SILA CARI DI SINI!

Google

Friday, March 27, 2009

IKLAN POLITIK TV-AKHMAD DANIAL


Hari-hari ini adalah saat yang paling tepat untuk sekolah politik, khususnya mata kuliah "Iklan Politik Dalam TV", alasan pertama karena atmosfir pembelajaran politik sedang kondusif, ditopang tersediannya alat-alat pembelajaran seperti spanduk, baliho, pamflet, leaflet, program radio dengan iklan politik dan TV semakin gencar menggempur di sembarang sudut kota hingga pojok desa. Alasan yang lain karena nir ongkos, artinya belajar tentang politik dalam kurun perhelatan pemilu tidak perlu harus membayar, bahkan kadang-kadang dibayar oleh kontestan.
Kehadiran buku ini patut disambut hangat oleh masyarakat, utamanya oleh kalangan mahasiswa politik, mahasiswa komunikasi, Komite Pemilihan Umum Pusat [KPU] dan Daerah [KPUD], Panwaslu, elite Politik lokal dan nasional, anggota Legisatif Pusat [DPR], serta simpatisan partai, baik yang gurem, maupun partai jumbo.
Kini orang dengan mudah dapat belajar, minimal menambah wawasan, bahwa kampanye saat ini telah membalik paradigma, dari model non-mediated campaign, pawai massa, kini beralih ke metode mediated campaign televisi. Perubahan tentunya berdampak luas dalam proses pembelajaran "perkampanye-an", mulai persoalan teknis, hingga membentangkan ide. Rupanya buku ini menawarkan solusi sekaligus menebarkan inspirasi.
PAKAR ANGKAT BICARA
Ketika peralihan paradigma bersiasat memasuki benak para politisi, disini pula para pakar membentangkan teorinya. Memang dahsyatnya media TV bagaikan bah Tsunami, semua orang menjadi terjerat dan terperanjat, kendati harus merogoh kocek yang tidak sedikit.
Denny, J.A ketika itu masih kandidat doktor politik, sudah mencandra pentingnya "japa mantera" Iklan Politik lewat media TV, dia menulis dalam kolom Majalah Gatra yang isisnya sbb:
"Di era Panglima Perang Alexander The Great dan Napoleon, untuk memperbesar pengaruh dan memenangkan dukungan politik diperlukan meriam dan bedil. Namun, di abad informasi di AS, untuk memenangkan pengaruh dan dukungan, yang diperlukan adalah iklan di televisi. Aktor utama di balik pertarungan politik bukan lagi jenderal perang, melainkan konsultan marketing"
Ini adalah sebuah pikiran yang sedang terjadi, dan sudah laik menjadi sebuah teori, bahwa iklan Tv sudah menjadi virus yang mempu menggerug paradigma yang selama ini berjaya.
Kemudia juga apa yang dikatakan T.Yulianti, pemerhati masalah internasional dari Universitas Airlangga, saat melukiskan gejala politik dalam Pemilu Presiden Indonesia tahun 2004.
"Perkembangan demokrasi di tanah air memasuki era baru yang ditandai dengan kebangkitan para media strategis, image makers, dan konsultan politik di belakang tim sukses kampanya para calon presiden. Indonesia telah memasuki era"Presidents for Sale" di mana kemenangan kandidat dalam Pemilu akan sangat ditentukan oleh kepiawaian konsultan politik dan biro iklan dalam menjual isu, image, dan janji-janji politisi yang menjadi kliennya...Iklan-iklan politik di televisi menjual kandidat presiden, seperti produsen menjajakan produk sabun dan sikat gigi"
Itulah endusan empiri T.Yulianti ketika mengamati kejadian-demi kejadian. Rupanya Effendi Gazali juga tidak ketinggalan mencadra petingnya membangun image lewat iklan TV.Pengamat Komunikasi politik Universitas Indonesia ini, mengatakan:
"Kalau sistem langsung sudah bermain citra. Bukan lagi main di mesin politik.....Mesin politik Mega semstinya jangan berkelahihi dengan bayang-bayang, tapi seharusnya mendorong agar citra Mega naik.....Tak ada janji iklan dari Megawati yang dapat dipetik langsung manfaatnya oleh rakyat"
Kemudia buku ini juga mempersilahkan pandangan R.William Liddle memberikan pandangannya terkait dengan iklan politik di TV. Menurutnya iklan politik di TV Indonesia itu masih santun bin sopan, dikatakan oleh Liddle sbb:
"Saya sudah menonton puluhan iklan politik, dari tahun 1999 hingga kini, dan belum pernh melihat iklan mengatif yang menyerang seorang calon atau tokoh partai secra pribadi. Dalam hal ini, mungkin ada sesuatu yang Amerika Serikat bisa pelajari dari pengalaman Indonesia". [Catatan: mungkin Pak William Liddle belum melihat Iklan politik di TV Indonesia akhir-akhir ini, yang saling tembak].
Menurut Liddle memang Amerika nampaknya sudah menjadi bagian politiknya, serang menyerang seakan perbuatan lazim dilakukan. Liddle mencontohkan sebabagi berikut:
"Saya teringat pada kepercayaan yang sudah lama diyakini sebagian besar aktivis Partai Demokrat, they will do anything necessary to win, mereka akan berbuat apa saja yang diperlukan untuk menang. Bagi kaum Republik, tujuan kemenagan calon presiden benar-benar menghalalkan segala cara"
PENGAKUAN BUKU INI.
Buku ini setengahnya melegitimasi bahwa iklan Politik di TV memiliki kedahsyatan dan sudah waktunya hadir secara masif di era komunikasi. Mesin politik dengan hinggar bingar telah tergantikan dengan pembentukan citra posistif sang kandidat. Dukun poliitk sudah waktunya digantikan dengan kehebatan dalam mendisain yang dimotori dengan konsultan politik. Buku ini juga mengungkap bahwa dalam pencitraan tidak serta merta mengambil oper model kampanye di Amerika, "Amerikanisasi Iklan TV". Setidaknya content harus beda, dan tetap menjaga kesantunan. Namun yang perlu disadari bahwa belanja politik semakin meningkat, karena tarif Iklan Politik di TV disamakan dengan iklan komersial.
Data buku
JUDUL:Iklan Politik TV-Modernisasi Kampany Politik Pasca Orde Baru
PENULIS: Akhmad Danial
PENERBIT: LKIS Salkan Baru No. 1 Sewon Bantul Jl. Parang Tritis KM. 4,4 Yogyakarta. Telp: [0274] 387194. http://www.lkis.co.id. E-mail: lkis@lkis.co.id
ISBN: 978-979-1283 748
TEBAL: xxxiv + 264 halaman 14,5 x 21 cm
CETAKAN: I- Pebruari 2009
[maaf posting belum tuntas]

Saturday, March 21, 2009

PARA KOMANDO-SINTONG PANJAITAN

PERJALANAN SEORANG PRAJURIT
Kehadiran buku ini menempati momentum yang tepat, kehadirannya juga ikut menghangatkan atmosfir politik yang masih suam-suam kuku. Barangkali bukan hanya membuat hangat tapi juga menjadi panas, jenggot pun bisa juga terbakar. Ada yang mengernyitkan dahi, ada juga merasa memperoleh amunisi, ada juga yang rugi, ada juga yang merasa didholimi. Jelasnya buku ini laris manis, toko-toko buku di wilayah Kota Buaya ini sampai "kekeringan", bahkan hingga berkali-kali melakukan order ulang untuk merespon permintaan. Warung buku juga sempat kelimpungan mencari buku pak Sintong ini. Hampir semua media massa membicarakan buku ini, mingguan tempo meresensi, bahkan hampir situs internet yang bersegmen politik ikut tergeliti. Pada bulan Maret 2009, sudah cetak dua kali,.....hitung-hitung rejekinya penerbit Kompas.
Buku ini tergolong langka untuk soal perjalanan karir prajurit, bahkan buku ini bisa menggairahkan kalangan prajurit untuk memberikan iur pengalaman kepada sesama prajurit, setidaknya bisa memberikan informasi kepada masyarakat tentang jati diri prajurit.
Penulisan sosok Sintong Panjaitan yang mengundang polemik, karena sempat "nyerempet" seorang-orang yang bernama Prabowo Subianto. Tepatnya pada halaman318 hingga 322, subtansinya sebuah ketidakpuasan Prabowo ketika pemindahan dari Kopanssandha ke Kostrad. Dalam buku tergambar seolah ada kekecewaan Prabowo, yang sekaligus merupakan kekesalan Sintong.
Selengkapnya tertulis:
.....Sintong menerima Prabowo di ruang kerjanya. Prabowo menayakan mengapa ia dipindahkan dari Kopassandha ke Kostrad. Dalam sejarah korp Baret Merah, belum pernah terjadi seorang anggota menanyakan kepada atasan mengapa ia dipindahkan. Menurut Sintong, dikalangan Korp Baret Merah, komandan sangat disegani oleh anak buahnya. Tidak seorangpun yang berani menanyakan mengapa ia dipindahkan. "kalau anak buah Prabowo berani menanyakan hal serupa kepadanya, ia pasti langsung dipecat saat itu juga oleh Prabowo," kata Sintong.[hal 320]
L.B.Moerdani Pernah Membuang Baret Merah.
Buku ini juga membentangkan cerita bahwa LB Mordani pernah membuang Baret Merah, ini dilakukan ketika Korp Baret Merah akan di sematkan sebagai penghargaan kepada Yang Dipertuan Agung Sultan Iskandar. Ternyata ketika Sintong menyodorkan kepada LB Moerdani agar dalam acara seremonial itu juga memakai baret merah, ternyata diluar dugaan baret merah itu dilemparkan hingga jatuh ke lantai. Sintong sangat terkejut dan tersinggung, akhirnya melakukan klarifikasi kepada LB.Moerdani. Atas peristiwa itu akhirnya Sintong menjadi paham, jika LB Moerdani memendam rasa, seakan muak dengan baret merah gara-gara korp ini pernah memberlakukan keputusan yang kurang disenangi LB Moerdani. Keputusan yang dimaksud adalah keputusan bahwa anggota RPKAD yang invalid dikeluarkan dari kesatuan. Toh akhirnya ketika penyematan baret merah untuk Sultan Iskandar dilaksanakan LB. Moerdani setia menggunakan Baret Merah.
Lima atau enam orang perwira tinggi ABRI yang akan diamankan oleh Prabowo [Hal: 450-451]. Tulisan ini barangkali yang bisa membuat orang menjadi tersudut.
....Maret 1983 menjelang Sidang Umum MPR, Komandan Den 81?anti Teror Mayor Luhut Panjaitan datang ke kantor seperti biasa. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh laporan anak buah yang menyebutkan, Den 81/Anti Teror sedang siaga. Luhut bertanya mengapa bersiaga? Ia mendapat jawaban, status siaga atas perintah wakilnya, Kapten Prabowo Subianto. Luhut bertanya kepda Kasi 2/Operasi dan para Komandan Tim Den tentang apa yang sesungguhnya terjadi.Kasi 2/Operasi menjawab, atas perintah Wakil Komandan Kapten Prabowo, mereka sudah membuat rencana untuk mengambil Letjen L.B.Moerdani dan beberapa perwira tinggi lainnya. Menurut Kasi2/OPS, di antara nama-nama perwira tinggi ABRI yang akan diambil atas perintah Prabowo ialah Letjen TNI L.B.Moerdani, Letjen TNI Soedharmono, MArsdya TNI Ginajar Kartasasmita, Letjen TNI Moerdiono......
Data buku
JUDUL: Sintong Pajanitan Para Komando
PENULIS: Hendro Subroto
PENERBIT: PT Kompas Media Nusantara Jl. Palmerah Selatan 26-28 Jakarta 10270
ISBN: 978-979-709-408-9
TEBAL: xxx+522 halaman: 14 cm x 21 Cm
CETAKAN: II Maret 2009
Hal yang dibahas menurut daftar isi:
  1. Badai besar di Mei 1998
  2. Yang Benar dan Menang
  3. Operasi Kilat Mengawali Pengalaman Tempur
  4. Penumpasan G30S/PKI di Jakarta hingga Jawa Tengah
  5. Operasi Tempur di Irian Barat
  6. Operasi Teritorial Penentuan Pendapat Rakyat di Irian Barat
  7. Operasi Kemanusiaan Lembah X di Irian Barat
  8. Satgas 42 Kopassandha Penumpasan Gerombolan Komunis Kalbar
  9. Operasi Antiteror Hanya 3 Menit untu Melumpuhkan Pembajak "Woyla"
  10. Membangun Kualitas Kopassus dan Infanteri
  11. Panglima Kodam Udayana an dibalik Insiden 12 November 1991 di Dilli..
  12. Dari Staf Ahli Menristek hingga Penasihat Presiden Bidang Hankam
  13. Peristiwa Maret 1983 di Mako Kopassandha dan Penculikan Aktivis Mei 1998.

Friday, March 20, 2009

RIVAL-RIVAL POLITIK SBY

D.Danny Hamongan Simanjutak, alumnus STPMD "APMD" Yogyakarta, adalah spesialis penulisan tema-tema sosial politik, untuk kali ini ingin membentangkan permasalah rivalitas di ujung Pilpers 2009. Buku ini sebenrnya sudah lama lahir, bahkan niatan oarng untuk jadi Capres 2009 belum tumbuh, saat kini bersemi buku ini disajikan oleh warung buku. Rivalitas itu hal biasa, dan selalu tumbuh dikala terjadi kelangkaan sumber yang direbutkan oleh banyak pihak. Seprti jabatan Presiden, adalah sebuah jabatan yang langka, namun yang merebutkan luar bisa jumlahnya, bahkan tidak terbatas. Namun karena orang telah menghitung peluang yang jarang, membuat orang tidak serta merebutkannya.
Buku ini melihat banyak orang yang akan berebut kursi tunggal istana, karena sang presiden saat- SBY memberikan kemungkinan untuk kembali mencalon, apa calon yang lain dianggap kompetitornya, yang bahasa lazimnya acapkali disebut "rival"
Buku ini membagi dalam dua bahasan besar, pertama menggmbarkan tentang Napak Tilas Perjalanan SBY Menuju RI - 1, kedua, membahas "rival-rival" Politik SBY.
Pada bagian pertama, membentangkan perseteruan di Awal Karier Politik SBY, menggambarkan SBY yang Flamboyan terkait dengan jati dirinya, Konflik di Era Pemerintahan Mega, dan kemudian bagaimana SBY menuju RI -1
Pada bagian kedua, membentang rival-rival politik, dari plus minus sang rival, serta peta kekuatan. Dan personal yang dimaksud rival itu menerut buku ini:
Megawati Soekarnoputeri
Yusril Ihza Mahendra
KH.Abdurrahman Wahid
Prabowo Subianto
Sitti Hardiyanti Rukmana
Jusuf Kalla
Wiranto
Din Syamsuddin
Hatta Rajasa
Sutiyoso
Sri Sultan Hamengku Buwono X
Adang Daradjatun
Sutanto
Akbar Tanjung
Soetrisno Bachir
Data buku
JUDUL: "Rival-rival " Politik SBY
PENULIS: D. Danny Hamonangan Simanjuntak
PENERBIT: Narasi. Jl.Irian Jaya d-24, Perum Nogotirto II Yogyakarta 55292. Telp. 0274-7103084.
ISBN: 978-979-168-083-7
CETAKAN: 2008
TEBAL: 168 halamn; 14,5 x 21 cm
Catatan:
Pada bagian pertama buku ini bahasannya menggambarkan terang dan gelapnya cuaca politik yang terjadi saat itu, konflik bermunculan akibat perseteruan, bahkan SBY harus menerima santapan kritik yang ditafsirkan sebgai "brutus', bahkan tidak terduga Taufik Kemas melontarkan kata pedas ketika itu.
......."Mas jenderal bintang empat kayak anak kecil gitu.".....inilah gambaran kecut perseteruan yang muncul di suasana itu. Dari buku ini nampak SBY di dewasakan kedaan, bagaimana perannya yang berat ketika mendampingi Gus Dur, harus mampu menyikapi bola-bola "panas" yang sering dilemparkan Gus Dur. Akhirnya SBY pun mampu merampungkan pekerja itu, dan kini kembali mencapres lagi.
Selanjutnya untuk bahasan kedua buku ini, hanyalah deksripsi dari curriculum vitae seorang-orang yang dianggap rival, dan tentunya mentangan daftar riwayat hidup para pesaing politik itu dikemas khusus dengan bumbu tertentu.

THE VICTORY IS YOURS; DRAMA OBAMA

TANDA MATA DARI KOMPAS UNTUK SANG PRESIDEN
Buku ini adalah kata lain dari buku-buku yang mencoreng-coreng kredibilitas Obama, memang saat ini banyak buku yang bernada miring, yang beberapa waktu yang lalu sempat tersaji di warung ini. Selanjutnya sebagai pengimbang warung buku menampilkan sebuah buku yang diterbitkan kompas, bahkan buku ini merupakan "Tanda Mata Kompas".
Penulis buku ini adalah wartawan yang sedang mendapat tugas peliputan, oleh karenanya gaya reportasenya cukup kental.
Tentunya ada alasan khusus mengapa Kompas membuat tanda mata untuk Obama, dari buku ini terlihat alasan-alasan yang mendorong 'nawaitu' itu. Sekapur Sirih yang ditulis oleh Bambang Sukartiono/Pimpinan Redaksi Harian Kompas, memuat alasan itu. Menurut Bambang karena Obama mencatat sejumlah rekor fantastis yang belum pernah tertoreh dalam sejarah adi daya tersebut.
Pertama, ia presiden kulit hitam yang pertama mendiami Gedung Putih. Ayahnya kulit hitam berasal dari Kenya, Ayah titinya, Lolo Soetoro orang Indonesia
Kedua, Obama mengakhiri dominasi kekuasaan yang digenggam dua trah politik, yakni Dinasti Bush dan Clinton, yang memimpin Amerika Serikat dalam 20 tahun terakhir sejak tahun 1988
Ketiga, Obama memecahkan rekor dana kampanye pilpres lebih dari satu miliar dollar AS selama kampanye yang berlangsung sekitar 21 bulan sampai hari pemilihan 4 November 2008
Kenyatan itulah, akhirnya Kompas memberikan tempat kepada "Drama Obama" dalam pemberitaan, foto,opini, dan aneka renik-renik sajian viosual. Maka lahirlah sebuah buku The Victory is Your ini sebagai "momento" yang layak.
Data buku
JUDUL: The Victory is Yours" --Drama Obama
EDITOR; Bagus Dharmawan
EDITOR FOTO: Julian sihombing
PENERBIT: PT Kompas Media Nusantara. Jl. palmerah Selatan 26-28 Jakarta 10270. E-mail : buku@kompas.com
ISBN: 978-979-709-405-8
TEBAL: lvi + 256 halaman; 23 cm x 21 cm
SAJIAN
Buku membentangkan substansi penting kiprah politik Obama, dan didukung peran para pakar kampanye, dengan balutan stretgi komunikasi. Melalui garapan yang "cerpat" --cermat dan tepat, yang disuguhhkan dalam gaya feature serta laporan jurnalistik khas kompas, yang pas. Rekaman lensa yang piawai dari sisi-sisi panggung kampanye, memberikan kesan agung dalam menyosomng momentum bersejarah ini. Selanjutnya juga memberikan wahana kepada pakar untuk melampiaskan kerja profesinya. para pakar itu melakukan kajian serta mengurai kejadian-demi kejadian, dengan analisis yang tajam membuat tanda maka kompas ioni semakin lengkap. Beberapa pakar seperti, R. William Liddle, I Basis Susilo, Sudirman H Nasir, A Prsetyantoko, A Tony Prasetiantoro, danb Kartono Muhamad diberikan ruang untuk melakukan apresiasinya.
Sebagai pustaka buku ini sangat bermanfaat bagia seorang-orang yang mengatakan dirinya aktivis organisasi, birokrat, atapun pelaku bisnis, hingga mahasiswa, dosen atau wartawan sekali pun.

Thursday, March 19, 2009

PRESIDEN AS PERTAMA 100% YAHUDI

Sebuah buku yang akan menghempaskan harapan banyak orang tentang politik luar negeri Amerika Serikat yang dianggap lebih menguntungkan Islam daripada era Bush. Ternyata antara Obama dan Bush itu dimetaforakan beda "casing", namun "presesor' sama. Tony Syarqi, adalah penulis yang sengaja melihat Obama dari dimensi gelap, sehingga rasa buku ini teras miring karena berat sebelah. Jluntrungnya, karya Tony ini, akan mengurai latar belakang Obama dan jejaring Yahudi di sekelilingnya, dan melalui buku ini akan memberikan jawaban mengapa Anda begitu mudah tersihir dan langsung mengelu-elukan. Buku ini bukan karya fisksi dan lebih ditopang data yang diendus dari wilayah empiri. Namun yang dikais hanya sisi gelap sang Obama, sehingga mulai awal hingga epilog buku ini terkesan Obama tidak memiliki prosentase kebaikan, ini pun masih ditopang dengan judul 100% Yahudi.
YAHUDI SUKA PADA OBAMA
Pada halaman 58 buku ini membentangkan bahwa Yahudi mulai suka pada Obama karena banyak kenyataan Obama secara terbuka mendukung Israel. Berikut Cuplikan pidato Obama di hadapan forum AIPAC yang mempertegas dukungannya kepada Israel:
Saya tahu ketika saya mengunjungi AIPAC, saya berada di tengah-tengah sahabat-sahabat saya. Sahabat baik. Sahabat yang bersama komitmen saya yang kuat akan memastikan jalinan antara Amerika Serikat dan Israel: tak dapat diretakkan hari ini, tak dapat direkatakkan besok, tak dapat diretakaan selamanya
[]
Bahwa jalinan antara Amerika Serikat dan Israel berakar lebih baik dari kepentingan nasional bersama. Yang berakar pada nilai-nilai bersama dan kisah bersama orang-orang kami. Sebagai Presiden, saya akan bekerjasama dengan Anda untuk memastikan bahwa ikatan ini adalah ikatan yang kuat.
[]
Saya memahami ide ziones yang selalau menjadi tanah air dan pusat kisah kita
[]
Kita tahu bahwa pendirian Israel sungguh tepat dan penting. Berakar pada perjuangan berabad-abad dan berpuluh-puluh tahun upaya sabar. Tetapi enampuluh tahun kemudian dan kami tahu kita tidak dapat menyerahkan. Dan sebagai presiden, saya tidak akan pernah berkompromi ketika datang untuk keamanan Israel
[]
Hamas sekarang mengontrol Gaza. Hizbullah telah mengencangkan kekuasaannya di Libanon Selatan, dan melenturkan kekerasannya di Beirut. Karena perang di Raq, Iran selalu menciptakan ancaman yang lebih besar bagi Israel daripada Iraq. Yang memberanikan dan menjadi tantangan strategis terbesar bagi Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah dalam sebuah generasi. Iraq tidak stabil dan Al-Qaidah telah melangkah hingga rekruetmen. Pencarian dan perdamaian Israel dengan tetannganya telah diberhentikan. Meskipun beban berat dipikul oleh rakyat Israel. Dan Amerika lebih terpencil di daerah itu. Mengurangi kekuatan kita dan membayakan keamanan israel.
[]
Itulah sebuah data yang bernada miring untuk Obama, tampaknya kandungan data miring itu, jumlahnya puluhan. Oleh karenanya buku ini tepat dijuluki kumpulan data miring tentang keperpihakan Obama kepada Israel. Mungkin buku ini juga bisa untuk membakar jengggot, karena ada tulisan-tulisan yang menyengat, tulisan-tulisan itu antara lain:
()
Dulu Bush, Sekarang Obama. Haruskah Tertipu lagi?
[halaman 25]
[]
Obama adalah Presiden Yahudi Pertma Amerika
[halaman 41]
[]
Lebih ganas Daripada Bush!
[halaman 63]
[]
Casing Beda, Prosesor
[halaman 65]
Data buku
JUDUL: Obama Presiden AS pertama 100% Yahudi
PENULIS: Tony Timur Ahmad
EDITOR: Mustarom
PENERBIT: Jazera Po.Box 174 Solo Telp: 0271-7653000. E-mail: jazera@telkom.net. Website: www.jazera.or.id
ISBN: 978-979-26-6317-4
TEBAL: 96 hlm : 21 cm
CETAKAN: Pebruari 2009

Wednesday, March 18, 2009

PERANG RI-1--KANDIDAT CALON PRESIDEN RI

Ramainya "pencapresan" membuat warung buku ikut sibuk menyanjikan menu terkait, beberapa waktu yang lalu sudah dihidangkan buku yang bertajuk INILAH CAPRES 2009-Taufik Adi Susilo. Kini warung buku telah menemukan buku bertajuk "PERANG RI 1--Kandidat Calon Presiden". Desain buku ini hampir sama dengan kumpulan "curriculum vitae" sang kandidat, dan dilengkapi selitas peta kekuatan masing-masing calon. Buku ini lahir didukung sumber berita yang diendus dari dunia maya. Sekitar 148 situs internet dan beberapa media cetak mendukung terciptanya buku ini.
Ketika suhu politik masih dalam kondisi suam-suam kuku, bursa capres tidak ramai dan didominasi muka-muka lama dan "tua". Dari Susilo Bambang Yudhoyono [SBY], Jusuf Kalla [JK], Megawati Soekarnoputri, Gus Dur, Wiranto, dan Sutiyoso. Dari calon-calon itulah buku ini mengatakan "setali tiga uang", ternyata pada akhirnya ramai juga.
Buku ini mencermati seperti tahapan fisis, dari nol derajat hingga ke seratus derajat, dari suhu politik yang masih suam-suam kuku, ke suhu yang hampir mencapai titik didih. Mulai dari kasak-kusuk internal partai, hingga prediksi lembaga survey.
Kini calon sudah membanjir, melalui berbagai ranah mengejar barokah, dari kasak-kusuk internal partai, seperti PDIP telah merilis 12 nama yang bakal bertarung dalam Pilpres 2009 menghadapi ketua umumnya. Beberapa nama itu adalah, Hidayat Nurwahid [Ketua MPR], Prabowo Subianto [Ketua HKTI], Akbar Tanjung [Mantan Ketua DPR], Jimly Ashidiqie [Mantan Ketua MK] da Soetrisno Bachir [Partai PAN]. Kemudian dari kubu raksasa lain yaitu Golkar muncul wacana untuk mengusung calon presiden dari kader sendiri. Calon-calon tersebut berasal dari Dewan Pimpinan Pusat [selain Jusuf Kalla ada Agung Laksono dan Muladi], Dewan Penasehat [Surya Paloh, Fahmi Idris, dan Aburizal Bakrie], dan tokoh diluar partai [Akbar Tanjung, Sultan HB X, Jimly Assidiqie, dan Din Syamsudin]. Tentunya masih banyak lagi yang dikupas buku ini.
Buku ini membagi capres dalam dua kategori, yang pertama dinamai "Sepuluh Besar Yang Bercongkol, dan kategori dua "Kuda-kuda Hitam Yang Mencari Peluang"
Nama-nama Capres terkategori "Sepuluh Besar":
  1. Susilo Bambang Yudhoyono
  2. Megawati Soekarno Putri
  3. Jusuf Kalla
  4. Jenderal [Pur] Wiranto
  5. Dr.Ir. Akbar Tanjung
  6. Hasyim Muzadi
  7. Sutiyoso
  8. Din Syamsuddin
  9. KH. Abdurrahman Wahid
  10. Sri Sultan Hamenku Bowono
KUDA-KUDA HITAM YANG MENCARI PELUANG
  1. Abu Bakar Ba'syir
  2. Aburizal Bakrie
  3. Adyaksa Dault
  4. Agung Laksono
  5. Agustin Teras Narang
  6. Anies Baswedan
  7. Bambang Sudibyo
  8. Dita Indah Sari
  9. Fadel Muhammad
  10. Gumawan Fauzi
  11. Hatta Radjasa
  12. Hidayat Nur Wahid
  13. Iman Addaruqutni
  14. Jeffrie Giovanie
  15. Jenderal [Pol] Sutanto
  16. Jimlie Asshiddiqie
  17. Muladi
  18. Prabowo Subiyanto
  19. Sarwono Kusumaatmadja
  20. Sinyo Harry Sarudajang
  21. Soetrisno Bachir
  22. Surya Paloh
  23. Tifatul Sembiring
  24. Yuddy Chrisnandi
  25. Yuddy Latif
  26. Yusril Ihza Mahendra
  27. Zulkifli Nurdin
Data Buku
JUDUL: Perang RI 1 [Para Petarung yang Merebutkan RI 1]
PENULIS/PENYUSUN: Floriberta Aning Sriwahyuntari
PENERBIT: Navila Idea. Jl. Pakelmulyo UH V/411. Golo, Umbulhardjo Yogyakarta. Telp:0274-377034. Email: Navila_book@yahoo.com
TEBAL: xii+208 - 14 x 20,5 cm
ISBN: 978-979-3065-05-2
CETAKAN : 1 Februari 2008
Catatan: Buku ini hanya satu bab, dan ketika menuliskan kategori capres, nama Prabowo Subianto, tertulis Prabowo Sutiyoso, dan nama Prabowo masuk dalam dua kategori. Masuk capres kategori "Sepuluh Besar Yang Bercongkol", dan kategori " Kuda Hitam"

Tuesday, March 17, 2009

GER-GERAN LAGI BERSAMA GUS DUR



SAYA NGGAKMAU JADI PRESIDEN KOK!

Kata buku ini, di Amerika Serikat, saling ejek dengan ungkapan-ungkapan humoristik acapkali berlangsung di musim kapanye, baik kampanye kepresidenan, maupun kampanye kongresional atau senatoral. Panggung kampanye pun jadi meriah, tanpa perlu menghadirkan pelawak atau orkes dangdut. Sidang-sidang Kongres atau Senat pun sering jadi segar oleh sisipan jenaka dalam pidato-pidato serius. Mereka tak mengkhawatirkan kemerosotan wibawa hanya karena melotarkan humor, termasuk saat membahas masalah-masalah penting. Wal hasil para pemimpin biasa mengejek lawannya dengan kemasan humor, sehingga sang lawan hanya bisa menyembunyikan kejengkelannya dengan senyum kecut. Kalau dia cukup invatif bin kreatif, dia bisa membalasnya dengan joke juga; yang kuarng imaginatif bisa menyewa pakar public relation untuk menciptakan humor khusus buat keperluan-keperluan tertentu.Buku ini rupanya ingin memberikan tuntunan, sekalipun bukan buku yang didesain untuk mengajar joke politik, namun sebagai wahana mengembangkan imaginasi barangkali buku ini sanggup menginspirasi.Masih menurut buku ini, Abdurrahman Wahid dianggap personalitas yang piawai dan soal menyoal "perguyunan-politik", bahkan dinyatakan satu-satunya "bintang" Indonesia. Jauh sebelum menjad presiden, dialah aktivis politik yang paling rajin dan kreatif memproduksi humor untuk menyindir penguasa. Sebagian besar guyonan itu terlihat jelas diadaptasinya dari lelucon serupa dinegeri lain,khususnya negara-negara komunis Eropa Timur. umor politik memang punya hubungan kerabat degan ketertindasan. Sekitar 70-an kandungan humor yang ada di buku ini menggambarkan sensasi yang beraroma politik, tentunya dikait-kaitkan dengan Gus Dur.
Data Buku
JUDUL: Saya Ngaak Mau Jadi Presiden Kok--Ger-gean Lagi Bersama Gus Gur
PENULIS: Hamid Basyaib dan Fajar W. Hermawan
PENERBIT: AlvaBet Komplek Triloka No. 18 Pancoran Jakarta Selatan Telp: 021-7945561. E-mail : ridee@cbn.net.id-- alvabet@alvabet.com --web ; www.alvabet.com
CETAKAN: I-JUni 2001
TEBAL: 126 halaman, 17 cm
ISBN: 979-9502-02-0