SILA CARI DI SINI!

Google

Wednesday, June 4, 2008

MENCONTOH PILKADA LANGSUNG DI JERMAN:


“yang tak bisa senyum, tak perlu jadi calon”
“tertawa adalah kampanye yang hebat”

Warung menemukan sebuah buku dengan tajuk Memenangkan Pemilu! Petunjuk Praktis bagi Kandidat, yang dieditori oleh : Dr. Rainer Adam.
Detil Buku:
JUDUL : Memenangkan Pemilu ! [Petunjuk Praktis bagi Kandidat]
EDITOR : Dr. Rainer Adam
PENERBIT: Friedrich Naumann Stiftung Jl.Rajasa II No. 7 Jakarta 12110. Telp. 62-21-7256012-13. E-mail: Jakarta@indonesia.fnst.org. Web: http://www.fnst.de/ dan http://www.fnfasia.org/
CETAKAN : I 2006
HALAMAN : 96

Diceriterakan oleh buku ini bahwa Tahun 2005 Friedrich Naumann Stiftung mengundang sepuluh politisi Indonesia yang terdiri dari walikota, bupati dan atau kandidat peserta Pilkada untuk berkunjung di Jerman. Aktivitas ini merupakan aktivitas pembelajaran dengan melihat pengalaman empiri yang terjadi di Jerman, melalui tangan pertama.
Kehadiran politisi itu sangat tepat waktunya, karena di Jerman sedang berlangsung aktivitas pemilu, ketika itu kampanye sedang berlangsung. Kunjungan yang juga dapat dimanfaatkan sebagai studi banding itu dilakukan di Negara bagian Schleswig-Holstein dibagian utara Jerman.
Di sinilah para undangan sempat berdialog langsung dengan para pejabat yang berurusan dengan masalah pemilu, juru kampanye, anilis politik bahkan bertemu pula dengan masyarakat pemilih.
YANG MENGESANKAN:
Merupakan kebagaian yang luarbisa ketika rombongan asal Indonesia itu bertemu dengan salah satu perencana strategis local dari Partai Sosial Demokrat atau SPD]. Yakni Theis Theisen. Sebuah kreasi yang luar baisa, sebagai senjata dalam memenangkan kandidat, terdapat dua resep manjur. Resep inilah yang barangkali dapat digunakan sebagai acuan di negeri kita. Bukahklah kita adalah bangsa yang memilki hobi “3N”. –Niteni-Niru-Nambahi.
Resep itu adalah:
“CO-CA-CO-LA” dan “KISS”
COCA COLA:
Sebuah terminology baru, karena coca-cola selama ini identik dengan sebuah minuman bersdoda asal negeri Paman Sam, ternyata di Jerman digunakan sebagai kriterium dari seorang-orang yang maju sebagai kandidat.
CO, dari “Competence” atau kompeten, artinya kandidat harus memilkim pengalaman yang pas, mempuntai kualitas kepemipinan dan kemampuan melaksankan rencana dengan seksama , efektif dan efisien.
CA, dari “Charisma” atau karisma, kandidat sebaiknya memmiliki kepribadian yang mampu menggerakkan orang
CO, dari “Communication” atau komunikasi, kandidat harus memliki kemampuan komunikasi dengan orang-orang dari berbagai spectrum. Kandidat harus mampu menjembatani serta mempertemukan perbedaan-perbedaan. Trampil berbicara didepan public, menguasai bahasa tubuh [gesture] dan seni ekspresi.
LA, dari “LANDSCAPE” atau “wawasan”, kandidat harus memilki wawasan politik yang luas terutama yang berkairtan dengan geopolitik wilayahnya. Dalam politik local seorang-orang yang maju sebagai kandidat harus bermodal ketrampilan penguasaan, bahasa , adapt daerah tradisi, sejarah dan problem local.
KISS
KISS kependekan dari “:keep it short and simple”, yang berarti buatlah menjadi pendek dan sederhana. Saran ini diterapkan dalam pesan-pesan yang ditujukan untuk kelompok target. Apa saja yang harus “pendek dan sederhana”?. Poster, pamflet , spanduk, iklan media massa, yel-yel atau jargon lainnya.
BAGAIMANA KRITERIA KANDIDAT YANG IDEAL?
Agar pemilihan itu sukses, maka criteria berikut mutlak diacu:
  1. Apakah sang kandidat di terima masyarakat?
  2. Apakah ia seorang individu yang tepat dan juga untuk waktu yang tepat bagi rakyat dan pengembangan kota?
  3. Apakah ia cenderung terkenal sebagai tukang campur tangan?
  4. Apakah ia sosok yang ramah dan terbuka? [yang tak bisa senyum, tak perlu jadi calon]
    Komunikatif, tak malu-malu berhadapan dengan warga
  5. Bisa dipercaya karena ucapan dan tidakannya sejalah
  6. Jujur: Individu yang bertindak lurus dan menetang trik-trik busuk
  7. Bersedia bekerja dalam tim dalam fraksi
  8. Terbuka bagi gagasan-gagasan inovatif
  9. Bersedia dan mampu bekerjasama dengan DPC dan organisasi-organisasi lainnya
  10. Pencalonannya adalah sebuah pencalonan yang ditandai kehendak pembentukan politik. Titik berat pencalonannya adalah keuntungan rakyat dan pengembangan kota, bukan pribadi
  11. Pencalonanya tidaklmembahayakan kebersamaan dan kinerja fraksi akibat kemungkinan adanya perpecahan
  12. Dedikasi politik dan kemampuan sang calon dalam beragumentasi secara politis
  13. Mudah dihubungi
  14. Bisa dilihat kehadirannya di public
  15. Kemampuan untuk belajar, bersedia terus belajar
  16. Bisa dipercaya dan disiplin

KRITERIA SLOGAN YANG CERDAS:

  1. Karisma
  2. Sesuai dengan sasaran kapanye
  3. Menampilkan sosok pribadi
  4. Menetapkan focus materi
  5. Pendek
  6. Lucu
  7. Bisa digunakan secara uniaversal
  8. Mengangkat aspek kedaerahan
  9. Menyentuh pers
  10. Memobilisir kalangan sendiri
  11. Komunikatif

LULUCON ITU PENTING!
Kampanye harus mengandung unsur humor, juga disarankan harus berbau lelucon
Media yang baik untuk memobilisir tenaga bantuan dan pemilih adalah homur. Jika tim kapanye bisa meramu acara mereka dengan keriangan dan keyakinan, maka isi dan pesan kampanye bisa disampaikan dengan lebih baik. Wajah-wajah ceria lebih komunikatif—dan lebih simpatik—daripada raut wajah serius. Tidak ada salahnya jika kandidat sekali-kali bercanda atau sedikit melucu. Hal itu umumnya dinilai positif

GAJI WAIKOTA /BUPATI DI JERMAN PAS-PASAN
Satu hal yang menarik bagi para undangan dari Indonesia adalah, walikota dan bupati di Jerman tidak dipilih berpasangan dengan wakilnya. Jika seorang walikota meninggal atau tidak mampu menjalankan tugas, pemilihan digelar lagi dan warga memutuskan lagi siapa yang akan dipilih. Para bupati atau walikota di Jerman menerima penghasilan yang tiadk terlampau atinggi, yakni antara 3,600 sampai 4,800 euro [sudah dipotong pajak] perbulan. Mereka juga tidak menerima fasilitas dan tunjungan seperti rumah dinas, mobil dinas, alat komunikasi dan sebagainya. Walikota di Jerman harus membayar sendiri biaya untuk rumah, transport, telepon, listrik, air dan lain-lain. Fenomena menarik lainnya adalah, meski proses pencalonan sangat terbuka, jumlah kandidat jarang sekali melampaui lima atau enam orang, Permintaan menjadi kepala eksekutif daerah seperti welikota atau bupati relative rendah.
WARNING!
Tapi perlu diperhatikan: membuat lelucon tentang orang lain, apalagi pesaing, pasti tidak akan berdampak positf.

Tuesday, June 3, 2008

MENULIS ARTIKEL ITU GAMPANG

Warung mohon maklum:
Buku yang disajikan warung kali ini kembali berkutat dengan tulis menulis, dan menurut rencana selama di republik ini masih terbit buku-buku yang membahas soal tulis menulis, akan diposting habis. Namun agar para pelanggan tidak bosan akan disela dengan judul-judul yang lain. Koleksi warung, terkait buku-buku tulis menulis masih berjimbun, namun pelanggan harap maklum kendati nafsu sudah di ubun-ubun. Perlu diketahui untuk menggoreng sebuah buku itu memerlukan waktu sekitar dua hari, karena pesanan yang datang tidak dapat diterka kehadirannya.

[Bakat adalah sesuatu yang tak perlu dijadikan dasar dalam menulis, sebab, kata bakat justru sering menjadi”mantra” penghambat menulis]


Kali ini warung akan mencandra sebuah buku dengan judul “ Menulis Artikel itu Gampang”, buah karya Nurudin.
Buku ini memposisikan sebagai pemandu sekaligus pencerah bagi siapa saja. Menurut Nurudin, orang tidak perlu dipusingkan oleh soal tulis menulis. Dengan agak memprovokasi mengatakan dengan tegas bahwa, menulis artikel itu gampang. Dan menulis tidak ada hubungannnya dengan bakat, yang diperlukan adalah latihan dan tak kenal purus asa. Menulis itu seperti orang “belajar renang” bukan “belajar tentang berenang”.
Detil Buku:
JUDUL : Menulis Artikel itu Gampang
PENULIS : Nurudin
PENERBIT : Effhar. Jl. Dorang 7 Semarang. Telp. 024-3511172. E-mail: dahara@indosat.net.id Web: http://www.daharaprize.com/
ISBN : 979-501-359-9
CETAKAN: keenam 2007
HALAMAN : x + 116 Halm.
Kata pengantar buku ini sangat menguatkan hati, apa lagi bagi penulis pemula yang baru masuk labirinnya profesi ini.
Profesi menulis ternyata tidak hanya dimonopoli lulusan jurnalistik semata. Menulis adalah profesi terbuka. Siapa saja bias jadi penulis. Namun begitu, tidak semnua orang bisa menulis. Masalahnya adalah tidak setiap orang mau dan mampu berprose menjadi penulis.
MENULIS ITU APA ADA SEKOLAHNYA ?
Kira-kira sekolah dimana? Sekolah calon penulis adalah ada di masyarakat. Dengan kata lain, seorang-orang yang ingin jadi penulis harus mengamati dinamika, gejolak di masyarakat sambil membuka buku untuk mengamati gejala itu atau mengutip teori. Sedang di masyarakat, melalui pengamatan itu, ia akan mendapatkan “bahan baku” tulisan. Atau bisa mengamati beberapa penulis terkenal namun tidak mempunyai gelar. Ambil contoh adalah Emha Ainun Nadjid, Soedjatmoko dan Adam Malik. Siapa pun akan mengakui kepakaran mereka. Bahkan Emha sendiri, bisa jadi ia lebih kredibel untk berbicara masalah budaya disbanding seorang professor budaya sekalipun.
TEORI KENDI MEMBUKA HATI.
Ternyata buku ini juga berkiat melalui teori, tentunya sebuah teori hasil induksi dari pengalaman diri penulis.
Membuka hati seorang-orang agar termotivasi, buku ini memberikan teori dengan nama “TEORI KENDI”.
Meskipun kendi itu sederhana hanya terbuat dari tanah liat yang dibakar, namun menyimpan teori yang sangat penting, khususnya mengenai menulis artikel.
Sebuah kendi, ada kalanya diisi air. Namun, kadang juga airnya ditumpahkan untuk diminum. Kendi itu akan tambah airnya seandainya dimasuki air terus menerus. Lalu apa hubungannya dengan kegiatan menulis?
Menulis pun tidak jauh berbeda dengan kendi. Diibaratkan kendi itu adalah tubuh manusia,. Seorang-orang yang jenius sekalipun tidak akan pernah bisa menulis kalau tak pernah memberi “air” dalam “kendinya. Air itu adalah ilmu pengetahuan, data, pengalaman, pengamatan lingkungan, diskusi dan lain-lain.
MENCARI AIR KENDI= MENCARI IDE TULISAN
Teori kendi itu, memberikan peringatan, bahwa seorang-orang tak akan mampu menuangkan ide atau gagasan, karena informasi yang singgah di otaknya, ibarat sumur yang sering kerontang.
Mengisi kendi itu, sama dengan menghadirkan segenap informasi ke dalam otak, yang ditopang hati. Resep yang diberikan buku ini, untuk menggali ide terdapat dua hal, yakni “mengamati” dan “membaca koran”
Mengamati: Mengamati dalam hal ini adalah melihat, meresapi dan mengolah dalam pikiran berbagai kejadian di sekitar kita. Sebab, tanpa disadari berbagai peristiwa di sekitar kita itu tak lain adalah bahan mentah sebagai unsure-unsur pembentuk sebuah tulisan.
Membaca Koran: Jangan dikira membaca Koran tak ada gunanya. Paling tidak, darti kegaiatn seperti itu kita bisa mengetahui berbagai macam kejadian yang mungkin luput dari pengamatan sehari-hari. Banyak penulis artikel terpicu untuk membuat sebuah tulisan setelah sebelumnya mebaca Koran. Bagi seorang-orang penulis, koran adalah makanan sehari-hari yang harus dikonsumsi. Berbagai macam data dan peristiwa ada dalam Koran.
FORMULA MENJAGA KONTINUITAS MENULIS :
Terus menulis: Buku harian memegang peranan, jangan lewatkan setiap kesempatan untuk tidak menulis, meskipun hanya outline atau coretan singkat dalam sebuah biku harian. Maka seorang-orang penulis kemana saja harus membawa kertas dan pena. Ketika ia punya ide, ia akan langsung menggoireskan coretan singkat pada kertas tersebut.
Diskusi sesama penulis: Mengajak diskusi sesama penulis menjadi factor menjaga koninyuitas penulisan. Kita bisa mengungkapkan kesulitan dalam menulis artikel kepada teman tersebut. Siapa tahu, dia punya kiat tersendiri dalam mengatasi kesulitan itu.
Budaya baca; Seorang-orang penulis sudah selayaknya membaca. Bahkan pepatah tiada hari tanpa membaca, layak dipertimbangkan untuk dilaksanakan. Bartangkali kita tidak tahu manfaat dalam jangka pendek dari membaca tersebut. Namun yakinlah, bahwa itu sangat berguna di masa dating.
Kliping itu penting: Penulis tidak akan terlepas dari data. Oleh karena itu, klipimng menjadi penting. Paling tidak dengan kliping kita bisa mengambil data-data sebagai salah satu cara mengembangkan tulisan

Monday, June 2, 2008

LAHIRNYA PANCASILA :MENURUT Dr. KRT. RADJIMAN WEDYONINGRAT

Stigma negatif pernah berkembang di negeri ini, cukup disesali karena stigma itu menimpa “Sang Pendiri Negeri” ini. “DeSoekarnoisasi“ itu sebagai gambaran cara-cara strategis agar siapa saja yang beraroma Sukarno terkikis habis.
Tak kurang dengan istilah lahirnya Pancasila, menjadi perdebatan yang tak kunjung padam, tanggalnya pun ikut terusik. Kebiasaan memperingati hari lahirnya Pancasila juga juga lambat laun turun, itu yang terjadi ketika Orde Baru sedang berada di panggung singgasana.
Ketika itu, hari lahirnya pancasila terasa diambangkan, ada juga yang menamakan tanggal I Juni itu, bukan lahirnya Pancasila, hanya sekedar lahirnya Istilah Pancasila. Untuk “mempreteli” akar sejarah itu, antara sengaja dan tidak sengaja. Namun realitas yang nampak orang seakan takut menyentuh ajaran-ajaran Bung Karno.
Warung kali ini berusaha untuk mencari bukti apakah tanggal 1 Juni sebagai lahirnya Pancasila itu, merupakan hipotesis atau tesis. Dengan bantuan komunitas buku lawas kota Malang, ditemukan buju berjudul : “Lahirnja Pantja-Sila”, Bung Karno Mengembleng dasar-dasar Negara.
Detail Buku:
JUDUL: Lahirnya Pancasila [Bung Karno mengembleng dasar-dasar Negara]
PENERBIT:Usaha Penerbitan GOENTOER, Yogjakarta
CETAKAN: Tahun 1947
HALAMAN : 41


[Warung mencoba meyakinkan, bahwa lahirnya Pancasila itu tepatnya tanggal 1 Juni, argumentasi yang ke kedepankan sebagai bukti, diambil dari sambutan Dr.K.R.T. Radjiman Wedyoningrat, mantan Ketua Panitia Penyelidik Usaha Kemerdekaan Republik Indonesia [Dokuritsu Zyumbi Tyoosakai]
Sambutan itu berwujud sebagai kata pengantar dalam buku Lahirnya Pancasila yang terbit tahun 1947. Warung ingin membedah untuk melihat secara mendasar melalui anatominya, mulai dari kepalanya, hingga kaki. Ternyata melalui kata pengantar itu, terselip kata Dr.K.R.T. Radjiman Wedyoningrat, bahwa tanggal 1 Juni adalah hari lahir nya Pancasila.

ISI KATA PENGANTAR :


Dengan perasaan gembira saya terima permintaan penerbit buku ini untuk memberikan sepatah dua patah kata pengantar, serta dengan segala senang hati saya pebuhi permintaan tersebut.
Sebagai “Kaicoo” [ketua] dari “Dokuritsu Zyumbi Tyoosakai” [Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan] saya mengkuti dan mendengar sendiri diucapkannya pidato ini oleh Bung Karno, sekarang Presiden Negara kita.
Oleh karena itu sungguh mengembirakan sekali maksud penerbit, untuk mencetak pidato Bung Karno ini, yang berisi “lahirnya Pancasila”, dalam sebuah buku kecil.
Badan “Dokuritsu Zyumbi Tyoosakai” itu telah mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 Mei tahun 1945 sampai dengan tanggal 1 Juni 1945 da yang kedua dari tanggal 10 JUli 1945 sampai dengan tanggal 17 Juli 1945
“ lahirnya Pancasila” ini adalah buah “stenografisch verslag” dari pidato Bung Karno yang diucapkan dengan tidak tertulis dahulu [voor de vuist] dalam sidang yang pertama pada tanggal 1 Juni 1945, ketika siding membicarakan “dasar [Beginsel] Negara kita”, sebagai penjelmaaan daripada angan-angan . Sudah barnag tentu kalimat-kalimat sesuatu pidato yang tidak tertulis dahulu, kurang sempurna tersunsunya. Tetapi yang penting ISINYA”.
Bila kita belajar dan selidiki sesungguhnya “Lahirnya Pancasila“ ini, akan ternyata bahwa ini adalah satu Demokratisch Beginsel, satu Beginsel yang menjadi Dasar Negara kita, yang menjadi Rechtsideologie Negara kita: Satu Beginsel yang tetap meresap berurat dan berakar dalam jiwa Bung Karno, dan telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun siding ada di bawah penilikan yang keras dari Pemerintah Balatentara Jepang. Memang jiwa yang berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang-kekang
Selama facisme Jepang Berkuasa dinegeri kita, Demokratisch Idee tersebut ta’ pernah dilepaskan oleh Bung Karno, selalu dipegangnya teguh-teguh dan senantiasa dicarikannya jalan untuk mewujudkannya.
Mudah-mudahan “Lahirnya Pancasila” ini dapat dijadikan pegangan, dijadikan pedoman oleh Noesa dan Bangsa kita seluruhnya, dalam usaha memperjuangkan dan meyempurnakan Kemerdekaan Negara.


Walikukun, tertanggal 1 Juli 1947 .
Dr.K.R.T. Radjiman Wedyoningrat
Catatan : Bahasa masih orisinal, ejaan telah diganti

Friday, May 30, 2008

SISI GELAP SURABAYA di USIA 715, MUSIBAH ATAU BERKAH?

Warung menemukan buku yang menggambarkan fragmentasi sisi gelap Surabaya, Judul buku itu adalah: “ SBY Double Cover”--The series Sex in the City –Kehangatan Malam Metropolis
Warung ini tidak mungkin mengupas tuntas, karena ada dua ketakuatan, yakni:


  1. Ketakutan dicatat Tuhan karena memaparkan barang haram

  2. Ketakutan pada Menkoinfo, dianggap situs porno.

Kendati Surabaya juga dikenal kota yang sensasi dan aroma agamanya cukup kental dan terjaga, realitas yang menegasi juga sulit dihindari.
Situs-situs gelap merambah dari hulu hingga hilir. Barangkali juga warisan kolonial, menurut buku Soerabaia Tempo Doeloe. Buah karya Cak Dukut, 139 tahun yang lalu bisnis esek-esek telah tubuh subur, laris manis, kendati tanpa promosi. Tepatnya di wilayah Surabaya Utara, Bandaran. Lokaliosasi legendaries ini kemashurannya mungkin menyamai lokalisasi Dolly di zaman sekarang. Pada tahun 1864, kampun Bandaran amat tersohor. Tidak hanya dikenal warga kota ini saja, tapi juga warga kota lain, bahkan orang asing. Saat itu, di lokalisasi ini beroperasi 228 pelacur high class di bawah asuhan 18 GM [bukan General Manager, tapi GERMO]. Letak tepatnya Bandaran itu dipinggir pantai, dan berdekatan dengan Tajung Perak, mengingatkan kita pada parikan Suroboyo. “Tanjung Perak Kapale Kobong, Monggo Pinarak Kamare Kosong”—Tanjung Perak mas, kapalnya terbakar, silakan mampir mas kamarnya kosong.
Detail Buku:
JUDUL : SBY Double Cover
PENULIS : TIM JP-Press
PENERBIT : Jawa Pos Press. Graha Pena Building Floor 18. Jl A. Yani 88 Surabaya 60237. Telp. 031-8202051. E-mail: jawapos@yahoo.com
ISBN : 979-3487-02-X
CETAKAN I. Juli 2004
HALAMAN : xiv + 303
Surabaya memang punya banyak kantor PSK. Selain Dolly, Jarak, Kremil, Bangunsari, Moroseneng , juga ada Pangsut, Diponegoro, Embong Malang, Kedungdoro, Darmo Park, dan banyak lagi. Stasiun Wonokromo juga menjadi kawasan lampu merah yang marak setiap malam tiba.
SITUS GELAP ITU, MENURUT BUKU.



  • Di kawasan StasiunWonokromo itu sedikitnya ada 20 tenda yang berdiri di situ. Tak ada penerangan dalam tenda. Juga tak ada kasur atau tikar sekedarnya, Tarifnya murah meriah, Rp.20.000 termasuk ongkos sewa tenda. [barangkali saat ini naik, karena menyesuaikan harga BBM, barangkali juga tidak karena pelanggan dan penjualnya sama-sama dapat BLT]
  • Gang Dolly : Orang Surabaya mana tak kenal dengan lokalisasi Gang Dolly. Tapi, pasti tidak banyak yang tahu sejarah berdirinya. Juga asal-usul mengapa kawasan merah itu dinamai Gang Dolly. Nama Gang Dolly berasal dari nama perintisnya, seorang-orang mucikari asli Advonso Dolira Chavid, wanita blateran Belanda-Birma. Semula Dolira adalah pensiunan pelacur kelas kakap di tahun 1960-an. Pada tahun 1970-an naik pangkat menjadi mucikari alias germo dengan saap khas Mami Dolly. Zaman keemasan tiba, maka sang Mami Doly membangun buat kawasan Putat Jaya ini menjadi semacam real estate-nya PSK. Dari hasil bisnis esek-esek ini pula, ibu satu anak hasil perkawinannya dengan seorang pelaut Cekoslowakia , memiliki banyak rumah di Surabaya dan Malang. Bangkrut tapi diharapkan, kenyataan juga menimpa sang Mami, sampai anakanya sendiri Eddy Yoseph, menggugat bagian harta hingga ke pengadilan. Sepanjang gang ini saat ini masih beroperasi sekitar 56 buah wisma.

  • Di kota ini juga ada kampong yang menyediakan rumah untuk tempat esek-esesk bagi priya hidung belang dan PSK. Yang menarik, rumah-ruma itu juga ditinggali keluarga baik-baik . Nama kampong itu adalah Sidokumpul. Tidak semua rumah tidak digunakan untuk pratik masiat. Hanya berlaku di wilayah RW VII. Yakni ada empat RT, masing-masing RT 1,2,3, dan 4. Ada sekitar 70 KK. Ada juga yang sengaja dikontrakkan untuk ditinggal para wanita PSK. Tarif sewa kamar short time yang ditetapkan warga di Sidokumpul itu bervariasi, Rata-rata berkisar Rp. 10 ribu hingga Rp. 20. ribu, komplit dengan penyakitnya sekali

[Wusana kata : Maaf kendati seru, warung menghentikan tulisan ini, anggap saja sedang ejakulasi dini. Itulah perwajahan kota, dimana saja yang memiliki sapaan sebagai metropolitan, sisi gelap tidak mudah dihambat. Warung hanya mengungkap ulang dari buku, ternyata perilaku menyimpang, gampang memberi inspirasi orang dalam menuang gagasan. Kita diingatkan, ketika itu lahir sebuah buku yang membahas khusus tentang Gang Dolly, buku itu bahkan best seller, pernah pula buku bertajuk “hitam-putih Dolly”, juga laris terbeli, termasuk buku yang sedang dicandra ini. Di pasaran buku ini mulai sulit dicari]

SURABAYA MENJUAL SITUS PUTIH, DIUSIA 715

Warung ini membedakan Kota Surabaya dalam “Hitam” dan “Putih”. Sebagai kawasan putih, bila kota ini dalam nafas hidupnya didominasi oleh dinamika masyarakat yang kental dengan nilai-nilai positif. Etika dikedepankan, moralitas diunggulkan dan spiritualitas ditetapkan sebagai penutan. Kawasan hitam, jika kota ditandai dengan kekumuhan dengan berbagai dimensinya, serta perilaku masyarakatnya yang asosial, dan perlaku negative cenderung menjadi panglima dinamika.
Sapaan sebagai metropolis, pasti dan pasti berada di wilayah abu-abu alias hitam dan putih.
Warung ini membahas Surabaya dari sisi putih, dan sisi gelapnya akan dibahas pada ruang yang berbeda.
Pada usianya yang ke 715 Surabaya ingin menjual situs-situs putih, dan telah diawali ketika tahun 2005 merintis pencitraan kota [city branding], dengan penuh potensi digerakkan. Benchmarking telah dilakukan, misalnya ketika melihat tagline atau slogan marketing dari manca Negara, misalnya, “Uniquely Singgapore”, “Malaysia Truly Asia”, dan “ tagline dengan tajuk “ Enjoy Jakarta” , tentunya Surabaya tergoda.
Kini kota ini ingin mewujudkan mimpi, dibimbing oleh naluri plus potensi diri, maka ditetapkanlah city branding itu, “Sparkling Surabaya”.
Buku berjudul “Pariwisata Dengan Huruf L’, membedah keinginan yang luar biasa itu. Buku ini dikreasi oleh Yusak Anshori dan Dewa Gde Satrya, kemudian Arif Afandy wakil walikota Surabaya yang juga wartawan senior Jawa Pos itu, memberikan kata pengantarnya.
Detil Buku :
JUDUL : Pariwisata Dengan Huruf L
PENULIS : Yusak Anshori dab Dewa Gde Satrya
PENERBIT : Bayu Media Publishing. Jl. Puncak Yamin 20 Malang Tlp: 0341-580638. E-mail : bayumedia@telkom.net
ISBN : 979-3695-95-1
CETAKAN : I, Januari 2008.
HALAMAN : xxii + 192 hlm. 18 x 23
Buku ini menawarkan Surabaya kepada siapa saja, city branding-nya telah menjadi acuan guna meneropong masa depannya. Sparkling Surabaya, dikalau dicarikan padananya identik dengan “Surabaya Kinclong” Namun untuk jangkaun yang luas padanan ini tidak menguntungkan, karenan hanya dikenal oleh masyarakat kawasan tertentu, utamnya yang berbahasa Jawa. Buku ini memberkan makna filosofis dari Sparkling Surabaya, beserta nilai ikutan yang mampu diacu sebagai pendukungnya.
Sparkling Surabaya dipertaruhkan sebagai ujung tombak yang dapat diandalkan untuk menginspirasi warga lainnya [internally inspiring], merubah pola sikapnya menuju tindakan yang konstruktif dan produktif.
Situs-situs yang akan dipasarkan, dibahas secara sekunesial, seperti pada bagian 2 buku ini, yakni menjadikan Surabaya sebagai etalase Pariwisata Jawa Timur, sebagai Indonesia mini , mempariwisatakan Surabaya, serta menghidupkan kembali Sejarah kota.
Kemudian pada bagian lain, diungkap beberapa jenis wisata yang memiliki daya pembeda dengan kota lain, misalnya :
  • Wisata Pecinan Surabaya, barang kali ingin mengkopi Cina Town Kuala Lumpur dan Singgapore
  • Wisata Pemakaman Di Surabaya,
  • Wisata Ziarah, Geraja Katholik
  • Makanan Khas Surabaya
  • Wisata belanja, dan secara rutin diadakan Surabaya Big Sale
Dalam mendukung gagasan menuju kota yang kinclong, beberapa program juga diungkap antara lain


  • Revitalisasi Jembatan Petekan dan Rekonsiliasi dengan Eks penjajah
  • Membangun Wi-fi Zone, Smart City
  • Kalimas, sebagai “Zhung Jiangnya” Surabaya .
[Wusana kata: Tentunya yang tampak ini adalah sisi terang, atau situs putih, namun kita juga ingat sisi gelapnya, seperti dolly, aroma gelap yang melegenda Surabaya . Sparkling diharapkan pilihan tetap memperhatikan, mengeliminasi, mengisolasi atau sekedar mereduksi]

Thursday, May 29, 2008

PERAN PAK POLISI DI KOTA “BONEK” YANG BERUSIA 715 TAHUN.

Kota Bondo Nekat [Modal Nekad], yang sedang Ulang Tahun 715, ternyata mengundang hadirnya aparat keamaanan yang wibawa. Karena Bonek sering di candra negatif. Harus diakui saat ini citra negatif negatif itu merambah di mana-mana, sebuah citra negatif yang terbangun ketika sepak bola menjadi bagian hidup kota. Reputasi kota sangat ditentukan oleh kesebelasan bolanya. Ternyata membawa dampak sosial, yang dapat mengudang hadirnya marabahaya. Kini stigma itu melekat pada siapa saja, ketika meneropong Kota Buaya ini, selalu dikonotasikan dengan Bonek. Penelitian independen pernah dilakukan, banyak orang yang takut ketika harus transit di kota ini. Mungkin gambaran yang menyeramkan, karena drama sepak bola selalu berakhir dengan kerusuhan. Realitas inilah selanjutnya ditangkap sebagai masalah keamanan.
Warung menemukan buku yang terkait dengan persoalan keamanan kota Surabaya. Buku ini cukup beralasan hadir, karena pencitraan kota selalu diukur dari keamanan [security] dan kesejahteraan [prosperity].
Ternyata cukup mengejutkan, ada seorang-orang Polisi yang menuliskan pengalamannya, ketika membangun kota ini, melalui ranah pengabdiannya. Dia adalah, Kombespol Drs. Anang Iskandar, SH.MH, sang editor buku.
Dalam tugas menciptakan rasa aman sembari menjaga dinamika, digambarkan sebagai sesuatu yang tidak gampang. Namun pengabdiannya sebagai Polisilah, yang menggerakkan kesigapannya dengan mengambil posisi dan desisi, bukan hanya partisipasi, tetapi panggilan hati
Decak kagum meluncur dari mulut Dahlan Iskan, sang Presdir Jawa Pos Group atas buku yang dikreasi polisi ..
” Jarang bahkan langka seorang polisi menulis apalagi tentang tugas kesehariannya. Buku ini tidak saja berisi informasi, tetapi sekaligus sebagai referensi bagi siapa saja yang menggeluti tugas kepolisisan serta siapa saja yang tertarik tentang pelayanan kemasyarakatan”
Detil Buku:
JUDUL : Menjaga Surabaya Aman dan Kinclong
EDITOR : Anang Iskandar
PENERBIT: JP. BOOKS Jl. Karah Agung 45 Surabaya Telp: 031-8289999
CETAKAN II :Medio Pebruari 2007
ISBN : 978-979-3487-71-7
HALAMAN : v+ 213
[Kendati buku ini aroma bahasannya terkait erat dengan masalah keamanan, ternyata citarasa manajemen menjadi bagian yang tidak terlepasan. Piranti manajemen difunsikan ketika Polisi ingin membangun proefesionalitasnya. Buku ini menggabarkan bagaimana jajaran Powiltabes melakukan Human Capital Investment. Dalam membangun SDM, terdapat jurus-jurus yang digunakan sebagai pirantinya. Jurus itu antara lain:


  • Jurus Pertama mendinamisasi organisasi, dengan mempertimbangkan adanya kelemahan penempatan personil dalam struktur, status dan peran. Diantaranya penanaman pemahaman tentang Ceteris Varibus dalam hal pelaksanaan kewajiban yang harus dipenuhi oleh semua pihak yang berada dalam struktur organisasi
  • Jurus Kedua membangun Team Building, melalui penanaman semangat kerja ala Orkrestra. Dalam Orkestra, ditemukan adanya keharmonisan peran
  • Jurus Ketiga memacu bawahan agar merubah kultur reaktif menjadi proaktif
  • Jurus Keempat Menjadikan jumat malam sebagai malam ”rapotan” dan pemberian feedback atas kinerja seminggu untuk perbaikan ke depan
  • Jurus Kelima menyelenggarakan moment untuk mencari jati diri dikemas dalam bentuk kegiatan Outwardbond
  • Jurus Keenam, ketauladanan, kesederhanaan yang tersamar dalam berbagai penampilan, kumpul bersama, tidak mengharapkan diprlakukan istimewa.
  • Jurus Ketujuh, kebijaksanaan terhadap kesejahtreraan material/finasial dalam menyikapi kondisi keterbatasan....Tanpa harus kongsi dengan pengusaha ”abu-abu”, apalagi untuk tetap mempertahankan budaya lama Upetiisme sangat pantang dan diharamkan.[Hlm 57-59]

METAPORA SEPAK BOLA UNTUK KEPENTINGAN MEKANISME KERJA
Sungguh luar biasa tulisan bapak polisi ini, barangkali diilhami oleh seringnya tugas pengaman sepakbola, sehingga startegi permainan sepak bola dapat diacu sebagai mekanisme kerja.
Buku ini memperlihatkan TUPOKSI, diibaratkan sepak bola, misalnya:

  • POLSEK sebagai gelandang Tengah, POLSEK memerankan sebagai ujung tombak operasional
  • POLRES sebagai penyerang, ketika memerankan penyerang POLRES dituntut mengantisipasi kejahatan yang muncul dengan mereaksinya secara cepat dan tepat
  • POLWILTABES sebagai Libero, berfungsi sebagai pemberi semangat terhadap personil yang berada di bawahnya dalam melaksanakan kegiatan kepolisian.[Hlm64-67]

JURUS CANTIK NAN MANARIK
Masih banyak jurus yang dikoleksi pak polisi di kota bonek ini, sebagai upaya perwujudan citra diri ke puncak profersionalisasi, adapun jurus-jurus itu adalah:

  • Jurus 300, adalah jurus yang menstimuli masyarakat, jika memberikan informasi berkaitan dengan perilaku pak polisi yang nakal, diberi imbalan Rp. 300.000. Jurus ini sangat ampuh menjaga profesi polisi sebagai profesi mulia [nobile officum]
  • Jurus Unstructure learnin, adalah proses pembelajaran anggota yang tidak terjadwal, membahas masalah yang timbul pada hari itu baik mengenai indentifikasi masalah maupun problem solvingnya.

[masih banyak jurus lain yang memikat, tapi warung tidak dapat memuat semuanya, takut kuwalat]

POLISI SEJATI MENURUT BUKU INI
Buku ini memaparkan bahwa polisi itu harus rendah hati. Polisi yang rendah hati itu, polisi yang tidak sombong dan tidak bersikap adigang-adigung-adiguna, mau menghormati setiap orang tanpa memandang latar beklakangnya, sugih, mlarat, pinter, bodoh, suku, ras, agama maupun kepentinganyan. Polisi yang rendah hati juga polisi yang arif bijaksana, berakal budi sehat, berpikiran jernih, tahu yang benar dan yang salah.

[Wusana kata, itulah polisi kita, mudah-mudahan apa saja yang ada dibuku, sama dengan apa yang ada dilapangan. Kalau ada penyimpangan, haruslah penyimpangan yang positif (Positive deviance), sehinga "TATA TENTREM KERTA RAHARJA" terwujud dengan sempurna]

KAPAN PAK POLISI LAINNYA MENULIS???

ULANG TAHUN 715 SURABAYA, DENGAN ICON KOTA :”KEMALAN BADOKAN"

Mungkin diberi icon sebagai kota ”kemalan badokan” [gemar makan] cukup beralasan, indikasinya adalah jumlah restourant, depot, food court, sampai warung, sulit di hitung. Pejabat pemerintah kota pernah berucap, bahwa tambang emas kota ini adalah Hotel dan Restourant, hal ini ditengarai penyonkong PAD –Pendapatan Asli Daerah terbesar berasal dari sektor ini.
Makanan apa saja hadir di kota ini, mulai yang pedas hingga yang panas, tersedia tuntas. Mulai dari yang haram hingga yang halal, disajikan dengan handal. Dari aneh hingga yang ”nyeleneh” , harga remeh, dan mahal, pasti terjual.
Apa yang ada di Nusantara maupun Manca Negara, ada di kota ini.
Orang Batak, Menado, atau orang Toraja, pasti bisa makan nikmat di kota ini, karena makanan berbahan baku “kambing-kota” alias " guk-guk" alias anjing, tersedia, hampir di sudut kota. Menurut beberapa kawan yang gemar makanan khas ini, sekitar 17 titik yang menjualnya.
Bagaimana untuk makanan khas padang pasir? Ternyata warga Surabaya keturunan Arab, bisa juga bersantap, karena banyak pula makanan Timur tengah tersedia, utamanya di wilayah Surabaya Utara, tempat komunitas warga keturunan Arab berada. Roti Mariam, Gulai Kacang Hijau, Kambing Oven, hingga Nasi Kabuli ada di kota ini.
Bagaimana untuk orang Bali, tak perlu ragu, Ayam Bututu juga siap menunggu.
Plesetan juga bagian hidup dalam dialog orang Surabaya, oleh karenanya orangpun tidak terkejut bila mendengar di kota ini, terdapat makanan dengan nama ”rawon-setan”. Nama itu membawa keberuntungan. Diseputaran kampus Unesa Ketintang Surabaya, juga dijumpai minuman yang digemari kaum laki-laki, minuman itu berupa susu telor madu, agar keren, nama minimun itu dibuat mirip merk mobil yang terkenal tahun delapan puluhan. ”HIJET SUPER”, usut punya usut ternyata kepanjangan dari, Higiene Jahe Telor Susu Perah.
.......Kemudian mengapa warung ini menjuluki surabaya sebagai kota dengan Icon ”Kemalan Badokkan”, karena warung menemukan terbitan yang khusus membaha situs-situs makanan. Buku itu berjudul ”Waroeng Cangkrukan Suroboyo, yang menyajikan sekitar 150 tempat makan pilihan di Kota Surabaya dan sekitarnya.
Detail buku:
JUDUL : Waroeng Cangkrukan Suroboyo
PENULIS: Prasto Wardoyo, Roesdiono, Siswano
PENERBIT : Tiara Aksara. Jl. Trenggilis Tengah I blok K. No. 26 Surabaya Telp. 031-8418827. E-mail: tiara_aksa@yahoo.co.id
CETAKAN : I Mei 2008
ISBN : 978-979-012-073-0
HALAMAN :viii+92 hlm, 23 Cm.