SILA CARI DI SINI!

Google

Saturday, July 5, 2008

PROF. HM.SURYA: SELAMAT JUANG DI DOMAIN YANG LAIN

BUKU YANG BERSERAKAN DI ARENA KONGRES PGRI ke-20 PALEMBANG

Kongres ke-20 telah berakhir, kearifan generasi tua memberi arti luas dalam menerawang masa depan organisasi. Paradigma harus diubah, namun nahkoda harus cerdik dalam mengendalikan biduk yang ditumpangi ratusan ribu guru. Kali ini generasi tua telah memberikan pelajaran baru, bahwa regenerasi adalah jawaban pasti.
Palembang telah menjadi saksi bahwa seorang-orang generasi muda kini telah menerima estafet amanah, untuk mengomandani organisasi yang bernama PGRI.
Dr. Sulistiyo, MPd, kelahiran Banjarnegara yang belia, Rektor IKIP PGRI Semarang, telah memasuki labirinnya organisasi untuk berjuang di ranah Oemar Bakri.
Warung ini, juga ikut menyaksikan suasana sakral itu, dan tentunya ingin mengapresiasi lewat buku.
Beberapa buku telah terkumpul terkait dengan sosok Prof. Dr HM. Surya mantan Pengurus Besar PGRI, akan di candra warung ini. Maksud pencadraan agar buku-buku itu menjadi pembanding pikiran bagi Pengurus baru, dan para guru, agar mampu mengkoparasikan sebuah keberhasilan kini dan mendatang.

ERA KEBANGKITAN GURU.
Warung akan mencandra b uku dengan tajuk “Era Kebangkitan Guru” [Sebuah rekaman perjuangan PGRI Masa Bhakti XVIII dan XIX 1998-2008]
Detil Buku:
JUDUL : Era Kebangkitan Guru” [Sebuah rekaman perjuangan PGRI Masa Bhakti XVIII dan XIX 1998-2008]
PENULIS/PENERBIT: Pengurus Besar PGRI. Jl: Tanah Abang III No. 24 Jakarta 10160, Indonesia Telp: (62-21) 3841121/ 3849856. E-mail : pb.pgri@yahoo.com Web: http://www.pgri.co.id/
CETAKAN : 2008
HALAMAN : 117 hlm
Buku ini memposisikan sebagai sebuah rekaman perjuangan, tentunya terkait dinamika itu, maka harus mengikuti resonansi politik yang sedang terjadi.
DAYA SUAI ORGANISASI
Buku ini memposisikan sebagai sebuah rekaman perjuangan, tentaunya dinamikanya mengikuti resonansi politik yang sedang terjadi.
Genderang pergerseran dari orde baru ke orde reformasi membawa perubahan konsekuensi, semua organisasi dituntut untuk memiliki kemampuan adaptasi. Termasuk ornagisasi yang dinaungi guru ini. Tampak dalam rekaman sejarah organisasi ini ternyata melakukan strategi jitu yang mengembangkan daya suai terhadap riak gelombang politik yang sedang terjadi.
Adaptasi PGRI terhadap tuntutan perubahan di pahami, dalam buku ini diurai bahwa PGRI harus menjadi bagian dari perubahan itu namun harus tetap berada pada pusaran tanpa kehilangan eksistensi . Adaptasi yang harus dilakukan mulai dari tantangan global, nasional, dan organisasional. [hlm; 15]

STRATEGI DASAR DALAM REFORMASI ORGANISASI
Sebagai implementasi daya suai itu, terdapat strategi dasar reformasi organisasi, yakni peningkatan keberdayaan SDM organisasi dalam berbagai jenjang. Dalam penerapannya terdapat empat metode yakni:

  1. Intensifikasi silaturakhmi
  2. Optimalisasi kemitraan
  3. Aktualisasi program kerja
  4. Transparansi manajemen

Catatan yang diberikan buku ini terkait dengan pelaksanaan kinerja PGRI selalu menjunjung tinggi strategi yang sistemik, sinergik dan sembiotik

  • Strategi sistemik: adalah strategi yang memberikan pandangan dari sudut system dengan sub system dan supra sistemnya dalam arti hubungan structural, fungsional, dan interaktif, yang menyangkut masukkan, proses, dan keluaran. Strategi ini berkaitan erat dalam upaya untuk menajaga keseimbangan antara perubahan dan kesinambungan, antara konteks dengan koherensi, antara tatanan yang komprehensif dengan tatanan yang komplementer.
  • Strategi sinergik: adalah strategi untuk mengembangkan diri secara lebih luas untuk memperoleh nilai tambah dalam hasilnya melalui perencanaan pro aktif dan keterpaduan inovatif di antara berbagai tindakan nyata
  • Strategi simbiotik, adalah strategi untuk mencari ketrlibatan kolaboratif, kemungkinan jaringan kerja dengan pihak yang terkait. [hlm:21]

GURU MENGGUGAT:
Sebagai gebrakan yang terjadi awal tahun 2000, sebagai wujud kebangkitan guru untuk memperjuangkan hak-hak azasi guru. Maka PGRI melakukan demonstrasi besar-besaran baik di Jakarta maupun di daerah. Kepada pihak DPR-RI disampaikan naskah “Guru-Mengggugat”. Roh dari naskah gugutan itu adalah:
PGRI Mendesak dan menuntut pihak eksekutip dan legislative, untuk merealisasikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Pemberian tunjangan fungsional guru dan tenaga kependidikan lainnya
  2. Pelaksanaan desentralisasi pendidikan dalam rangka pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah
  3. Peningkatan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan lainnya
  4. Adanya undang-undang khusus yang mengatur guru sesuai dengan rekomnedasi ILO/UNESCO tentang “Status Guru”
  5. Realisasi peningktan anggran pendidikan sebesar 25 % dari APBN

GURU-GURU DI JAWA TIMUR PELOPOR JUDICIAL REVIEW ANGGARAN PENDIDIKAN
Ketajaman dan kepekaan nurani guru-guru Jawa Timur di apresiasi oleh buku ini. Ternyata yang mempelopori agar anggaran pendidikan itu sesuai yang diharapkan adalah kelompok Guru-guru Jawa Timur. Oleh karenanya perlu juga disadari oleh guru-guru di Nusantara agar tidak melupakan sejarah. Artinya saudara-saudara kita yang berasal dari Jawa Timur telah berjuangan untuk rekan senasib sepenanggungan, di wilayah tanah air ini. Namun perjuangan itu kandas, MK tidak mengabulkan tuntutan dari guru Jawa Timur. Penolakkan itu karena diajukan ketika APBN sudah berjalan. Artinya jika gugatan itu diajukan sebelum APBN dijalankan, kemungkinan besar Mahkamah Konstitusi akan memenangkan. Kejadian itu dilakukan pada April tahun 2005.
Delapan bulan kemudian, tepatnya pada bulan Desember 2005, PB PGRI bersama ISPI—Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia dan 43 orang guru pengurus PGRI dari 21 Provinsi, mengajukan gugatan constitutional review kepada MK, agar menyatakan bahwa UU No. 13 Tahun 2005 tentang APBN dinyatakan bertentangan dengan konstitusi dan dituntut untuk dibekukan. Setelah proses sidang hingga kelima kali, akhirnya gugutan itu di menangkan PGRI dan ISPI.
[hlm: 87]

[Wusana kata: Buku sangat luar biasa sebagai dokumen yang harus dipelajari oleh guru-guru Indonesia. Masih banyak yang diutarakan dalam buku ini, misalnya sikap politik PGRI terhadap pemilihan presiden. Buku ini sangat membanggakan rekan-rekan PGRI propinsi Jawa Timur, karena secara tidak langsung mendapatkan pengakuan, bahwa PGRI Jawa Timur mempelopori upaya-upaya peningkatan pendidikan dan kesejahteraan guru.Terima kasih Jawa Timur]

Sunday, June 29, 2008

REFERENSI BOLA PALING TOP: DRAMA ITU BERNAMA SEPAK BOLA

Pengemar bola, termasuk guru/dosen olah raga tidak boleh melewatkan buku yang satu ini. Sangat dianjurkan untuk para presenter “dadakan” untuk membacanya, agar modal yang sangat terbatas menjadi luas.
Buku ini juga merupakan bacaan wajib kandidat Bupati atau Walikota, agar jika terpilih mampu membawa kotanya menjadi tenar karena sepakbola. Buku ini juga diperuntukkan motivator dan inspirator sepakbola, agar ketika membawakan perannya mencapai sasaran yang sebenarnya.
Karakter buku ini memberikan informasi menghibur, kupasannya yang tajam dan enak dicerna, dan dikreasi secara cemat melalui induksi pengalama empiri.
Buku ini bertajuk “Drama itu Bernama SepakBola” – Gambaran Silang sengkarut Olahraga, Politik, dan Budaya.
Detil buku
JUDUL : Ddrama itu Bernama Sepak Bola
PENULIS: Aries Natakusumah
PENERBIT: PT Elex Media Komputindo. Kelompok Kompas-Gramedia Jakarta. Jl. Palmerah Selatan 22 Jakarta 10270. Telp. 021-5483008. Web page : http://www.elexmedia.co.id/
CETAKAN: 2008
ISBN: 978-979-27-3059-3
HALAMAN: xvii + 333 hlm

Tiga kalimat kunci untuk menyelami buku ini, diberikan lewat sampul belakang buku:
IDEOLOGI SEPAK BOLA
Kesantunan seseorang tak dinilai dari perlakukan di pada temannya, tetapi terhadap lawan. Demikian bunyi sebuah pepatah klasik yang bias berlaku di sepak bola.
Secara tradisonal, Italia adalah lawan yang paling disegani Jerman. Di depan pemain Italia, pemain Jerman sering merasa minder sebab di benak mereka selalau terpatri bahwa orang Italia itu selalu lebih baik, lebih kreatif, lebih cerdik, lebih necis. Sebaliknya, orang Italia selalu menghormati il spirito Tedesco, semangat khas Jerman. Di mana pun Gli Azzurri bertemu Der Panzer, gensinya dijamin membara. Bukan perihal menang kalah, tetapi soal gengsi, peraturhan ideology bangsa semata. Dalam kadar tertentu, itu bias terjadi pada Indonesia dan Malaysia. Sepak bola bukan melulu di atas rumput hijau.

GLOBALISASI SEPAK BOLA
Masterplan bisnis kaum yahudi, salah satu berbunyi “jika bisa menguasai London, berarti akan menguasai dunia” Maka suda bias ditebak mereka selalu memilih London untuk berbisnis sepak bola, sebab New york atau Paris, dia tidak akan bias menguasai dunia lewat sepak bola.
Uang dan sepak bola sebuah perkawinan hebat yang belakangan ini makin diidamkan para miliuner yahudi. Hal inilah yang memotivasi Roman Abramovich dan Malcolm Glazer, pemilik dua klub terkuat di Eropa saat ini. Gara-gara kepintarannya, dengan mudah dan dari jauh pula, mereka bisa merogoh isi dompet kita untuk ber-langganan televisi kabel
MEMAHAMI SEPAK BOLA
Selain uang sepak bola adalah symbol nasionalisme, politik, kultur, ekonomi, bahkan peradaban dunia yang memakai kata globalization dan civilization. Namun karena memang dari sononya sepak bola diidentikan dengan budaya Eropa, maka hal itu bias menjadi sulit, misalnya, bagi orang-orang Amerika coba memahaminya.
The Clash of Civilization and the Remarking of World Order, buku terkenal Samuel Huntington yang mengupas scenario akabar perperangan peradaban masa depan dunia, seolah kurang sempurna sebab atak menyingnguung kedahsyatan efek permainan super global ini.
Beruntung, kemudian muncul karya Franklin Foer, How Soccer Explains the World: the Unlike theory of Globalization , yang seolah-olah melengkapinya. Jika ingin memahami lebih dalam, maka Anda wajib memilki buku ini untuk masuk ke dalam panggung drama sepak bola di berbagai pelosok dunia, termasuk Indonesia. Sepak bola akan mengajarkan arti kemanusiaaan
...........
[Hanya sekedar info, belum diposting tuntas. Warung tidak melakukan masak-memasak selama 4 hari mulai tanggal 30 Juni – 4 Juli 2008, warung sedang melayani “masak-memasak” pada Kongres PGRI di Palembang, mohon maaf]
.........
Catatan: Artikel yang ditulis dalam bentuk features, disuguhkan pada khlayak bacanya dengan diberi tajuk “drama”, terdiri dari 65 artikel.
Setiap artikel yang ditulis disertakan keterangan pemicunya. Misalnya pada artikel ke 23 “Politik Sepak Bola Stalin”
Selanjutnya ditulis pemicunya.
….Artikel ini ditulis untuk menyorot sepak terjang politik Presiden Rusia Vladimir Putin yang menggunakan konglomerat untuk memajukan serpak bola , sekaligus menapaktilasi cara-cara yang dipakai oleh ditaktor Joszet Stalin.

SEPAK BOLA POLITIK

Final Piala Eropa 2008, denyut penyelenggaraannya menyentuh hingga pelosok dunia, dari pojok kampung yang ada di belahan dunia, hingga kampung yang jauh dan tak terbilang kilometernya dari tempat penyelenggaran. Magnet stadion yang berada di Wina Austria itu, getarnya hingga di Indonesia. TV, Radio memberitakan, koran pun ramai membuat sisipan yang dikhususkan. Bola memang luar biasa, namun jangan terlena. Seharusnya daya getar itu juga sebagai sarana pematik bangsa kita, agar bangkit dari tidur lelap sebagai bangsa penikmat. Kita tentu mampu, sejarah bola Indoensia pernah mencatatnya, tapi mengapa kini sirna. Sepakbola Indonesia saat ini, seakan hanya sebagai pelengkap penderita. Ada daripada tidak, bukan ada karena ada.
Warung kali ini ingin mengangkat buku yang bercerita tentang sepakbola Indonesia, buku ini menempatkan dirinya sebagai buku sejarah olahraga, khusunya bola. Dikreasi oleh seorang wanita, Srie Agustina Palupi, lulusan Jurusan Sejarah Universitas Gajahmada. Menurut penulisnya di negeri ini pernah terbit buku yang berkisah tentang bola, namun hingga saat ini belum mampu di endus, buku itu adalah 40 Jaar Voetbal in Nederlandsch-Indie, 1894-1934 [Soekaboemi: Bareety, 1934]. Konon menurut cerita buku ini berisi perjalanan sepak bola Indonesia di bawah NIVB—Nederlandsch Indische Voetbal Bond. Dan beberapa mengenai sepak bola Tionghoa. Buku ini sangat penting untuk dicari sebagai wahana pencermatan, bagaimana Belanda melihat persepakbolaan Nusantara.
Detil Buku:
JUDUL : Politik & Sepak Bola Di Jawa, 1920-1942
PENULIS : Srie Agustina Palupi
PENERBIT: Ombak, Jl. Jatimulyo, TR I/273 A. RT 04 RW 02 Tegalrejo Yogyakarta 55242. Telp. [0274] 589243. E-mail : Ombak_community@yahoo.com
CETAKAN: 2004
ISBN: 979-3472-11-1
HALAMAN xxx+ 120 hlm; 15 x 21 cm
Nasionalisme ternyata dapat disokong oleh kegiatan sepakbola, buktinya ketika itu persepakbolaan Indonesia, dengan berani menyatakan perkumuplannya dengan sebutan PSSI [Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia]. Perkumpulan ini berdiri jauh sebelum kemerdekaan Negara Republik Indonesia.
PSSI juga telah melangkah jauh, dan secara strategis membuat Gentlemen’s Agreement dengan NIVU [ Nederlandsch Indissche Voetbal Unie ]. Kerjasama ini secara tidak langsung perkupulan sepakbola kita yang menggunakan nama Indoensia mendapatkan legitimasi. Inilah kebanggaan ketika itu, bahwa sepakbola mampu sebagai wahana pengakuan eksistensi bangsa
Pengantar buku ini adalah Shindunata, dan dalam buku ini diceriterakan bahwa perkumpulan bola “non-pri”-Tionghwa, juga maju dengan pesatnya. Pada tahun 1912 misalnya, sudah berdiri klub Tionghwa yang kuat dan besar, yakni Tjie Ying Hwee [Donar], Asiatik, Eeeviol [Peng Ho Sia], Tiong Un Tong. Di Semarang ada klub Ik You Sia dan Union. Lalu Tulung Agung, Tjoe Tie Hwa, di Solo, Solosche Voetbal Club, dan di Surabaya ada Klub-klub Tionghwa.
Tqak mengherankan, jika pada saat itu juga mampu melahirkan pemain Tionghwa yang disegani. Kontribusinya terhadap pergerakan nasional dapat dipandang luar biasa, karena secara diam-diam juga ingin bersaing dengan NIVB, sebuah organisasi sepak bola milik Belanda.

PENALTY YANG SOPAN SANTUN
Menarik juga dalam buku ini, terdapat ceritera yang menggelikan dan unik, yakni tentang rasa ewuh pekewuh [rasa malu dan sungkan]. Dikatakan jika menjebol gawang lawan lewat pinalty atau gol; dua belas pas adalah sesuatu yang tidak patut dilakukan dan memalukan. Karena perasaan tersebut, beberapa algojo penalty sengaja membuang tembakannya atau sengaja pelan-pelan menembak ke arah kipper, agar dengan mudah ditangkap.

PSSI PERNAH BANGKRUT DAN HAMPIR MENEMUI AJAL.
Tentunya Belanda sebagai penjajah tidak ingin sepak bola kita menjadi berjaya, apalagi menyaingi perkumpulannya. Ketika itu PSSI tak mempunyai dana untuk menghidupi organisasi dan kompetisi, padahal lekancaran kompetisi dan peningkatan mutu permainan adalah keinginan dari setiap perkumpulan. Keadaan tersebut dip[erparah dengan kerugian yang selalu diderita PSSI pada setiap penyelenggaran pertandingan sepak bola antar anggota Persatuan Sepakraga Indoensia. Bahkan pada tahun 1932, organisasi sepak bola bumi putra ini hampir menemui ajalnya, tetapi atas anjuran dari dr. Soetomo akhirnya PSSI dapat hidup

Saturday, June 28, 2008

TEMPAT KENCAN JAKARTA,


Tempat Kencan murah meriah!
Remaja kencan tak mungkin mati kelaparan.
Ternyata apa saja yang kita lihat memberi manfaat, apa saja yang kita cermati pasti memberi arti. Mulai dari soal kekumuhan hingga persoalan perut, bisa dirajut. Jika kita pandai merangkai kata, akhirnya jadilah sebuah karya yang aduh hai!.
Ada seorang-orang cewek yang lahir dengan nama D. Anisa Anindhika, ternyata adalah seorang yang piawai dalam soal rangkai-merangkai. Buktinya pencermatan tajamnya kepada makanan atau jajanan, mampu mengantarkan sebuah karya tulis yang manis, dan kemungkinan juga laris manis. Karya itu adalah buku yang bersenandung pada wilayah dunai perbogaan, atau dunia makan-memakan.
Judul buku itu terkesan diperuntukkan para remaja, yang sedang mabuk asmara, namun dukungan sakunya tidak merata, alias duit kadang pas, kadang terbatas. Melalui karya ini remaja tak perlu was-was, karena buku ini berfungsi sebagai pemandu sekaligus kamus.
Tentunya kamus yang berisikan informasi mengenai tempat kencan yang murah, mulai dari sudut satu ke-sudut dibentangkan. Persoalan harga yang acapkali jadi perbincangan juga terpapar nilai nominalnya, sehingga orang tak perlu kuwatir, ketika akan mentraktir. Pada sampul depan buku tertera tulisan, “makan berdua kurang dari Rp.. 50.000” itulah sebagai kekuatan buku sekaligus kata kunci buku ini.
Yang menjadi kekuatan lain disamping informasi harga di cantumkan, diikuti pula dengan alamat lengkap, serta narasi yang jeli. Jam buka juga tertera dengan jelas.
Sebagian contoh narasi yang ada di buka ini.
Nukulian untuk resto Mie Bola.
Range harga; Rp. 500 s/d Rp. 10.000
Lokasi:……..
Buka hari Senin-Jumat dari pukul 09.00 hingga pukul 21.00
Buka hari Sabtu-Minggu dari pukul 09.00 hingga pukul 24.00
Catatan: terdapat notasi bintang, sebagai tanda kelas warung tersebut.
Narasi:
“Mie bola? Lucu ya dengernya. Emang bakso itu mirip bola. Maksudnya, resto ini menyajikan mie dan baso olahan sendiri di jamin halal, bersih enak, tanpa bahan pengawet, dan harga terjangkau. Selain itu Mie Bola juga memfasilitasi acara nontpon bola bareng pada hari Sabtu-Minggu_Libur di malam hari termasuk pertandingan-pertandingan Big Match melalui proyektor.

Detil Buku :
JUDUL : Kencan Jakarta
PENULIS : Anisa Anindhika
PENERBIT: Gagas Media Jl. Haji.Montong No.57 Ciganjur – Jagakarsa, Jakarta Selatan 12630
E-mail : redaksi@gagasmedia.net. Website : http://www.gagasmedia.net/
CETAKAN : 2008
HALAMAN : vii+ 144 hlm; 13 x 19 cm
ISBN: 979-780-220-5

Wednesday, June 25, 2008

MERAWAT KEMAJEMUKAN= MERAWAT INDONESIA

Indonesia itu identitas, Indonesia itu Integritas.

Seperti kata garis tangan, bahwa di dunia ini tidak ada bangsa atau negara yang menginginkan kepunahannya. Warga bangsa selalu menanamkan dalam pikirannya, bahwa negeri yang dipijaki harus hidup dalam seribu abad lagi. Bukan hari dan bukan tahun, namun kalau bisa sepanjang zaman negeri itu abadi.
Indonesia itu sebuah entitas yang memiliki ciri yang sangat khas, didalamnya berhimpun beribu-beribu pulau, yang membawa konsekuensi konsekuensi kualitas dan kuantitas yang mendiaminnya. Beribu-ribu bahasa ikut mendiaminya, beribu budaya, beribu adat kebiasaan, berjuta pikiran, dan beribu warna keinginan ikut bersemayam di buni Nusantara ini. Kalau bangsa yang mendiami telah lupa menjamin intergritas dan identitas, maka kenyataan yang didapat adalah hancurnya entitas Indonesia.
Betapa mulianya ketika bangsa ini mampu menyambung-nyambung menjadi satu, dari tanah Sabang hingga ke dataran timur Merauke. Kebangga yang tidak ada tawar, namun harus disyukuri karena Tuhan memberikan hadiah bentangan tanah yang amat luas bahkan menjadi sabuk equator dunia. Kini bagaimana bangsa semulia ini merawatnya, dan tetap menjaga kemajemukannya?.
Warung menemukan sebuah buku, dari buah benak cerdas Azyumardi Azrra, seorang-orang profesor yang mengagungkan entitas Indonesia dengan berbagai kekuatannya.
Kesadaran yang melandasi pemuatan buku ini, karena fenomena yang tampak di depan kita, manusia Indonesia sedang dalam deman menggigil, dan sedang menggigau seakan lapas dari kesadarannya. Disamping itu warung sangat salut dan menghargai sebuah lembaga yang mencitrakan dirinya sebagai lembaga yang bernama INPULS--Insitute Multicuralism and Pluralism Studies], sehingga hadir buku secerdas ini.
Sisi lain ketertarikan mengangkat tulisan ini, karena senyampang dalam afmosfir 100 tahun kebangkitan Nasional, warung menggangap inilah saat yang paling tepat.
Detil Buku
JUDUL: Merawat Kemajemukan Merawat Indonesia
PENULIS: Azyumardi Azra
PENERBIT: Kanisius. Jl. Cempaka 9 Deresan, Yogyakarta 55281, Indonesia Telepon [0274]- 563349, 520549. E-mail: office@kanisiusmedia.com Website: http://www.kanisiusmedia.com/
ISBN : 978-979-21-1768-4
CETAKAN: 2007
HALAMAN: 40 hlm

INDONESIA SANGAT BERUNTUNG.
Menurut buku ini kemajemukan adalah blessing in disguise bagi tanah ini, bagi bangsa ini. Alasannya sederhana saja; kemajemukan adalah sebuah sunnatullah, huum alam, yang bangsa dan Negara ini sangat beruntung memilikinya. Tidak banyak Negara-negarta yang seberuntung Indonesia, yang memiliki krmajemukan yang penuh dengan kekayaan sosio cultural yang tidak ternilai.

PERLU MERAYAKANNYA :
Merayakan kemajemukan adalah merawat Indoensia. Tak akan ada sebuah entitas bangsa dan Negara yang bernama Indonesia, jika tidak ada kemajemukan. Tidak akan ada Indonesia, jika yang ada hanyalah ke-ika-an, ketunggalan atau monokulturalisme. Karena itulah kemajemukan negara-bangsa ini harus dipelihara, dirawat, dipberdayakan, dan difungsionalisasikan untuk hari ini dan masa depan Negara-negara bangsa Indonesia yang lebih baik. Karena itulah anak bangsa ini sepatutnya tidak sekedar merayakan kemajemukan; apalagi memperlakukannya secara taken grated, sebagai suatu yang biasa saja.

KRISIS BUDAYA MEMBUAT KITA MUDAH NGAMUK DAN ANARKIS
Buku ini menyadarkan kepada kita, bahwa krisi budaya akan memberikan beban kepada bangsa ini, pencermatan dan tidakkan arif sangat diperlukan. Pengamatan Prof Azyumardi Azra, sangat tepat untuk dipaparkan pada lembarang warung ini, karena dimungkinkan membuat kita sadar, dan melakukan penggandaan kesadaran.
…….Krisis social budaya yang meluas itu dapat disaksikan dalam berbagai bentuk disorientasi dan dislokasi banyak kalangan masyarakat kita, misalnya; disintergrasi social politik yang bersumber dari euphoria kebebasan yang nyaris kebablasan; lenyapnya kesabaran social [social temper] dalam menghadapi realitas kehidupan yang semakin sulit sehingga mudah mengamuk dan melakukan berbagai tindakan kekerasan dan anarki; merosotnya penghargaan dan kepatuhan terhadap hukum, etika, moral, dan kesantunan social dam keadaban public; semakin meluasnya penyebaran narkotika dan penyakit social lainnya.
Krisis budaya yang tiada henti, akan dapat menyabik-cabik kerekatan atau soliditas kita sebagai bangsa majemuk.
HARAPAN BUKU INI.
….Realitas Indonesia yang multicultural berhadapan dengan berbagi masalah dalam masa reformasi sekarang, maka terlihat adanya kebutuhan mendesak untuk merekonstruksi kembali ”Kebudayaan Nasional Indonesia” yang dapat menjadi integrating force yang mengikat seluruh keragaman etnis dan budaya tersebut. Pembentukan masyarakat multicultural Indonesia yang demokartis—sekalilagi—tidak bisa secara taken for granted atau trial and error. Sebaliknya harus diupayakan secar sistematis, intergreted, dan berkesinambungan. Salah satu langkah yang paling strategis adalah melalui pendidikan multicultural yang diselenggarakan melalui lembaga pendidikan, baik formal maupun non formla, dan bahkan informal dalam masyarakat luas.

Monday, June 23, 2008

JAKARTA TAMBAH USIA, TAMBAH DOYAN MAKAN

SELAMAT ULANG TAHUN JAKARTA ke 418, CEPET GEDE KARENA DOYAN MAKAN
Ketika Jakarta menyandang sebutan Ibu Kota Negara, maka secara otomatis menjadi “growth center” atau pusat-pusat perkembangan di sini pula masalah akan menumpuk, dan silih berganti mewarnai kota ini. Namun perlu juga disadari, bahwa sebagai pusat perkembangan, selalu mengundang dampak logis berupa daya tarik, akibatnya kehadiran manusia secara masal ke wilayah ini, akhirnya sulit dihindari. Hampir pasti setiap usai lebaran Jakarta akan melakukan entry baru penduduknya, maka ketika itu pula jumlah penduduk akan merayap naik hingga belasan persen.
Group musik legendaries, yang pernah disateru mendiang Presiden Soekarno, mengisahkan masalah tragis ini, dengan lirik yang selalu melekat ke kuping siapa saja yang mendengarkan.
………Ke Jakarta akau kan kembali
………Walaupun apa yang kan terjadi
Makna dalamnya kendatipun hujan emas dikampung, lebih baik hidup di Jakarta kendati kesana kemari harus memakai pelampung.
Nah jika sudah banjir, dan beberapa daster ibu-ibu basah, sarung juga mengapung, timbul pula lagu nyaring yang hinggap di kuping.
.......Siapa suruh datang Jakarta
.......Siapa suruh datang Jakarta,....
Karena menjadi muaranya siapa saja, maka kota Jakarta juga menjadi album makanan makanan Nusantara. Apa saja yang ada di kampong kita, akan siap juga di kota Jakarta.
Dalam HUT ke 418, warung ini menemukan buku gres, yang terkait dengan dunia perut kota Jakarta. Buku ini seperti map [peta], dari penyedia makanan yang tumbuh kembang di Ibu Kota. Melalui buku ini seorang-orang akan mudah mencari situs-situs makanan. Secara bersamaan terdapat dua buku yang lahirnya tidak dapat dibedakan dalam minggu. Buku yang pertama memuat dunia makanan di wilayah Jakarta dengan patokan harga paling mahal Rp. 15.000, sedangkan lain adalah peta makanan di Jakarta.
Lahirnya buku ini, tentunya tanpa sebab. Lahirnya penuh alasan, barangkali memang ingin memberi petunjuk wisatawan, atau mungkin sebagai kamus urban. Mungkin pula buku ini lahir karena orang Jakarta Doyan Makan.
Detil Buku itu
JUDUL : Jajanan Malam Jakarta di Bawah 15 Ribu
PENULIS : Dewi Fita & Mala Aprilia
PENERBIT: Bukne: Jl. Haji Montong No.57 Ciganjur – Jagakarsa, Jakarta Selatan 12630
E-mail : redaksi@bukune.com. Website : www.bukune.com
CETAKAN : 2008
HALAMAN : iii+ 145 hlm; 13,5 x 20 cm
ISBN: 979-602-8066-11-7

JUDUL : Jajanan Spektakuler Jakarata di bawah Rp. 15.000
PENULIS : Raditya Dika [editor]
PENERBIT: Bukne: Jl. Haji.Montong No.57 Ciganjur – Jagakarsa, Jakarta Selatan 12630
E-mail : redaksi@bukune.com. Website : www.bukune.com
CETAKAN : 2008
HALAMAN : iii+ 145 hlm; 14,85 x 21 cm
ISBN: 979-799-056-7
[Buku ini dirancang cantik, hasil kreasi yang menyenangkan, dan cukup menggoda. Visualisasinya memang sengaja dipersiapkan, harga dicatumkan, bahkan alamat jelas di tulis tuntas]

Friday, June 20, 2008

APA MEGAPA “FPI” ITU, LAHIR?

Ketika karut marut di tanah air memunculkan fragmentasi kekerasan yang berlangsung di altar terhormat Monumen Nasional, orang menjadi terbelalak kembali matanya. Bahwa bangsa kita yang memiliki karakter multi varian yang uniq itu, membawa nasib bawaan, yakni pemilik pematik gesek yang dahsyat. Dan ketika orang atau organisasi berada pada pusaran bio-rhythmic yang lemah, acapkali bawaan tersebut menimbulkan nafsu berhadapan. Tragedi ini mendorong warung ingin melihat jati dirinya organisasi yang kali ini sering menjadi pokok berita di domain pemberitaan. Organisasi yang dimaksud itu adalah FPI, warung ini sangat ingin mengetahui latar belakangnya. Apakah FPI itu identik dengan organisasi yang hanya mengedepankan kekerasan, atau karena kondisi yang saat ini terjadi merupakan akumulasi kesabaran yang tidak mendapatkan respon seimbang. Atau yang lain karena atmosfir politik, atau nuansa lainnya.
Warung menemukan latar belakang lahirnya FPI, hingga tujuan dan struktur, pada pada buku Al- Zastrouw Ng.
Detil Buku:
JUDUL: Gerakan Islam Simbolik [Politik Kepetingan FPI]
PENULIS: Al- Zastrouw Ng
PENERBIT : PT LKIS Yogyakarta Salakan Baru No. 1 Sewon Bantul. Jl. Parang Tritis Km, 4.4. Yogyakarta. Telp: [0274] 387194, 7472110. E-mail: elkis@indosat.net.id
CETAKAN: I Nopember 2006
HALAMAN: xviii + 192 halaman; 12 x 18 cm
ISBN: 979-25-5254-5
Latar belakang berdirinya FPI
Menurut para aktivis Front Pembela Islam [FPI], pada era reformasi, pemerintah tidak dapat mengendalikan terjadinya tindak kemaksiatan di masyarakat. Hal itu terbukti dengan maraknya praktik perjudian, narkoba, minuman keras, dan beroperasinya tempat-tempat maksiat secara terbuka. Oleh karena pemerintah tidak bersikap tegas terhadap masalah kemaksiatan maka umat Islam, menurut kelompok ini, berkewajiban mengambil inisiatif membantu pemerintah untuk memerangi kemaksiatan tersebut. [hal: 89]
Dari sinilah kemudian berdiri FPI. Kelompok ini secara resmi berdiri pada tanggal 17 Agustus 1998, bertepatan dengan 24 Rabiuts Tsani 1419 H. di pondok pesantren Al-Umm, Kampung Utan, Cipuitat, Jakarta. FPI didirikan oleh sejumlah haba’ib, ulama, muballigh, serta aktivis muslim dan umat islam. Tokoh yang mempelopori adalah Muhammad Rizieg Shihab.[hal:89]
Situasi social-politik yang melatarbelakangi berdirinya FPI dirumuskan oleh para aktivis gerakan ini sebagai berikut:
Pertama, adanya penderitaan panjang yang dialami umat Islam Indonesia sebagai akibat adanya pelanggaran HAM yang dilakukan oknum penguasa
Kedua, adanya kewajiban bagi setiap muslim untuk menjaga dan mempertahankan harkat dan martabat Islam serta umat Islam.
Ketiga, adanya kewajiban bagi setiap muslim untuk dapat menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.[hal:90]
Tujuan berdirinya FPI.
Sebagaiman tertulis dalam dokumen risalah histories dan garis perjuangan FPI, tujuan berdirinya FPI adalah untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
amar ma’ruf adalah perintah untuk melakukan segala perkara yang baik menurut hokum syara’ dan hukum akal. Sedangkan nahi munkar, adalah mencegah kejahatan/kemungkaran, yakni setiap perkara yang dianggap buruk oleh syara’ dan hukum akal. Ruang lingkup penerapan amar ma’ruf nahi munkar ini sangat luas dan meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu, diperlukan adanya kerja kolektif dari seluruh elemen umat Islam untuk melaksanakannya.[hal:91]
Metode pencapaian tjuan
Dalam mencapai tujuan amar ma’ruf, FPI mengutamakan metode bijaksana dan lemah lembut melalui langkah : mengajak dengan himah [kebijaksanaan, lemah lembut), memberi mau’idzah hasanah [nasihat yang baik], dan berdiskusi dengan cara yang terbaik. Sedangkan dalam nahi munkar , FPI mengutamakan sikap yang tegas melalui langkah-langkah: menggunkan kekuatan/kekuasaan bila mampu dan menggunakan lisan dan tulisan; bila kedua langkah tersebut tidak mampu dilakukan maka nahi munkar dilakukan dengan hati, yang tertuang dalan ketegasan sikap untuk tidak menyetujui bentuk kemungkaran.
Faham keagamaan FPI
Sebagaimana dijelaskan dalam dokumen Risalah histories dan agaris perjuangan FPI, asas FPI adalah Islam ala Ahlussunah wal Jamaah [Aswaja]. Menurut pemimpin FPI, Aswaja yang dipahami FPI todaklah sama dengan yang dipahami oleh kalangan NU dan Muhammaddiyah. Aswaja yang dipahami para aktivis FPI lebih mendekati pemahaman Aswaja menurut kelompok Salafi yang dipimpin oleh Ustadz Ja’far Umar Thalib di Yogyakarta. Menurut kelompok ini, Aswaja adalah mereka yang telah sepakat untuk berpegang dengan kebenaran yang pasti sebagaimana tertera dalam Al-Quran dan al-hadist dan mereka itu adalah para sahabat dan tabi’in(orang yang belajar dari sahabat dalam pemahaman dan pengambilan Ilmu) [hal; 96-97]
[Wusana kata ; Warung hanya ingin menunjukkan pada para pengunjung, hal ikhwal berdirinya FPI, dikutip langsung dari buku “Gerakan Islam Simbolik”. Buku ini telah memberikan simpulan pedas pada aktivitas rekan-rekan FPI. Menurut buku ini FPI bukanlah termasuk gerakan Islam radikal fundamentalis yang memilki komitmen tinggi untuk memperjuangkan Islam dan mencita-citakan berdirinya Negara Islam. Akan tetapi……….
Buku ini mengkritisi dan mengkritik habis FPI dari berbagai dimensi. mohon maaf warung tidak dapat mengungkapkan secara rinci di sini, karena untuk menjaga dan menjamin kenetralan warung ini.]