]
NU TIDAK MEMERLUKAN NEGARA ISLAM
Dalam bab membaca NU, secara tegas dapat ditemukan, bahwa keinginan membangun Negara Kesatuan telah lama ada relung hati organisasi ini.
Ketika Mutakmar NU di Banjarmasin tahun 1935, para mutakmirim memutuskan bahwa kawasan ini tidak memerlukan Negara Islam. Keputusan NU ini menjadi dasar, mengapa kemudian para pimpinan berbagai gerakan di negeri ini mengeluarkan Piagam Jakarta dari Undang-undang Dasar [UUD] kita. Jadilah negeri kita sebuah Negara Pancasila dengan nama Negara Kesatuan Republik Indonesia [NKRI], yang tetap lestari hingga hari ini, dan kelihatannya tidak akan berubah seterusnya.
Tanggal 22 Oktober 1945, Pengurus Besar NU [hoofdbestur NU), yang saat itu berkedudukan di Surabaya, menegluarkan “Resolusi Jihad”, untuk mempertahankan dan memperjuangkan Republik Indonesia adalah kewajiban agama atau disebut jihad, meski NKRI bukan sebuah Negara Islam atau lebih tepatnya sebuah Negara agama. …[hlm: 18]
ISLAM SEBAGAI MORALITAS PENDIDIKAN
…….Nahdlatul Ulama [NU], umpamanya, dalam salah satu muktamarnya, setelah tahun 1971 di Surabaya, ternyata merumuskan Islam sebagai moralitas pendidikan dan ajaran/ hukum agama. Dengan demikian, NU tidak dapat menerima Islam sebagai sesuatu yang ideologis dalam kiprahnya….[hlm: 108]
Monday, August 11, 2008
MEMBANGUN MORAL & ETIKA BANGSA.
Sepereti masih beralangsungnya pertikaian dan benturan antar komponen masyarakat yang berbeda salam suku, agama, dan ras. Inilah yang mengantar bentuk harapan-harapan agar bangsa ini lebih meningkatan wawasan cerdasnya, utamanya perekatan bangsa dalam bentuk integrasi yang utuh menyeluruh.
Buku ini dengan tegas mengatakan, bahwa bangsa ini membutuhkan pembentukan karakter dan watak bangsa, yang bergerak pada wilayah:
Pertama, karakter bansa yang bermoral [religius]. Bangsa ini harus sarat dengan nilai-nilai moral dan etika keagamaan sebagai sebuah pandangan praktik.
Kedua, karakter bangsa yang berdab. Beradab dalam arti luas menjadi suatu bangsa yang meiliki karakter berbudaya dan perikemanusian
Ketiga, karakter bangsa yang bersatu. Didalamnya termasuk menegakkan toleransi. Tidak mungkin bangsa ini bersatu tanpa adanya toleransi, harmonis dan bersaudara
Keempat, karakter bangsa yang berdaya. Dalam arti luas, berdaya berarti menjadi bangsa yang berpengetahuan [knowlegeble], terampil [skillful], berdaya saing [competitive] secara mental, pemikiran teknis.
Data buku
JUDUL : Membangun Moral dan Etika BangsaPENULIS: Dr. Susilo Bambang Yudhoyono
PENERBIT: GIB
CETAKAN:I—Mei 2003
HALAMAN: 28
Buku ini menyarankan sebuah keseimbangan, oleh karenanya dalam berbangsa dan bernegara juga memperhatikan, pokok-pokok pikiran yang cerdas dan berani menghindari sesuatu yang justru menghambat cita-cita. Oleh karenanya buku ini menolak prinsip-prinsip:
- The winner takes all [pemenang berarti akan menguasi segalanya]
- The survival of the fittest, [pola kehidupan yang menggunakan hokum rimba]
- Un level playing field, [persaingan tanpa unsur kesetaraan]
- Free fight liberalism [kebebasan tanpa batas, kebebasan demi kebebasan]
- The ends justify the means [menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan sebagai pengaruh dari sikap memutlakan segala sesuatu]
- Fight against [hidup mencari musuh]
- The might is right [Pandangan yang mengatakan yang menang pasti benar]
- Im the sword, I kill the weak [berat, saya adalah pedang, saya bunuh yang lemah]
- Xenophobia [membeci sesuatu yang datangnya dari asing]
Wednesday, August 6, 2008
GUS DUR, TANGGAL LAHIRNYA DOBEL—LEWAT OTOBIOGRAFI KARYA GREG BARTON
Tanggal lahirnya secara tidak sengaja dikais dari sebuah buku berjudul : “Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat,” Sampul bagian belakang buku ini menyertakan tanggal lahir sang maestro, bahwa pada tanggal 04 Agustus 1940 di desa Denanyar Jombang Jawa Timur sang jabang bayi yang kemudian di beri nama Abdurrahman Wahid lahir.
Secara kebetulan tanggal ini menjadi favoritnya para pejabat, tak kurang seorang-orang kandidat Presiden Amerika Serikat, Obama juga lahir pada tanggal 4 Agustus.
Menulis selamat Ulang Tahun kepada Gus Dur itu, ternyata menjadi keraguan, sersa maju dan mundur, apalagi setelah di konfirmasi dengan Biografi Gus Dur yang di kreasi oleh Greg Barton. Ternyata ada “kenylenehan”. Dari kenylenehan inilah, membuat warung ini sangat bernafsu untuk mengungkapnya.
Data Buku:
JUDUL : Biografi Gus Dur The Authorized Biography of Abdurrahman WahidPENULIS: Greg Barton
PENERBIT: LKIS Yogyakarta. Jl. Parang Tritis Km, 4,4 Yogyakarta. Telp. [ 0274] 387194, 7472110. E-mail: lkis@lkis.co.id Web : http://www.lkis.co.id/
ISBN: 979-3381-25-6
CETAKAN : VIII: April 2008
TEBAL :xxviii + 516 hlm: 15,5 x 23
Sebagai biografi, buku ini termasuk biografi yang rasional, karena Greg Barton sering kali melakukan penilaian kritis terhadap perilaku, pernyataan dan keputusan Gus Dur, terutama pada saat ia menjabat sebagai presiden. Kata-kata, seperti kurang strategis, tanpa pertimbangan matang, itu seharusnya bukan pekerjaannya, agak ngawur, tergesa-gesa, kurang berani, terlalu lamban, kurang tegas, dan diliputi oleh kemarahan, banyak terlontar dan tertulis apa adanya di buku ini. Terhadap penuturan sejarah hidup dan ligkungan Gus Dur, Greg Barton juga menilainya dengan sangat kritis, yakni dengan cara melakukan Cross Check data dan menunjukkan keraguan penuturan Gus Dur jika memang kurang didukung oleh data atau justru ditemukan sebaliknya.
Ia gemuk, atau agak gendut. Perutnya sedikit buncit seperti perut Budha hampir-hampir menonjol keluar membuat kemeja batik murahnya tidak bisa terkancingkan di bagian itu. Pada akhir tahun 1980-an ia mengenakan kacamata berwarna hitam yang agak tidak pas, dengan pinggir tebal. Mata kirinya hampir tetutup sempurna dan bahwa penglihatan mata kananya juga tidak terlalu baik. Jelas Gus Dur bukanlah seorang fotogenik. Giginya tidak rata dan agak kuning. Rambutnya hitam berombak dan tidak tersisir rapi. Tahun-tahun berikutnya saya memotretnya berpuluh atau bahkan mungkin beratus kali, namun hampir tak ada potretnya yang bisa menggambrakannya dengan pas. [Hlm: 5]
Walaupun Gus Dur selalu merayakan hari ulang tahunnya pada tanggal 4 Agustus, tampaknya teman-teman dan keluarganya yang menghadiri pesta perayaan hari ulang tahunnya di Istana Bogor pada hari Juamt 4 Agustus 2000 tak sadar bahwa sebenarnya hari lahir Gus Dur bukanlah tanggal itu. Sebagaimana juga dengan banyak aspek dalam hidupnya dan juga pribadinya, ada banyak hal yang tidak seperti apa yang terlihat. Gus Dur memang dilahirkan pada hari keempat bulan kedelapan. Akan tetapi perlu diketahui bahwa tanggal itu adalah menurut kalender Islam, yakni bahwa Gus Dur dilahirkan pada bulan kedelapan dalam penganggalan Islam. Sebenarnya, tanggal 4 Sya’ban 1940 adalah tanggal 7 September. [hlm:19]
Ketika remaja, ia mulai serius memasuki dua macam dunia bacaan: pikiran social Eropa dan novel-novel besar Inggris, Prancis, dan Rusia.
Sebagai seorang remaja, ia mulai mencoba memahsmi tulisan-tulisan Plato dan Aristoteles, dua orang pemikir penting bagi sarjana-sarjana mengenai Islam zaman pertengahan. Pada saat yang sama ia bergulat memahami Das Kapital karya Marx dan What is To be Done karya Lenin, kedua buku yang mudah diperoleh di negeri ini ketika Partai Komunis Indonesia membuat kemajuan besar. Ia juga banyak tertarik pad aide Lenin tentang keterlibatan social secara radikal, seperti dan Infantile Communism dan dalam Litle Red Book-Mao.
Pada pertengahan tahun 1968, Nuriyah, yang saat itu telah secara resmi bertunangan dengan Gus Dur selama hampir dua tahun, menamatkan studinya di Pesantern Tambakberas Jombang dan akan meneruskan studinya di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Orang tua Nuriyah memutuskan, sebelum Nuriyah meneruskan studi dan mondok di Yogyakarta, yang terbaik bagi dirinya dan Gus Dur adalah saling mengikatkan diri dalam sebuah pernikahan formal. Akan tetapi ada sekit persoalan. Gus Dur berada jauh di Irak, lebih dari 12.000 km. dari Indonesia. Saat itu, Gus Dur sudah setengah jalan dalam studinya dan tidak mempunyai waktu maupun uang untuk melangsungkan pernikahan di Tanah Air. Masalah ini akhirnya dapat dipecahkan dan pernikahan Gus Dur dengan Nuriyah akan dilangsungkan bu;lan September tahun itu juga. Akan tetapi, pemecahan masalah ini malah menimbulkan spekulasi yang tidak-tidak bagi mereka yang tidak tahu apa rencana sebenarnya. Oleh karena Gus Dur tidak dapat hadir dalam pernikahan itu, ia di wakili oleh kakeknya, Kiai Bisri Syansuri. Para tamu menjadi heboh ketika melihat seorang kiai berusia 81 tahun bersanding dengan seorang pengantin muda usia. Walaupun secara teknis Gus Dur dan Nuriyah telah menikah, mereka menganggap pernikahan itu tak lebih daripada sekedar pertunangan. Mereka sepakat bahwa mereka akan hidup bersama hanya setelah keduanya menyelesaikan studi masing-masing. [Hlm: 110]
Tuesday, August 5, 2008
POLITIK DOSOMUKO – REZIM ORDE BARU
Perilaku rezim ini membaya penderitaan rakyat yang amat panjang, dan merapuhkan sendi-sendi kehidupan bangsa dan Negara, akibat akhienya berwujud kesengsaraan.
Buku ini disuguhkan di Warung ini, hanya sekedar mengingatkan kembali, agar Republik yang memasuki usi 63 tahun ini, tidak mengulang pengalaman buruknya.
Data Buku :
JUDUL: Politik Dosomuko—Rezim Orde BaruPENULIS: Soebadio Sastroatomo
PENERBIT: Pusat Dokumentasi Politik “Guntur 49” Jakarta
CETAKAN : I—1998
TEBAL :23 hlm
POLITIK DOSOMUKO :
Apa politik Dosomuko itu? Kekuasaan sepenuhnya berada dalam satu tangan. Tidak ada pembagian peran. Kekuasaan politik dijalankan secara mutlak, karena itu kekuasaan menjadi liar dan semena-mena. Agar terlihat ada pembagian kekuasaan dan supaya dianggap demokratis maka diciptakan sepuluh wajah.
Tetapi pada dasarnya pemilik kekuasaan itu hanya satu tubuh.
Memang ada Majelis Perwakilan Rakyat, ada Dewan Perwakilan Rakyat, ada mahkamah Agung, ada Pengadilan, ada Badan Pemeriksa Keuangan, pendeknya atribut lembaga-lembaga demokrasi itu lengkap diadakan. Tetapi fungsi sesungguhnya yang menjadi kewajiban lembaga-lembaga itu, ditiadakan, dipasung, Secara sentral semua direkayasa oleh satu tangan.
Sistem Politik Dosomuko yang dibangun penguasa Dosomuko memilki sepuluh wajah, yaitu:
- Kedaulatan rakyat dirampas
- Pancasila dijadikan tameng kekuasaan
- Hukum dikangkangi
- Parpol dan Serikat Buruh dipasung
- Parlemen dikebiri
- pers dimandulkan
- Ekonomi berwajah Nepotisme-Monopoli-Korupso-Kolusi
- Pendidikan dijinakkan
- Kebudayaan diseragamkan
- Nilai-nilai kemanusiaan diinjak-injak
KATOLIK MERAH PUTIH
Buku ini membongkar sejarah, menunjukkan bukti, bahwa Katolik selalu berkontribusi di negeri ini. Seirama dengan dinamika bangsa, ternyat Soekarno sangat menghargai dan kagum terhadap organisasi Katolik.
….Soekarno boleh dikatakan kagum pada manajemen organisasi Katolik. Sehingga Soekarno banyak memanfaatkan jaringan Katolik dalam berbagai kesempatan. Momentum itu adalah awal pertemuan dengan kader-kader Katolik didikan Romo Van Litj, Sj. Sebut saja Mgr.Albertus Soegijapranata [Uskup dan pahlawan nasiona;], IJ Kasimo [Ketua Partai Katolik]. Ataupun didikan Pater Beck, SJ, sebut Cosmas Batubara [Ketua Pusat PMKRI, Ketua Periodik KAMI), Harry Tjan Silalahi [Sekjen KAP Gestapu/Fron Pancasila, Pendiri CSIS) PK Ojong [Pendiri Harian KOMPAS]
Inilah sebuh sekelumit kontribusi Katolik, masih banyak sumbangganya di dimensi yang lain di kupas buku ini.
Data Buku
JUDUL : Katolik Merah PutihPENULIS : Kanisius Karyadi
PENERBIT : Karolmedia Candramas AD 20 Sedati, Sidoarjo. Telp. 031-71628697
CETAKAN: I- 2007
TEBAL: v + 75
Soekarno dan Katolik, dalam Dinamika:
Persentuhan Soekarno dengan kader Katolik, mennujukkan gerakan pada masa saling membutuhkan ataupun kadang saling bersinggungan. Soekarno seorang nasionalis berkewajiban memanfaatkan potensi bangsa. Kader katolikpun turut menyumbangkan darma bhakti terhadap pertiwi.
Diskusi-diskusi Soekarno SJ atau Mgr Albertus Soegijapranata, SJ yang waktu itu anggota legislative cukup mendebarkan. Keterlibatan Partai Katolik melalui Ignatius Joseph [IJ]Kasimo yang menyatakan walk Out dan menolak diberlakukannya Nasakom, pun pula Seokarno berhadapan dengan kader Katolik di penghujung kepemimpinan 1966.
[Hlm: 8]
Katolik dan Pancasila.
…Hal ini tidak salah, berkat Pancasila eksistensi kalangan Katolik bisa hidup di Indonesia hingga kini. Memang sejak awal, mayoritas kalangan Katolik memiliki sejarah panjang dengan Pancasila.
Pancasila yang dicetuskan 1 Juni 1945 oleh Soekarno, memilki sejarah dengan para intelektual Katolik sebelum mencetuskan gagasan itu.
Tidak ayal, ketika ada rongrongan kepada Pancasila tahun 1965, maka banyak kalangan Katolik yang terlibat dalam perlawanan sengit. Di antaranya di tingkat nasuional, pada waktu berdiri Front Pancasila, di bawah komando Subchan ZE, maestro muda Nadlatul Ulama, dan Sekjen Harry Tjan Silalahi, sang legenda umat Katolik. Di Surabaya muncul Laskar Pembela Pancasila.
Kekonsistenan mantan lascar-laskar pembela Pancasila sedikitnya masih terbina hingga sekarang, terbukti, dalam forum di Unika Widya Mandala Surabaya 2005, Harry Tjan Silalahi dan Anton Priyatno menganggap Pancasila tetap bisa dijadikan basis ideology bangsa yang tetap menaungi masyarakat Indonesia, di mana kalangan Katolik ada di dalamnya, tanpa kehilangan identitas dan jati diri, [Hlm; 30]
Monday, August 4, 2008
PROSES PELAPUKAN—TANTANGAN INDONESIA MERDEKA
Buku ini seperti album yang mendokumentasikan perjalanan republik ini dengan berbagai dimensi permasalahan. Tampaknya buku ini seperti kaleideskop, dirancang dengan cermat, dan didukung dengan foto-foto yang sangat istimewa. Buku ini menggambarkan pudarnya pesona Republik Indonesia, dan dengan tegas dikatakan Indonesia saat ini sedang dalam proses pelapukan. Buku ini boleh dikatakan sebagai edisi lengkap atas refleksi Harian Kompas dalam menyambut 60 tahun Indoensia Merdeka. Harapan warung tentunya, ingin mengundang edisi baru yang melengkapi edisi sebelumnya, entah itu dalam bentuk sisipan [suplemen], atau lainnya. Buku ini pantas diacu oleh siapa saja, terutama di ranah pendidikan, sehingga para siswa akan memperoleh informasi khusus perjalanan Negara Republik ini.
Detil Buku
JUDUL : Proses Pelapukan –Tantangan Indonesia MerdekaPENULIS: Brigita Isworo Laksmi [editor]
PENERBIT: PT Kompas Media Nusantara. Jl. Palmerah Selatan 26-28. Jakarta 10270 E-mail: buku@kompas.com
CETAKAN : I --Januari 2005
HALAMAN : xliii+188 hlm; 14 cm x 21 cm
ISBN: 979-709-237-2
Buku ini membentangkan, bahwa proses pelapukan tampak mencolok dalam sejumlah bidang. Pada aspek territorial misalnya, wilayah Indonesia menciut setelah Sipadan—Ligitan terlepas dan jatuh ke tangan Malaysia. Pesona alam juga terancam pudar akibat penanganan yang tiadak serius. Proses kehancuran dan penghancuran ekologis tampak berlangsung sangat cepat. Hutan dan pasir laut terus dieksplotasi habis-habisan, tanpa ada upaya drastis menghentikan.
Potret kemunduran terlihat jelas pula dalam bidang ekonomi. Sekedar ilustrasi, Indonesia pernah menjadi eksportir gula nomor dua di dunia, tetapi kini menjadi importir nomor satu. Posisi Indonesia pun semakin tergeser oleh Malaysia dalam produksi sawit.
Kedodoran dalam bidang ekonomi juga kelihatan pada penanganan masalah energi. Indoensia akan terancam mengalami krisis energi hebat jika tidak dilakukan antisipasi. Energi merupakan salah satu kebutuhan vital masayarakat modern. Kelangkaan listrik dan sember energi lain akan menggangu kehidupan secara keseluruhan.
Buku ini juga melihat dengan cermat beberapa akibat yang ditimbulkan oleh Pilkada—Pemilihan Kepala Daerah, ternyata menyisakan beberpa problema berupa konflik. Paparan ini memberikan isyarat, betapa sulitnya ketika model pemilihan langsung ini aplikasikan.
Sistem pilkada langsung menurut buku ini, dibebani harapan besar yaitu bisa menjadi pintu masuk perubahan besar menyangkut system politik yang lebih demokratis. Namun, tetap saja harapan perubahan itu dinilai masih belum sejalan dengan kecenderungan dalam system kepartaian Indonesia yang sentralistis. Ternyata dalam pilkada tetap saja penentu masih berada ditangan pengurus pusat partai politik. Akhirnya puilkada tidak akan menjamin penguatan demokrasi local manakala pengutan kelembagaan tidak dilakukan secara serius.[hal : 7-8]
Tentang Pemberantasan Korupsi
Pada tahun 2001, seorang-orang bernama Endin Wahyudin—kuasa hokum Aminah, mengungkapkan bahwa tiga majelis hakim Mahkamah Agung, telah menerima suap darinya, total 196 juta rupiah. Endin melaporkan ketika hakim ke Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi [TGPTPK]
Wajah birokrasi Indonesia masih saja tetap korup, wajah aparat penegak hokum pun masih belum jauh berubah dari perdagangan perkara, dan wajah peradilan juga masih tetap sama; sarat dengan mafia peradilan. Kasus-kasus korupsi terus saja terjadi meski presiden di setiap rezimnya berulang-ulang berbicara soal pemeberatasan korupsi.
Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, ketiak itu. B.Lynn Pascoe seusai menghadiri sebuah acara di Mahkamah Agung menjelaskan, setiap orang yang berusaha di Indonesia harus mengeluarkan 10-15 persen dari investasinya untuk praktik korupsi.
Hasil survey terhadap kantor pemerintahan yang dilakukan tahun 1999-2000 oleh Institute for Policy and Communication menyebutkan, pejabat yang membuat peraturan dan pejabat yang bertanggung jawab dalam pembelian adalah pejabat public yang paling banyak korupsi besar-besaran.
[Wusana kata: Dalam buku ini sarat dengan artikel yang menggambarkan realitas yang sebenarnya dari sebuah perjalanan bangsa, semuanya memiliki maksud yang luhur sebagai upaya penyadaran senyampang dalam suasana Hari Ulang Tahun Kemerdekaan]