SILA CARI DI SINI!

Google

Monday, May 5, 2008

BUNG KARNO BERKATA: WARTAWAN HARUS BANYAK MEMBACA!

BUNG KARNO BERKATA: WARTAWAN HARUS BANYAK MEMBACA!
BUNG KARNO SENANTIASA BERTERIAK:
“hadiahkanlah buku padaku” –“Carikan buku untukku”
[buku ini dikais dari komunitas buku lama Kota Malang, Jl. Sriwijaya Malang. depan Stasiun Kota Baru]
Ketika Panitia Upgrading-Wartawan anggota PWI menghadap Bungkarno di Istana Bogor pada tanggal 11 Januari 1966, ditandaskan oleh Bung Karno:“ Para wartawan agar berhati-hati dalam melakukan tugasnya. Saya tegaskan agar para wartawan Indonesia mengadakan instrospeksi dalam menjalankan tugasmya. Adakanlah penilaian yang obyektif terhadap tugas-tugas kewartawanan dalam rangka mengabdikan diri kepada masyarakat dan revolusi . Untuk ini, para wartawan hendaknya banyak membaca dan menambah wawasan pengetahuan sehingga akan dapat menguasai berbagai persoalan dalam rangka menunaikan tugas sebaik-baiknya"
Dalam hal ini Bung Karno telah menggariskan lima soal:
  1. Wartawan berhati-hati dalam melakukan tugas
  2. Wartawan haruys mengadakan instropeksi
  3. Wartawan memberi nilai dalam mengabdi kepada masyarakat dan revolusi
  4. Dalam melakukan tugas wartawan harus menambah pengetahuannya
  5. Untuk mencapai tujuan di atas, wartawan harus banyak membaca.

Tulisan di atas diambil dari buku H.A. Notosoetardjo, “Peranan Wartawan Dalam Revolusi Indonesia", Penerbitan Bersama “Endang”—“Pemuda”—Api Islam” Jakarta 1966. Buku ini sebenarnya berjilid. Di warung hanya tersedia satu jilid. Jilid I.

Adapun yang dibahas dalam buku ini antara lain.

  • Wartawan dan” Stommelingen”
  • Wartawan dan Matahari
  • Wartawan danb Kendil Guling
  • Wartawan dan Up-Grading
  • Wartawan dan Tiga-Periiode
  • Wartawan dan Membaca
  • Wartawan dan Propaganda
  • Wartawan dan Publikasi
  • Wartawan dan Buku.

[Warung ingin mengurai dari dua bab yakni: "Wartawan dan Membaca" dan "Wartawan dan Buku". Karena dianggap masih bersangkut-paut dengan bahasan “menulis” ]
BUKU INI MEYAKINKAN BETAPA PENTINGNYA MEMBACA

Untuk sekedar meyakinkan lagi tentang peranan membaca dapatlah ditarik pelajaran dari simpulan-simpulan empirik berikut :
Multatuli berkata : “ik ken zeer weinig mensen die lezen kunnen” –saya mengenal sedikit sekali jumlah orang yang bias membaca.
Maksudnya, memang banyak orang yang suka membaca, tapi sedikit yang mengerti memetik hasil bacaannya itu.
Emerson berkata: “There is creative reading as well as creative writing” –“Ada orang membaca dengan daya cipta, seperti orang menulis yang juga dengan daya cipta”. Maksudnya membacalah dengan penuh daya cipta, dengan penuh mendapatkan manfaatnya”
Willmott berkata : “A good reader is nearly as a rare as a good writer”—Jarang sekali orang yang bias membaca seperti jarangnya orang yang bias mengarang. Maksudnya bahwa membaca itu juga serupa dengan seni yang berbakat, bila tidak demikian ia akan memetik hasil dari apa yang dibacanya.
Mme de Warens berkata: “Valen lezen, maar weinigen kunnen lezen” – Banyak orang membaca tapi sedikit sekali yang dapat membaca. Masudnya, memang orang yang suka membaca, tapi sedikit sekali yeng tahu caranya membaca
Jaquin Setani berkata: “Wie leest met het doel te laken, verknoeit zijn tijd” – Siapa yang membaca dengan maksud mencela, ia hanya menghabiskan waktunya belaka. Maksudnya, kalau ia membaca dengan bertolak pikiran akan meng-apkirkan apa yang dibacanya, berarti orang itu hanya akan mensia-siakan waktunya.

J.Joubert berkata : “Men kan onmogelijk zeer geleerd worden als men allen maar lees twat behaagt” – Kita tidak mungkin menjadi orang yang berpengetahuan. Kalau kita hanya membaca apa saja yang kita senangi. Maksudnya, bacalah apa saja yang bisa menambah pengetahuan kita, dan jangan membaca sesuatu yang hanya khusus tertarik untuk diri sendiri.
Scoot berkata: “Better waren zij nooit geboren, die lazen om te twijfelen of om te smalen”—Kebaikannya tidak akan lahir, bila ia membaca dengan penuh keraguan dan penuh celaan –Maksudnya, membaca sesuatu itu harus dengan sepenuh hati dan minat, jangan dengan keraguan dan merendahkan, supaya mendapatkan manfaatnya.
Noah Porter berkata : “No man can read with profit that which he cannot learn to read with pleasure “ “Tak seorangpun dapat memetik nbuah dari bacaannya, bila ia tidak belajar membaca dengan penuh kegairahan”. Maksudnya, membaca itu harus dengan penuh minat, bila tidak demikian maka tidak akan diperoleh hasil apapun.

AKU BISA MENULIS : Panduan lengkap Menulis Kreatif Lengkap.


Niat itu ternyata seperti air bah, yang dapat meluber kemana, saja. Dan membuat orang menjadi tergetak untuk untuk bangkit dan bergerak menuju puncak.
Ketika niat direspon dan terus di rawat dengan cermat, pasti dan pasti akan melahirkan sebuah karya yang hebat. Itulah yang inti dari tulisan Didik Komaidi dalam bukunya yang berjudul “AKU BISA MENULIS”, sebuah buku yang memposisikan dirinya sebagai Panduan Praktis Menulis Kreatif Lengkap. Buku ini membagi sajiannya ke dalam tiga wilayah sajian.
Pertama, Teori dan Motivasi, dengan bahasan:

  • Pentingnya keyakinan dan niat
  • Proses kreatif menulis
  • Manfaat menulis
  • Dari kegigihan menuju kesuksesan
  • Bagaimana menejadi penulis professional
  • Bagaimana mencari inspirasi
  • Menulis gaya quantum learning
  • Cara membuat judul
  • Kiat memperlancar menulis
  • Cara mengutip sumber
  • Mencicil atau mengkredit tulisan
  • Menulis dengan emosi
  • Memperbaiki naskah yang ditolak
  • Manajemen Waktu menulis
  • Menulis agar awet muda dan terapi stress
  • Menulis dan menerbitkan buku
  • Kata-kata yang menggugah
  • Cara mengirim naskah tulisan
  • Berhubungan dengan editor dan redaktur
  • Alasan dan halangan menulis
  • Belajar dari Penulis tip dunia
  • Menulis dan menjadi kaya
  • Kiat menghidari hambatan menulis
  • Menyunting atau mengedit tulisan
  • Selalu belajar dan berkarya.

Kedua : Praktik dan Jenis tulisan:

  • Apa itu jurnalistik
  • Meliput berita dan wawancara
  • Menulis Featrure
  • Artikel ilmiah
  • Esai
  • Karya tulis
  • Makalah
  • Opini
  • Kolom
  • Menulis jurnal
  • Cerpen
  • Novel
  • Naskah drama
  • Naskah scenario film
  • Menulis buku
  • Menullis catatan harian
  • Menulis Cacatan harian
  • Menulis surat

Ketiga, Bonus Alamat Media Massa:

  • Surat kabar
  • Jurnal
  • Rumah Produksi

JUDUL: Aku Bisa Menulis : Panduan Praktis Menulis Kreatif Lengkap
PENULIS : Didik Komaidi
PENERBIT: Sabda Media. Jl. Ngestiharjo Blok III RT 13 RW 05 Wates, Kulon Progo, Yogyakarta 55651. Telp. [0247] 7155157 E-mail: sabdamedia007@yahoo.co.id
ISBN: 978-15700-1-6
CETAKAN : II Pebruari 2008
HALAMAN: xvi + 288.
PENTINGNYA KEYAKINAN DAN NIAT SEBAGAI ENERGI MENULIS
Dalam segala hal penting seklai adanya keyakinan dan niat, seorang-orang muslim mengatakan nawaitu=niat yang sunguh-sungguh. Tanpa adanyan keyakinan dan niat, pekerjaan apapun tak akan selesai sampai kapanpun.
Menurut, Tung Waringin Desem, keyakinan adalah sesuatu yang kita yakini dan hidup di dalam batin kita, yang entah secara sadar atau tidak, menentukan sikap-sikap dan tindakan kita. Niatan inilah yang menjadi tenaga pembangkit, apalagi kalau niatan ini dinjeksikan ke diri kita setiap hari, maka semuanya akan menjadi selesai dan menunggu tempo. Jika hal ini terjadi maka proses kreasi yang mudah dijalani, dan akan memberikan birahi-birahi lain yang lebih kreasi.
APA ITU PROSES KREATIF:
Buku ini mengungkap lewat pendapat “William Miller yang mengatakan, bahwa proses kreatif menulis itu terbelah menjadi 5 serpihan.
Pertama, adalah tahap persiapan. Dalam tahapan ini seorang penulis telah menyadari apa yang akan ditulis dan bagaiman ia akan menuliskannya.
Kedua, adalah tahap inkubasi. Pada tahapan ini agagasan yang telaha muncul tadi disiapkan dan dipikirkan secara matang , dan menunggu masa yang tepay untuk dilahirkan
Ketiga, saat inspirasi. Inilah saat kapan bayi yang berwujud gagasan tadi di bawah sadar sudah mendepak-depakan kakinya ingin keluar, ingin dilahirkan.
Keempat, tahap penulisan. Kalau saat inspirasu telah muncul maka segeralah almbil senjata tulis menuli, apa itu laptop, mesin ketik atau lainnya.
Kelima, adalah tahap revisi. Setelah “melahirkan bayi” gagasan di dunia nyata ini berupa tulisan, maka istirahatkanlah jiwa dan badan kita.
MANFAAT MENULIS.

Jika kemarin telah diposting sebuah buku dengan yang mengatakan manfaat menulis etyerkait dengan kesehatan, bahkan secara ekstrem dikatakan bahwa menulis itu menyembuhkan. Kali ini Didik Komaidi ingin membutktikan manfaat menulis dengan versi yang lain.
Pertama, kalau kita ingin menulis pasti menimbulkan rasa ingin tahu [curioscity] dan melatih kepekaan dalam melihat realitas sekitar.
Kedua, dengan kegiatan menulis mendoron kita untuk mencari referensi seperti buku, majalah, koran, jurnal dan sejenisnya. Tentunya akan menambah wawasan
Ketiga, dengan aktifitcs menulis, kita terlatih untuk menyusun pemikiran dan argumen kita secara runtut, sistematis dan logis.
Keempat, dengan menulis secara psikologis akan mengurangi ketegangan dan stress kita
Kelima, dengan menulis kita mendapatkan kepuasan batin, karena itu tulisannya dianggap memberi manfaat kepada orang lain.
Keenam, semakin popular dan di kenal oleh public pembaca. Popularitas kadang membuat seorang merasa puas dan dihargai orang lain.
SUKSES LEWAT KEGIGIHAN:
Apa yang menyebabkan Anda gagal dan menyerah, tentunya Anda tak pernah mengantongi “jimat” yang bernama “niat”, bahkan yang dikantongi adalah “ijazah” bermateri “mudah menyerah”, apalagi plus bonus “putus dengan asa seratus”.
Seorang-orang tidak pernah menyadari dan memahami, jika banyak kegagalan hidup terjadi tatkala keberhasilan nyaris tertangkap tangan. Itu kata Alfa Edison.
Menurut Wenance, kegagalan dapat dibagi dua sebab:
Pertama , seorang-orang yang berpikir tapi tak pernah bertindak.
Kedua, seorang-orang yang bertindak tapi tidak pernah berpikir.
Terkait dengan masalah sukses dan gagal, lewat bukunya ,Didik Komaidi bersolusi:
Pertama: yang perlu disadari adalah niat atau tujuan kita menulis untuk apa?
Kedua, selalu belajar dari mana saja dan siapa saja
Ketiga, jangan mudah menyerah, tetapi rajin nan tekun, bahkan sampai berdarah-darah atau istilah Jawa dikatakan “nggetih”, istilah pondoknya “istiqomah”
Keempat, berbuat lebih baik, kendati harus menerima apa adanya, istilah pondoknya “qanaah”.
RESEP DIDIK KOMAIDI DALAM MENGGALI IDE
Inspirasi adalah sesuatu yang mendorong seseorang untuk berbuat. Dalam konteks tulisan, ispirasi adalah sesuatu yang mendorong untuk menuangkan gagasan ke dalam bentuk tulisan.
Buku ini bersolusi dalam mengundang hadirnya inspirasi, antara lain:

  1. baca kitab suci
  2. baca buku
  3. baca kamu
  4. terbitan berkala
  5. memancing atau lihat suasana yang lain
  6. menentukan perioritas, misalnya mana yang lebih penting menghabiskan waktu dengan santaia atau menajamkan kemampuan tulis kita?

KATA-KATA PENGGUGAH DAN PENCERAHAN
“Menulislah—pada saat awal—dengan hati/emosi, setelah itu perbaiki tulisan Anda dengan pikiran. Kunci pertama dalam menulis adalah bukan berpikir, melainkan mengungkapkan apa saja yang dirasakan”
[William forester]
“Mulailah dengan menulis hal-hal yang engkau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri. Itulah yang sdaya lakukan”
[J.K.Rowling, penulis best seller international Harry Potter]
“Saya menulis hampir setiap hari. Kadang saya menulis selama sepuluh atau sebelas jam. Pada hari lain, saya hanya menulis selama tiga jam”
[J.K. Rowling]
“Aku temukan bahwa semakin jauh aku mundur, semakin baik aku mengingat segala sesuatu, baik yang terjadi maupun yang tidak “
[Markt Twain]
“Sastra adalah penciptaan. Fiksi adalah fiksi. Menyebut sebuah cerita sebagai kisah sejati merupakan penghinaan bagi seni maupun kebenaran “
[Vladimir Nabokov]
“Imajinasi tanpa realitas akan membusuk”
[Angela Carter]
“Permainanlah, bukan kepatutan, yang menjadi urat nadi, yang menjadi batang otak, dari kehidupan kreatif”
[Clarissa Pinkola Estes]
“Semua bahan untuk karya sastra tidak lain adalah kehidupan masa lalu saya”
[Marcel Proust]
“Tentunya, di lubuk hati, segala yang ditulis oleh penulis harus merupakan bagian dan berasal dari diri penulis sendiri….ya ampun, tulislah tentang sesuatu yang tidak Anda ketahui! Karena, dengan cara apalagi Anda bias memainkan imajinasi Anda?”
[Graham Swift]
Seniman sejati adalah orang yang tidak pernah menggangap remeh apapun
[Nabokov]

Aku hanya ingin dunia murni dari diriku dan tulisan, ketika tulisan layaknya suatu religi”
[Barbara Hanrahan]

“Jika Anda ingin mencipta, Anda harus mengkorbankan kedangkalan, sedikit rasa aman, dan rasa ingin disukai. Anda harus menata awawasan ANda yang paling kuat, visi Anda yang paling jauh”
[Clarissa Pinkola Estes]

“Aku menulis bukan Karen aku memahami dunia, melaikan karena aku tidak memahaminya”
[Gereld Murnane]

“Ini hanya masalah ketekunan—dan sediklit bakat. Pokoknya jangan menyerah. Maka, permainan belum berakhir”
[William Kennedy]

“Ketika buku pertama saya diterbitkan, hari itu saya ahabiskan dalam mimpi bahagia”
[Enid Bagnold]

“Saya banyak mencatat. Malah, bukucatatan saya sudah tyerlalu tebal sehingga kurang menyenangkan. Memang saya punya naluri yang langsung bereaksi begitu saya mengenali hal-hal yang bias dimasukkan ke dalam sutau buku yang belum saya tulis”
[David Foster]

“Orang yang kembali ke buku harian adalah orang yang mencari dirinya, penyususran jalan menuju pengembangan dan kesadaran, jalan menuju kreativitas”
[Anais Nin]

“Begitu pikiran bekerja, tangan bergerak”
[Fay Weldon]

“Penyebab utama kematian prosa adalah tidak adanya kecintaan penulis terhadap tulisannya”
[Carrilo Mean]

“Ketika menulis, separo yang Anda lakukan secara tidak sadar, dan tugas Anda adalah menata kegiatan bawah sadar ini”
[Christopher Koch]

“kalau saya bercerita, saya suka menempatkan adegan yang sedang saya tulis di depan saya. Hal itu membuat saya lebih akrab dengan apa yang terjadi dan membantu saya masuk ke dalam tokoh-tokohnya “
[Umberto Eco]

“Pujian terbesar untuk karya saya tertuju kepada imajinasi, padahal sebenarnya tidak satupun baris dalam karya saya yang tidak berpijak pada kenyataan”
[Gabriel Garcia Marquez]

“Saya baru menyadari saat saya mulai menulis betapa banyak yang saya tidak ketahui bahwa saya tahu, dan ketika saya mulai menulis, ia keluar secara refleks”
[Mary Lavin]

“Menulis tentang hal-hal yang negatif akan memberikan pelepasan emosional yang membangkitkan rasa puas dan lega”
[James W. Pennebaker]

“Dan saya sungguh percaya bahwa cara belajar untuk memulai menulis adalah dengan meniru teknik menulis orang lain”
[Berttrang Russel]

“Menulislah dengan alasan apapun asal bukan untuk meremehkan”
[Stephen King]

“Man jada wajada [pepatah Arab: barang siapa sungguh-sungguh akan memperoleh apa yang dinginkan]”

DIBALIK KESULITAN ADA KEMUDAHAN [PELUANG]
[AL QURAN]

Saturday, May 3, 2008

MENULIS SANGAT MUDAH

Seperti biasa menu di warung ini belum beringsut dari masalah-masalah tulis menulis, kesempatan yang di undang untuk tampil kali ini, adalah karya Ersis Warmansyah Abbas.
Di Warung masih terdapat satu buku lagi dengan judul “Mari Menulis”, merupakan karya Ersis, namun untuk kali ini belum diberi kesempatan untuk nonggol sebagai sajian. Kesengajaan warung dapat dibaca, bahwa berkaitan dengan Hari Pendidikan Nasional ini, warung bernafsu sekali untuk membahas budaya menulis dengan berbagai dimensi motivasinya. Oleh karenanya pengunjung warung harus sabar , jika sepekan ke depan sajian berkutat masalah menulis.
Hari Pendidikan Nasional sebagai wahana tepat untuk mengingat, bukankah pendidikan difungsikan menjaga peradaban , dan budaya menulis adalah pengawalnya.
Warung terpaksa minta maaf kepada pengujung, yang beda selera, namun ini hanyalah sementara.
SAMPUL BELAKANG BERTERUS TERANG:
Lumayan menggugah, kata-kata yang tertulis di belakang sampul ini. Laik dibaca oleh semua orang, apakah yang berminat menulis, atau seorang-orang yang senang berbicang.
Kata-kata itu “menggendam’, setiap pembaca akan terkena, namun yang terlena tetap pada pusaran lama, yakni tidak menulis sama sekali.
Isi tulisan itu:
[Menulis tidak perlu belajar, berguru, mengikuti kursus, orientasi, penataran atau apapun namanya. Apalagi sampai belajar kepada mereka yang secara factual tidak perbnah menulis atau produktivitasnya mandul.
Bagaimana agar fasih menulis?
Tulis apa yang hendak ditulis, pasti jadi tulisan] (Ersis Warmansyah Abbas)

[Banyak buku tuntunan menulis di pasaran. Namun, jika buku-buku itu membuat Anda justru jadi takut menulis, tinggalkanlah!
Berpalinglah kepada buku yang membuat Anda termotivasi untuk menulis](Dr. Jumadi, Dosen Unlam)
Pencandraan agar terasa lebih mak-nyus, warung dengan terpaksa memaparkan kata pengantar buku, yang dianggap punya fungsi memacu. Jika dalam pengantar itu terdapat kritik yang menggelitik, anggap saja jarum sutik yang berisi serum agar kesehatan piker menjadi cantik.


MENULIS ITU PERADABAN YANG OK, KALAU TIDAK YA PRIMITIF
Baru saja halaman perhalaman buku ini dibuka, ternyata buku ini dihantarkan oleh Dr.Jumadi, pengantarnya di beri judul “Mengapa Kita Perlu Menulis? Dalam kata engantar dinyatakan, bahwa dalam perspektif antropologi, ternyata penggunaan bahasa tulis berbanding lurus dengan tingkat peradaban suatu masyarakat. Artiya , semakin intensif suatu masyarakat mengungkapkan gagasanya secara tertulis, semakin tinggi pula tingkat peradabannya. Buku ini tentunya menohok seorang-orang yang jarang dan sangat jarang menulis, identik dengan peradabannya yang primitif


Masih mau disebut primitif? Anda tentunya menolak. Namun menolak tanpa ada perubahan sama dengan bonek. Bagaimana tidak bonek, kelakukan tidak berubah, tapi rasa tersinggung bertambah.
Mengubah citra diri: jadikan menulis sebagai bagian hidup, adalah jalan yang paling bijak dan bermartabat.
Profesi ”Umar Bakri” juga disebut-sebut, bahkan sampai ”Umar Bakri Besar” alias Guru Besar, konon dianggap pelit dalam berbagi ilmu. Buktinya senang ”ngomong” ketimbang menulis.
MENULIS ITU PENYUCIAN JIWA:
Seandainya Chomsky dan Socrates hanya menyampaikan gagasannya melalui omongan, berapa orang yang bisa mengakses pikirannya? Dengan bukunya, Chomsky dan Socrates memilih jadi Guru yang dermawan daripada guru pelit.
Selain menjadi guru dermawan, ternyata penulis juga bisa membuat penyadaran, seornag penulis juga dapat memberikan katarsis, penyucian jiwa akibat kepenatan urusan dunia.
”BERAK” KOK JADI TEORI”:
Ersis itu memang penulis cerdas, tapi kenakalannya dibilang lumayan inovatif, kenakalan nya itu adalah membuat teori terkait dengan ”berak-memberak”.
Katanya, kalau kita banyak makan akan menumpuk di lambung. Mesin lambung akan bekerja menggilingnya, mana yang baik dijadikan ”makanan” tubuh, yang lainnya jadi ampas. Juntrungnya terori berak made in Ersis ini adalah, jika orang yang banyak membaca, hasilnya tulisan berjuta-juta. Tentunya akan terjadi jika seorang-orang tidak makan, hasilnya hanyalah ”kentut” saja.
[Warung berupaya mengintepretasi, jika seorang-orang tidak membaca, mungkin tulisannya seperti kentut. warung punya saran, sebaiknya teori berak ini di ganti saja dengan teori kentut ]


Jadi, kalau bermaksud menjadi penulis, ya banyak membaca. Harus banyak masukan ke otak.


Kalau punya entry behavior yang cukup pasti menulis jadi mudah.


MEMOTIVASI DAN BUKAN MENGGURUI:
Kalau ingin menulis dengan enteng, mudah dan tidak membebani, ambilah manfaat positif. Rangkaian tulisan arahkan ke ranah motivasi ketimbang menggurui. Syarat cerdas menulis yang ditawarkan cukup sederhana, menulis adalah urusan pribadi. Kalau mau nulis, tulis saja, pasti jadi tulisan.
MENULIS MUDAH TERNYATA ADA ATURANNYA:
Membaca dan membaca: Jadikan membaca sebagai kebutuhan. Kalau tidak mampu membeli buku, surat kabar atau majalah, maka rajin ke perpustakaan adalah suatu kewajiban. Lebih cerdas bila membiasakan diri ”berselncar di depan PC’ alias ”ngenet’ Prinsip yang dikedepankan adalah, membaca, membaca dan terus membaca.
Jangan bertanya: Jangan bertanya pada siapa saja tentang menulis. Penulis pasti memiliki gaya tertentu dan tidak mudah ditiru. Ingat banyak orang yang terlalu banyak bertanya hingga kehilangan waktu menulis.
Ada lagi yang super lucu. Seorang-orang mengikuti penataran menulis. Gilanya, Si penatar belum pernah menulis buku. Coba pakai logika sederhana, mungkinkah orang yang tidak pernah menulis, ’mengajari’ bagaiman cara menulis?
Terlahir sebagai orang pintar: ”born to be a genius”. Kini tinggal meyakinkan diri, menguatkan tekad, dan mengaplikasikannya dengan semboyan ”motivatif”: SAYA PASTI BISA.

Friday, May 2, 2008

KIAT-KIAT KREATIF PENULIS MUSLIM


Warung tertarik untuk mengulek, merebus dan sekaligus menyajikan, hidangan yang ada citarasanya “muslim”. Bukan maksud memilah-milah, selama ini yang ada di supermarket buku, depo buku, restoran buku, dan komunitas buku lama belum dijumpai citarasa lain. Barangkali jika warung menemukan bahan yang bercitarasa lain, tentu akan diulek juga. Warung sangat menghindari julukan “sektarian”, maklum warung ini seperti rumah sakit yang ketika menerima pasien, tidak akan bertanya, Suku, Agama, Ras, Warna Kulit, Jenis kelamin, ataupun Gender. Siapa saja boleh singgahm silakan nikmati, citarasa itu sangat pribadi.
Bukankah informasi akan mendulang prestasi, bukankah informasi meraut potensi. Maksudnya warung berbagi informasi itu penting, entah darimana asalnya, yang penting saringan dirapatkan sehingga tak menggoyahkan keyakinan.
Buku yang di Candra:
JUDUL : Kiat-Kiat menjadi Penulis Kreatif. [19 Upaya Menjadi Penulis Yang Kreatif]
PENULIS: H. Fuad Nashori
PENERBIT : Quranic Media Pustaka. Yogyakarta [Kelompom Adi Group]
ISBN: 979-99397-5-5
CETAKAN: Juli 2005
HALAMAN: xii + 118.
Buku ini kendati berukuran saku, isinya menggugah kalbu, dan membawa ke arah mutu. Citarasa muslimnya kental, bahkan judul secara tegas dicantumkan kata ”Muslim”. Namun warung membaca buku ini, terkesan memberikan informasi kepada siapa saja, Namun teristimewa yang muslim harus mengedepankan kalbu, dan selalu ingat pancaran Yang Maha Tahu.
Buku ini sebenarnya lahir dari karya tulis yang dinduksi dari hasil penelitian. Titik beratnya adalah psikologi Islami. Sebagai karya telah mantap, menurut ceritanya pernah di jadikan Poster Ilmiah dalam Konggres Ke-9 Himpunan Psikologi Indonesia [Himpsi] di Surabaya , 15-17 Januari 2004. Bahkan pernah pula dipresentasikan di Kuala Lumpur pada International Conference on Islam dan Muslims, tanggal 3-6 Agustus 2004.
HADIRNYA PROSES KREATIF YANG ISLAMI:
Buku ini mendeklarasikan bahwa proses kreatif yang dijalani oleh penulis Muslim utamanya dalam memperoleh ide-ide kreatif, disamping disandarkan pengalaman empiris, kontemplasi, Namur nur Illlahi adalah sumber ide yang tak pernah henti.
Psikologi Islami mempercayai bahwa ide akan lebih mudah diperoleh bila hati seorang-orang dalam keadaan bersih atau bening. Inilah sebuah pancaran, yang harus memperoleh posisi paling depan, jika kita mengakui penulis yang Islami, inilah yang menkondisikan nuari dalam berkiat.
PENDAPAT IBNU SINA & HANNA DJUMHANA:
Sangat beralasan ketika tokoh-tokoh Muslim terkemuka dirujuknya, sebagai bahan empiri yang ditangkap indera. Seprti Ibnu Sina maupun Hanna Djumhana Bastaman penulis Muslim Indonesia.
Ibnu Sina secara tegas menandaskan bahwa salah satu acara stimuli untuk menghasilkan ide kreatif adalah dengan melakukan ibadah. Dengan adanya ibadah seperti shalat, membaca kitab suci, berdzikir, dan berdoa, ternyata Ibnu Sina lebih lancar dalam memunculkan ide-ide barunya., bahkan memiliki tingkat kebenaran yang tinggi.
Hanna Djumhana Bastaman memperoleh sejumlah ide setelah intedns melakukan dzikir. Salah satu perkembangan menarik dalam beberapa dekade terakhir di Indonesia adalah meunculnya buku-buku yang laku keras di pasaran yang ditulis oleh penulis-penulis Muslim Indonesia.
PENGARUH RELIGIUSITAS TERHADAP KREATIVITAS:
Orang beragama maupun tidak beragama dapat menjadi kreatif adalah pernyataan yang benar, tapi belum lengkap. Itulah pernyataan H. Fuad Nashori, bidan buku ini.
Syarat menjadi pribadi kreatif adalah menggunakan potensi jiawanya alias akal, hati dan nafsu-secara optimal dan positif.
Thomas Alfa Edison, Issac Newton, Albert Einstein, bahkan Nietshe yang menganggap Tuhan telah mati, adalah orang-orang kreatif. Hal ini karena mereka mempergunakan modal dasar terutama akal dan nafsu.
Lalu apa yang membedakan antara orang-orang beragama dan yang tidak?
Orang-orang beragama [Islam] dimungkinkan optimal dalam menggunakan qalbu [hati nuraninya]. Optimasi ini dicapai melalui perbersihan qalbu. Proses pembersihan dan pemebingan hati nurani di samping dilakukan dengan lebih peduli kepada sesama [manusia dan alam], yang lebih penting aadalah dengan banyak melakukan perbuatan yang tulus-ikhlas kepada Tuhan. Keimanan yang kuat, ibadah yang rajin, amal sosial yang berbasis agama, dan pengalaman keagamaan yang kuat menjadikan qalbu seorang-orang dalam keadaan bersih. Kebersihan inilah menjadikan landasan yang memungkinkan seorang-orang memperoleh ide-ide kreatif, yakni ide-ide yang memilki tingkat kebenaran yang lebih tinggi atau lebih abadi.
KIAT-KIAT YANG DISARANKAN.
Dengan tetap menjunjung tinggi nilai religi, seorang penulis muslim dituntut pula untuk melakukan ikhtiar dalama bentuk:
  1. Membaca buku dan majalah
  2. Memperoleh ide karena ada pertanyaan orang lain
  3. Berdiskusi dengan teman sejawat
  4. Berdiskusi dengan keluarga
  5. Bertemu dengan orang lain yang lebih ahliBerdiskusi dengan orang yang berseberangan pendapat.

[Wusana kata: Warung mencermati buku ini, ternyata kuasa Illahi, akan membuka potensi dalam menggali dan menyisir ide, serta mampu merawat kesungguhan. Menulis dengan hati, menjadi acuan penting, karena ide selalu lahir dari hati yang bening. Itulah sebuah refleksi pemikiran warung. Jika kita berkontemplasi dan menambah qua pengalaman lewat bersilahturahim maka kedahsyat akan hinggap pada diri kita. Kewajiban menolong sesama ibarat mengasah kecerdasan, orang mengatakan kecerdasan spiritual, adalah kunci dari langkah arif. Langkah ini pula yang mengawal turunnya sebuah ide.
Qalbu, adalah yang memancarkan, tetapi bintang pengarah tetap tersandar karena kehandak Allah Yang Maha Esa. Qalbu yang bersih, selalu berkonsekuensi pada potensi diri, dan akhirnya menetas dalam kisaran produktivitas.
Kita tidak boleh memungkiri, Romo-romo yang juga bening qalbunya, ide akan hadir dibenaknya. Kita juga banyak melihatmya. Almarhum Romo Mangun, hebat tulisanya dan produktivitas juga tidak teragukan; Romo Dick Hartoko, juga santun dalam tulisannya, Romo Frans Magnis Suseno juga demikian]

101 WRITING BUSINESSES YOU CAN START FROM HOME : Berani Nulis, Berani Kaya

BERANI NULIS, BERANI KAYA: 101 Writing Businesses You Can Start From Home.
Untuk sekian kalinya R.Masri Sareb Putra, berkreasi, namun untuk saat ini karyanya bikin heboh. Jika tidak boleh dikatakan bombastis, karya ini dapat dikatakan mengigit, tentunya yang digigit adalah etos pembacanya. Buku ini rupanya, secata terang-terangan berupaya mengagitasi khalayak bacanya. Orang mulai membayangkan bahwa hanya berawal dari rumah, mampu menggetarkan dunia. Inilah bahan agitasi yang cukup menggetarkan.
Kekuatan buku ini terletak pada kemampuan mengoptimalkan sebuah kecerdasan, yakni kecerdasan linguistic, sebuah kecerdasan yang dianggap sama sebagai ketrampilan [skill] dalam menulis. Ketrampilan ini disosialisasikan sebagai “word-smart”.
Perwajahan buku terkesan sederhana, setelah melihat isi, orang akan mengubah penilaiannya. Ternyata dibalik perwajahannya yang sederhana tersimpan motivasi dan nilai-nilai kecerdasan yang tiada tara. Indikator yang nampak sebagai kekuatan, adalah ketika halam pembukanya terpampang sebuah “lead” yang tertulis, “Business Never Die”, sebuah jargon yang mantap, oleh karenanya judul buku ini dengan berani mengatakan , “Berani nulis, berani kaya”
Dalam memperkuat alasan dan pemahaman buku ini menjelaskan secara rinci berbagai kecerdasan. Pertama kecerdasan yang berpautan dengan nalar manusia [ IQ] teori ini diendus dari buah pikir Alfred Binet dan Theodore Simon, ternyata mentah kita seorang-orang yang memilki skala IQ tinggi, belum tentu berhasil disegala sisi.
Kedua: Daniel Golemen, karyanya juga diparam oleh buku ini, hadirnya kecerdasan emosi / emotional Intelligence, ternyata mampu manarik kesuksesan. Mengapa orang dengan IQ tinggi tidak selalu sukses dalam hidup. Sementara orang yang ber-IQ biasa-biasa saja justru berhasil dalam hidupanya. Hal itu karena kekurangannya, memicu daya juangnya.
Ketiga: Buah karya Paul Stoltz yang dikenal dengan kecerdasan untuk mengatasi hambatan [Adversity Quatient]. Fungsi kecerdasan ini tentunya berpijak pada ukuran bagaimana seorang-orang merespon sebuah ahambatan. Dan di sinilah kemampuan mengurai, dan mengatasi hambatan dijadikan sebagai ukuran kecerdasan.
Keempat :Kita mengenal multi keceerdasan yang menjadi pencermatan Howard Gardner. “The ability to solve problem of fashion products that are valued in at least one culture.” Kecerdasan diposisikan sebagai kemampuan seorang-orang untuk mengatasi persoalan atau potensi untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai. Rupanya buah pikir Gardner ini, yang mengakomosadi “linguistic intelligence” atau [word smart].
Seorang-orang yang berada di domain ini berarti menyipan potensi untuk mengatasi masa depan.
Adapun multiple intelligences itu adalah:
  • Linguistic intelligence [word smart];
  • Logical-mathematical intelligence [number/reasoning smart]
  • Spatial intelligence [picture smart]
  • Bodily-Kinesthetic intelligence [body smart]
  • Musical intelligence [music smart]
  • Interpersonal intelligence [people smart]
  • Interpersonal intelligence [self smart]
  • Naturalist intelligence [nature smart]

Ini menujukkan bahawa word smart, yang lebih popular sebagai kecerdasan atau ketrampilan seorang-orang dalam menulis, telah lama di kenalkan. Persolannya apakah word smart itu sebuah talenta, merupakan kekhususan bagi seorang-orang, atau sebuah upaya yang dilakannya.

TERNYATA WORD SMART BUKAN BAKAT, TAPI USAHA..
Dalam berbagai literature, ketrampilan atau keahlian di bidang word smart disebut skill, bukan talent. Bahkan, boleh dikatakan, ketrampilan tersebut lebih kearah seni.
Buku ini memberikan contoh agar khalayak bacanya tidak bias dalam memahami skill dan talent. Diangkatlah sejarah Yunani kuno, yakni seorang-orang bernama Demosthenes yang dianggap gagap, namun karena secara terus menerus melawan kegagapannya, ia menjadi salah satu orator ulung sepanjang sejarah. Semestinya seorang-orang yang gagap menulis, jika dilawan terus menerus akan menjadi penulis ulung sepanjang sejarah.
Masih dalam kontek antara bakat dan usaha, pujangga terkemuka Perancis, Honore de Balzac, mengatakan, “menulis bukan talenta, melainkan ketrampilan yang bisa dipelajari oleh siapa pun. “When one has no particular talent for anything, one takes a pen,” demikian ungkapannya yang termashyur . Kata-kata bijak itu mnyiratkan, menulis [a pen] bisa dimanfaatkan siapa saja untuk memperoleh penghidupan. Sekali lagi menulis bukan suatu talenta, namun buah usaha seorang-orang, dalam bentuk ketrampilan yang dapat dipelajari dan diasah.
Kecerdasan verbal dan linguistic yang acapkali dijuluki word smart ini, ternyata mengandung dua aspek, yakni aspek lisan dan aspek tulisan. Buku buah karya R. Masri Sareb putra ini, hanya mengupas yang terkait dengan aspek tulisan.
Bagaimana, agar orang mengenalnya dan dapat disentuh oleh ketrampilan ini, buku ini memaparkan tahapannya.
Pertama, dengan memahaminya,
Kedua, menerapkan pemhaman itu
Ketiga, berlatih secara terus menerus, dengan berlatih ketrampilan akan diperoleh, setelah saraf-saraf otak mengalami pembiasaan.
CERDAS MENJUAL WORD SMART
Buku ini “mengkompori” siapa saja, word smart dikatakan sebagai bisnis dan profesi masa depan! Dengan menguasainya, seorang –orang akan mudah mendapatkan pekerjaan dan penghasilan. Tumbuh kembangnya media, baik cetak maupun eletronika, mengundang siapa saja yang sudah kepalang basah di ranah kecerdasan ini.
Triple relasi kekuatan dipaparkan, bahwa tiga pilar yang saat ini bersanding dengan mesra perlu ditekuni, pilar-pilar itu adalah, berpikir [thinking], …menulis [writing],…dan bisnis [business]. Segera sinergikan.
RANAH YANG MENGUDANG ANDA, MENJADI KAYA
Terdapat 101 undangan untuk seorang-orang yang memiliki ketrampilan menulis, yakni untuk dijadikan orang yang kaya raya.
PERHATIAN!
Warung dengan terpaksa tidak akan menuliskan, ranah kerja itu secara lengkap, karena kalau ditulis sangat panjang, dapat mencundangi penulis dan penerbitnya. Juga warung takut kalau tiba-tiba data statistic orang kaya di Indonesia berubah secara mendadak.
Ranah kerja yang dimaksud adalah:

  1. Adminstrator Web
  2. Buat artikel
  3. Bahan ceramah, karena hampir banyak Bupati, dan Walikota yang belum fasih dalam ceramah
  4. Buat biografi, pasti laris, sekarng musim PILKADA mungkin orang pingin cepat terkenal dan ikut pemilihan.
  5. Bookmark, membuat tulisan yang singkat, tapi mampu menggugah
  6. Bikin brosur
  7. Buku ajar
  8. Compony Profile
  9. Directory Apa dan Siapa
Ya…masih banyak lagi, kulau menurut buku ini jumlahnya 101 ranah kerja, artinya yang belum ditulis masih 92 ranah kerja.
Detil buku:
JUDUL: Berni Nulis, Berani Kaya: 101 Writing Businesses You Can Start From Home
PENULIS. R.Masri Sareb Putra
PENERBIT: Brilliant an imprint of mic publishing. Landmark Modern Shop House A-17. Jl. Indragiri 12-18 Surabaya. Hotline ; 031-71928000
ISBN: 978-979-17412-0-0
CETAKAN: Januari 2008
HALAMAN : xvi + 112 hlm; 14,8 x 21 cm.
[Wusana kata: R. Masri Sareb Putra, penulis produktif dalam warung ini beberapa waktu yang lalu telah memposting bukunya, dengan judul “How to Write Your Own Text Book”. Agitasinya tidak dapat diragukan. Jika Andre Wongso yang dikenal dengan motivator ulung Indonesia, barangkali Sareb lebih cocok diposisikan sebagai Agitator Ulung dalam tulisan. Untuk sekian kalinya seorang-orang dimotivasi, digerakkan keinginannya, digetarkan tekadnya. Setiap saat memacu dan memicu, dijelaskan secara tuntas bahwa kecerdasan menulis itu [word smart] bukan talenta. Dengan rela menunjukkan teori-teori orang besar, seperti Howard Gardner, Daniel Goleman, hingga Paul Stoltz. Ini semuanya bukan nafsu liar seorang R.Masri Sareb Putra, tapi niatannya yang luhur agar Orang Indonesia mampu, mau, mutu, dan maju untuk bangkit dari lisan menuju tulisan. Terima kasih Bung Masri Sareb. Tuhan menyertai Anda, dan kapan-kapan ngobrol lagi di warung ini]

Wednesday, April 30, 2008

WRITING WITHOUT TEACHERS: MENGATASI GANGGUAN METABOLISME TULISAN

Ketika membuka halaman awal, pembaca sudah mendapat sunguhan berupa catatan penerbit. Catatan itu memberi informasi, bahwa buku dengan title Writing without Teachers itu menghadirkan gagasan yang “mak Nyus”, apa itu. Menulis bebas.
Writing without teachers, dalam catatan penerbit bermakna dua:
Pertama, mengenalkan cara menulis yang jauh lebih mudah dan menggairahkan, karena membebaskan Anda dari segala aturan yang memang sering menjadi pemasung gerak orang. Sangat banyak orang, muali dari murid sekolah dasar hingga mahasiswa program pascasarjana yang tidak pernah mampu menulis justru karena sedari awalnya sudah dibebani belenggu aturan.
Kedua, membentuk kelompok tanpa guru, selanjutnya membaca buku ini, pasti dan pasti mampu membuat orang menulis.
METABOLISME TULISAN TERGANGGU DAN TIDAK LANCAR.
[sebagian pengantar buku yang ditulis Radhar Panca dahana ]
Terkuak adanya “infamiliarisasi dalam menulis”, seorang-orang tidak mampu berekspresi sebagaimana adanya. Bahkan yang paling berbahaya jika infamiliarisasi akan menelen obyektivitas, sehingga seorang-orang tidak akan bebas menuangkan gagasanya.
Seorang professor bahasa Inggris yang juga direktur program menulis di Universitas Massachuset, memuntahkan gagasannya dalam buku terkenal yang lebih familier disebut “menulis tanpa guru”.
Gagasan Peter Elbow tentang “menulis tanpa guru” ini menjadi begitu popular. Bukan hanya karena ia memberi jalan bagi seorang-orang modern mengatasi kesulitannya dalam mengontrol kata, membuat tulisan , tetapi juga lantaran ia dianggap sebagaian kalangan intelektual berhasil menjawab satu persoalan yang selama beberapa milenia menggayut di kalangan para ahli epedagogu, tentang : paradoks dalam pengajaran.
Elbow melihat tradisi pengajaran di Inggris pra 1968 yang ia lihat penyimpangan semacam “misteri”. Dalam bukunya yang lain, Embracing Contraries [1986]. Elbow mendapatkan semacam “kekerasan tersembunyi” dibalik metode pengajaran tyang tampak luarnya “begitu seksual” itu. Seksual karena para pengajar palsu itu tidak dapat membedakan “kebenaran kualitatif” antara materi intelektual dan aspirasi pribadi. Karena itu, yang dialkukannya adalah mengelabui muridnya untuk merangsang [aspirasi] dirinya sendiri, dan ini adalah tindakan yang membinasakan.
Fenomena ini yang mendorong tekadnya untuk mencoba menjelaskan bagaimana terjadi semacam proses “intelectualisasi” dalam kegiatan atau praksis menulis.


MENULIS TANPA KEPATUHAN
[sebagian pengantar buku yang ditulis: Donny Gahral Adian]
Beberapa alasan seorang orang menulis atau tidak,menurut pengatar Donny dinyatakan sebagai berikut:
Mengapa menulis:
  1. Curhat
  2. disuruh guru
  3. nggak ada kerjaan
  4. ingin dikenal
  5. mau mengubah dunia.

Mengapa orang tidak menulis:

  1. malas
  2. tak ada yang mengajar
  3. banyak kerjaan
  4. tidak ingin terkenal
  5. tidak ingin mengubah dunia.
Selanjutnya Donny jauga mengatakan, apa menulis itu ?.
Menulis adalah proklamasi kemerdekaan dari aturan. Kolonialisme rezim aturan bisa melumpuhkan pikiran. Padahal menulis adalah menuangkan pikiran, bukan aturan.
Apa artinya itu semua? Kita harus percaya bahwa gagasan kita adalah tunas yang bisa tumbuh menjadi besar dan menarik. Kita harus menulis di jalan bebas hambatan, melaju kencang tanpa peduli rambu-rambu dan membiarkan pengalaman menjadi soko guru satu-satunya. Oleh karena itu , Peter Elbow memberi anjuran manjur: menulis bebas [freewriting]. Apa artinya itu?Menulis bebas adalah menulis secara nonstop sesering mungkin.
MENULIS ITU TUMBUH DAN DIGODOG.
Elbow menekankan gagasan menulis dalam ranah kebebasan [freewriting], meyakinkan khalayak bacanya bahwa menulis itu semacam pertumbuhan, juga merupakan proses penggodokan.
Pertumbahan, maknanya seorang-orang harus memulai dan tiada henti. Dalam proses ini menulis harus dibebaskan dari mitos-mitos yang mencengkeram, ketika orang telah mematok dirinya tidak mampu, dan anggapan itu telah bersemayam pada dirinya, maka pupuslah kemampuan itu, dan membiarkan kemampuan yang tersembunyi, tetap sembunyi.
PERTUMBUHAN :
Energi awal yang mengantarkan pertumbuhan, dan pertumbahan itu akan bergerak liar dengan berbagai intensitasnya. Ketika tumbuh akan membangun sebuah ketrampilan dan berkembang mallui tahapan percaya [believe], bertindak dan melakukan, akhirnya menjadi kebiasaan [habit], dan akhirnya menjadi budaya [culture]
Dalam buku ini pertumbuhan berarti kata-kata berevolusi melalaui tahapan-tahapan. Pertumbuhan terpenting menurut Elbow adalah tingkat intensitas menulis atau banyak menulis. Dengan banyak menulis, seorang orang mendorong pertubuhan lainnya [menemukan titik tumpu dan kemampuan menyunting, bahkan dapat menemukan banyak kekacauan]
Saran konkret jika mengalami kesulitan disarikan sebagai berikut:
  1. Berhenti dan lakukan latihan menulis 10 menit yang ketat.
  2. Bercakaplah dengan diri sendiri dalam tulasan Anda
  3. Jangan biarkan kalimat pembuka menjadi penghambat
  4. Jika benar-benar buntu, anggaplah anda sedang berbicara dengan seorang dan hanya setengah jam untuk mengutarakan maksud Anda. Setelah itu bangkit, jika perlu carilah suasana yang lain.
  5. Begitu juga jika merasa lebih buntu lagi dan merasa tindakan menulis itu mendatangkan lebih banyak gangguan, Anda bisa melakukan hal serupa.Demngan tegas katakana itu sesuatu yang tidak perlu
  6. Jika, betapapun mencoba, Anda tetap tidak bisa menulis, berhentilah. Bangkit dan lakukan hal lain. Jangan duduk dengan pensil dan kertas sampai Anda siap.
  7. Sebagian diri Anda menolak untuk menukis, dan jika ia dominant, lebih baik Anda mulai mendengarkannya. Cari tahu mengapa Ia menolak. “ia” itu adalah Anda.

MENGGODOK :
Menggodok artinya membuat materi-materi saling berinteraksi, Yang paling penting adalah interaksi antara menulis dan merangkum [bekerja dengan kata-kata dan bekerja dengan makna]. Jika Anda sulit menulis, cobalah tingkatkan interaksi itu. Hindari hanya menulis atau duduk dan berpikir. Yang terpenting jangan sampai terjebak dalam situasi hanya menulis beberapa kalimat, berhenti, berpikir, dan cemas. Tuntaskan setiap siklus : palin tidak 10 menit menukis; kemudian berhenti total untuk melihat apa yang muncul.
Apa yang berinterksi, dalam godog-menggodokk itu?
1. Interaksi antar manusia
2. Interaksi antar ide
3. Interksi antar kata dan ide
4. Interaksi antar keterlibatan dan perspektif
5. Interaksi antar metafora
6. Interaksi antara Anda dan symbol-simbol di atas kertas.

wusana kata: Buku ini ternyata juga menggelitik seorang orang yang memiliki keahlian memproduksi berbagai alasan. Dan alasan-alasan itu dijungkirbalikkan.
Alasan itu adalah:

  • Orang yang tidak berpendidikan berkata , “Kalau saha mendapat pendidikan saya bisa menulis.”
  • Orang terdidik berkata, “Kalau saja memiliki bakat, saya bisa menulis.”
  • Orang terdidik dan berbakat berkata, “ Kalau saja memilki disiplin diri, saya bisa menulis.”
  • Orang yang terdidik, berbakat, dan memilki disiplin diri-dan banyak diantara mereka yang tidak bisa menulis-berkata, “Kalau saja…..” tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan.

Tetapi beberapa orang yang tidak terdidik, tidak memilki disiplin diri, tidak pintar, tidak imajinatif, dan tidak pandai berkata-kata justru kualits iyu: saat ingin mengatakan atau memmahami sesuatu, mereka bisa menuyangkannya ke atas kertas dalam bentuk yang enak dibaca]
Detil Buku
JUDUL : Writing Without teachers. Merdeka dalam menulis! JUDUL ASLI : Writing Without Teachers.
PENGARANG : Peter Elbow
ALIH BAHASA : Yeny Fretty dan Ajeng AP
PENERBIT : PT Indonesia Publishing. E-mail: indonesiapress@yahoo.com
bookcorner@hotmail.com
ISBN: 978-979-15586-1-7
CETAKAN : 2007
HALAMAN: xxvii + 220 hlm.

Tuesday, April 29, 2008

CARA MUDAH MENULIS NASKAH

CARA MUDAH MENULIS NASKAH, MENULIS ITU GAMPANG,..PANG,,PANG..PANG,,,,,,itulah sebuah motivasi, warung tidak akan mundur dan berhenti untuk menghadirkan buku-buku tentang menulis. Warung berbuat jujur agar pengunjung tergiur. Dengan menulis akan membuat sejarah dan kita ungkapkan Tentunnya tergiur dalam menulis.Kali ini warung mengundang Ibu Endang Sulistyowati, untuk mendiskripsikan buah pikirnya. Buku itu berjudul : 'CARA MUDAH MENULIS NASKAH'
Penulisnya adalah seorang orang Ibu yang berprofesi sebagai dosen, dengan nama penanya Endang S.Jumarudin. Khalayak baca ditargetkan mampu menulis, utamanya bagi penulis pemula yang menggeluti bidang terjemahan.
Buku ini memberikan pertanyaan kepada khlayak bacanya, terkait dengan menulis, lebih lanjut dijabarkan sebagai berikut. Jika anda ingin menjadi penulis, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan dan apa yang bisa Anda kembangkan lebih lanjut , seperti:
  1. Anda harus mengenal apa itu gagasan
  2. Bagaimana menulis naskah fiksi dan non fiksi
  3. Penyuntingan naskah buku
  4. kerja dunia penerbitan
  5. Syarat menjadi penulis
KALKULASI UNTUNG RUGI ITU PENTING.
Buku ini pada halaman pertama sudah mengajak pembacanya untuk mengkalkulasi untung dan rugi. Katanya, untuk mengantarkan seorang-orang menjadi penulis, tentunya diawali dengan kemampuan menghitung peluang. Ya, menimal dijadikan jargon bahwa menulis itu mampu mendatangkan doku. Itu mungkin salah satu bahan pemicu.
Buku memandu pembacanya untuk mengenal syarat, atau rambu-rambu. Bagaimana orang tidak beku.
MENGENAL SYARAT MENJADI PENULIS:
Dari berbagai sumber buku bacaan ditambah dari pengalaman, pengamatan, penulis buku yang cerdas plus kreatif harus didukung sayarat-sayaratseperti berikut:
  1. Memahami bahwa menulis adalah ketrampilan dasar setiap orang. Siapapun orangnya yang mau nulis pasti bisa.
  2. Setelah memiliki kemampuan menulis, syarat kedua adalah memiliki visi dan misi serta motivasi dalam menjalani profesi
  3. Bersikap rasional dalam menjalani profesinya. Karena rasionalitas merupakan ciri manusia yang manusiawi. Orang hidup harus mau menggunkan akal sehatnya
  4. Memiliki Ide atau sumber gagasan dan memamqhi sumber pemicu ide dirinya
  5. Memiliki komitmen atau kesungguhan diri untuk mencintai profesinya dan meningkatkan kualitasnya dari waktu ke waktu
  6. Bersedia membaca buku, menulis, dan bergabung di komunitas penuilis
  7. Memahami proses penerbitan buku dan pasarnya
  8. Bisa memilih topik, tema, judul yang memberi manfaat diri dan pembacanya
  9. Selalu ingat ada kekuatan yang hebat, bibalik kekuatan manusia, yakni cahaya Ilahi.
FAKTOR PSIKOLOGI DAN BUKAN KAMBING HITAM:
“Ketika kambing hitam” berkeliaran disekitar kita, sudah dapat dipastikan kita tidak akan mampu menulis. Kambing hitam itu selalau membawa virus yang namanya hambatan psikologis. Cara mengatasi adalah, kambing hitam segera kita Gule dan kita Sate, selanjutnya kita konsumsi sambil menorehkan ide.
Siapa si kambing hitam itu ?
  1. Perasaan yang hinggap pada benak, sehingga kita mempunyai p[erasaan tidak mampu menulis
  2. Takut salah dan disepelekan orang
  3. Tidak berani mengambil risiko
  4. Malas memulis
  5. Anggapan bahwa komunikasi lisan lebih mudah daripada dipaparkan dalam tulisan
  6. Menutup diri dari gagasan dan pengalaman baru
  7. Tidak memiliki niatan untuk diskusi untuk menambah ilmu
  8. Merasa cukup sebagai penikmat [konsumen] tidak merasa butuh untuk menulis.
RESEP AGAR GAGASAN TIDAK MANDEK, MACET DAN MOGOK.
Tips agar ide atau gagasan tidak mandek atau stagnan, dapat dilakukan melalui:
  1. Ikuti orang lain dalam menulis
  2. Tulis dulu berbagai ide yang selalau muncul dalam pikiran kita
  3. Susun sesuai dengan sistematika tulisan yang telah dirancang
  4. Sekali menulis jangan berhenti, kecuali pingin banget ke kamar mandi
MENGENAL GAGASAN:
Mengenal gagasan menurut buku ini dinyatakan sangat perlu, dan perlu. Karena penulis adalah seorang-orang yang berkarya, atau bekerja dengan gagasan. Hanya dengan gagasan atau ide penulis dapat berkarya, lebih ekstrem dapat dikatakan ide atau gagasan itu, adalah nyawa penulis.
Sekarang bagaimana mengalirkan gagasan, agar sederas pipa penyemprot pemadam kebakaran? Buku ini memberi solusi.
Pertama: Anda harus yakin bahwa diri Anda orang yang kreatif. Ciri kreatif adalah memilki pandangan atau pikiran alternative, tidak mau jadi pengekor apalagi berperan plagiator.
Kedua, Anda harus yakin ide atau gagasan itu selalu ada pada diri anda. Alias berpikira bahwa ide atau gagasan pasti mampir.
Ketiga, Anda harus yakin bahwa rasa takut adalah penindasan pada diri orang kretif dan kemalasan adalah musuh utamanya.
Keempat, Anda harus yakin bahwa detail itu berawal dari yang sederhana. Adanya sukses itu karena berawa dari proses perjalanan usaha yang selangkah demi selangkah dengan jujur, sabar, dan syukur.
Kelima, Anda harus yakin bahwa kesempurnaan itu hanya dapat diraih dengan menjalani proses dikit demi sedikit. Seperti tahapan fisis ketika seorang ibu sedang merebus air, tidak langsung mendidih, namun berawal dari nol derajat, hingga seratus derajat.
BAGAIMANA MENGEMBANGKAN GAGASAN:
Sementera itu teknik mengembangkan gagasan agar menjadi karya tulis yang siap saji dan siap santap dengan rasa sedap, maka harus melalui berbagai tahap. Tahapan itu adalah:
  1. Tentukan tema
  2. Indentifikasi masalah
  3. Buat batasan masalah
  4. Buat rumusan masalah
  5. Tentukan metode yang tepat
  6. Buat kerangka pikir
  7. Analisa metode yang tepat, dasarkan pada ide, data dan kerangka yang anda buat
  8. Koreksi, revisi, senghinng tulisan punya jati diri. [hampir sama buat proposal skripsi]
Arah buku ini ingin menggugah penulis muda yang bergerak pada sektor penterjemahan, buku memberi solusi dengan menorehkan pengalaman, untuk menghitung peluang.
Menurut buku ini proses penerjemahan merupakan sebuah proses yang sangat kompleks, karena itu untuik menghasilkan terjemahan ayang baik dan benar, buku ini megacu tulisan Nida [1975:80] yang mengatakan bahwa penerjemahan berlangsung dalam tiga tahap, yakni, analysis [analisis], transfer [pengalihan], dan restructuring [penyusunan]. Langkah ini dicairkan oleh buku ini, sehingga penerjemahkan serasa mudah dan dapat dilakukan dengan cara mudah
Detil Buku:
JUDUL: Cara Mudah Menulis Naskah [Terjemahan. Non terjemahan bagi Pemula
PENULIS : Endang S. Jumarudin dkk
PENERBIT: Pustaka Fahima. Kompleks Ruko BBC Plaza No. 05 Lt.2 babarsari Sleman Yogyakarta. Telp [0274] 489127, 7492265
ISBN:
CETAKAN: Pebruari 2007
HALAMAN: vii + 112
[Wusana Kata: Buku ini diinduksi dari pengalaman yang malang milntang terkait dengan dunia naskah terjemahan. Namun modal dasar sebagai bahan baku, harus membaca buku. Ada sebuah adigium, orang yang tak pernah minum, pasti jarang ke kamar mandi. Jika dikonversi pada dunis tulis menulis, tidaklah mungkin orang aktif menulis tanpa didukung intensitas baca yang tinggi. Kecuali itu pasti ada, yakni jika seorang-orang itu telah menyandang Guru yang Maha Guru. Membaca sebagai pelepas dahaga, bagi orang yang ingin mengubah dunia dengan tulisannya]