SILA CARI DI SINI!

Google

Tuesday, August 26, 2008

BUKU PROFIL PARPOL PESERTA PEMILU 2009, SALAH GAMBAR ??

[Mudah-mudahan buku ini, segera membuat ralat kesalahan, pada halaman 9 dan halaman 15]
Pada tahun 2009 masyarakat Indonesia bakal pesta demokrasi lagi, kurang lebih sekitar 42 triliyun rupiah akan dihabiskan. Untuk kali ini dijamin lebih semarak, peserta pemilu makin berjimbun, sekitar 34 partai politik akan berdansa di arena pemilihan, itupun masih ditambah lagi dengan partai politik yang sangat keberatan ketika verifikasi faktual merasa terpinggirkan. KPU bergeming dan mengambil langkah banding, jika KPU kalah, dapat dipastikan partai politik akan bertambah.
Tentunya banyak pula yang belum diketahui masyarakat pada umumnya, bahwa saat ini, Republik tercinta sedang membuka pintu dan jendela demokrasi. Aceh sebagai daerah istimewa, ternyata istimewa benar, sekitar enam partai local mendapat modalk persetujuan, untuk ikut berdendang dalam pemilu mendatang.
Informasi yang kurang, ditambah sosialisasi yang terbatas, membuat orang tidak mengenal profil partai politik secara luas. Kini telah hadir sebuh buku yang membantu membuka pengetahuan yang buntu.
Data buku
JUDUL : Profil Partai Politik Peserta Pemilu 2009
PENULIS: Team—Juanedi [Editor]
PENERBIT : Pustaka Timur Ngemplak RT/RW: 10/18 Nogotirto, Yogyakarta 55292. Telpon [0274] 70199945.
ISBN: 978-979-3837-23-9
CETAKAN ; I –2008

Partai Politik Peserta Pemilu Tahun 2009
Komisi Pemilihan Umum [KPU] sudah menetapkan 34 partai politik peserta pemilu 2009 dalam siding pleni di kantor KPU pada tanggal 7 Juli 2008. Jumlah pesderta Pemilu 2009 lebuih banyak dari Pemilu 2004 dan lebih sedikit dari Pem,ilu 1999. Pada Pemilu 1999 diikuti 48 partai politik, sedangkan pemilu 2003 diikuti 24 partai politik. Partai-partai politik peserta pemilu 2009 terdiri dari 16 partai peserta Pemilu 2004 yang tercata memiliki kursi di parlemen dan ditambah 18 partai politik baru yang lolos verifikasi factual.

Rekor Masa Kampanye terpanjang.
Masa kampanye untuk Pemilu 2009 termasuk memiliki rekor terpanjang, selama 9 bulan atau kurang lebih 270 hari, Terhitung sejak tanggal 12 Juli 2008 masa kampanye telah dimulai dan akan berakhir pada tanggal 5 April 2009. Inilah saat terbaik partai untuk melakukan sosialisasi.

Kontrovesrsi:
Pemilu 2009 ternyat tidak lolos dari sebuah kontroversi, ini nampak beberapa partai yang tidak memenuhi “electoral treshould akhirnya ikut serta dalam pemilu. Berdasarkan UU Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD, sembilan partai yang tak memenuhi ambang batas perolehan suara 3 persen semestinya tak berhak ikut Pemilu 2009. Tetapi, sebuah preseden yang amat buruk telah dibuat dalam perumusan UU No. 10/2008. Sebuah aturan peralihan ternyata memberi jalan.

BUKU INI CEROBOH:
Buku ini ternyata juga mengkreasi kesalahan yang dapat dikategorikan meresahkan, bahkan dapat membahayakan. Dianggap membahayakan bisa juga memicu kebingungan, karena salah dalam meletakan gambar partai. Lebih menakutkan bila orang akhirnya salah pilih atau salah coblos, hanya melihat gambar di buku ini, dan kemudian tersimpan di long term memory-nya.
Pada halaman 9 buku ini, Partai Barisan Nasional [Barnas], gambar partainya tertukar dengan partai Kedaulatan. Selanjutnya pada halaman 15, Partai Keadulatan gambarnya tertukar Partai Barisan [Barnas]

[CATATAN MUDAH_MUDAHAN BUKU INI SEGERA DITARIK, DAN DIRALAT]

Monday, August 25, 2008

MOH.MAHFUD MD: SELAMAT MENAHKODAI—MK

Profesor dari UII Yogkarta ini, kembali membuat sejarah, nasibnya selalu berdekatan dengan dewi fortuna, kendati penampilannya nampak biasa-biasa saja, namun nasibnya ditakaran yang lebih dan beruntung. Buktinya dengan usia yang tergolong masih muda, professor kelahiran pulau garam ini, langganan jadi penjabat.
Kepada siapapun dekat, tidak memiliki konsep lawan, semua manusia adalah temannya. keluguan dalam berteman adalah hidup yang dipertahankan.
Sangat menghindari kotak-kotak alias kelas, bahkan menurutnya, bahwa orang itu memiliki derajat sama. Tanpa harus membeda-bedakan, antara atasan dan bawahan. Mengaku canggung ketika harus berada di pusaran protokoler, apalagi jabatan yang disandangnya sebagai Menhankam, yang penuh dengann renik-renik protokoler.
Warung ini, memiliki kisah hidup Moh Mahfud.MD, yang ditulisnya sebagai otobiogarfi dengan segmen melihat dirinya ketika menjadi seorang pejabat di masa sulit.
Buku itu berjudul—“Setahun Bersama Gus Dur—Kenangan setahun menjadi Kenangan menjadi Menteri Saat Sulit
Data buku:
JUDUL: Setahun Bersama Gus Dur-Kenangan Menjadi Menteri di Saat Sulit
PENULIS: Moh.Mahfud MD
PENERBIT: LP3ES. Jl. S. Parman No. 81, Jakarta 11420 Telp. 567 4211-13. E-mail : puslp3es@indo.net.id
ISBN: 979-330-04-x
TEBAL: xx + 322 hlm; 15,5 x 23 cm
CETAKAN I--April 2003
Nasionalisme boleh diacungi jempol dua:
Ketika menjabat menjadi Menhankam, sangat risih melihat sepak terjang pemerintahan kita yang sering diobok-obok oleh Amerika, intervensi dan kegiatan mata-mata Amerika sangat merisaukan dirinnya. Dengan tegas lugas diungkapkannya, bahkan langsung masuk kuping para pejabat kedutaan Amerika Serikat yang ada di Jakarta. Inilah sepintas kilas tentang jati diri seorang M. Mahfud, MD, bahwa Negara yang berdaulat seperti Indonesia itu memiliki hak hidup yang nir terhadap campur tangan pihak asing

TERTANGKAPNYA WISATAWAN YANG MATA-MATA:
Moh. Mahfud MD bertbicara keras tentang tertangkapnya seorang wisatawan dari Amerika yang ternyata diduga keras melakukan kegiatan mata-mata. Aaron, wisatawan yang tertangkap itu, dipergoki sedang menyiarkan gambar-gambar kerusuihan di Timika dari sebuah hotel di Jayapura yang ternyata sangat menyudutkan pemerintah Indonesia. Ketika ditanyakan kepada Pandam Cebdrawasih, ternyata benar bahwa orang itu menyiarkan berita ke luar negeri dengan sebuah pemancar sendiri, padahal visanya adalah visa wisata.
Akibat peritiwa ini Mahfud MD sangat marah atas kejadian ini dan mengkrtik keras Duta Besar Gelbart yang mengambil Aaron yang semestinya harus dideportasi.

KOBOI TEXAS MELAWAN KOBOI MADURA
Majalah Gatra menulis bahwa karena kejengkelannya, sang duta besar Amerika itu melapor kepada Wapres Megawati. Namun, megawati mengatakan bahwa sebagai Negara yang merdeka, berdaulat, dan punya harga diri, maka Indonesia tidak bisa diperlakukan seenaknya oleh Negara manapun. Mega mencela bahwa Gelbart terlau bersikap seperti koboi dari Texas di Indonesia sehingga dia selaku Wapres tidak dapat menyalahkan Menteri Pertahanan-nya. “Kalau dia mau berlaku seperti koboi Texas maka biar dilawan oleh koboi dari Madura
[hlm; 51]
MAHFUD MD, MENTERI YANG KADANGKALA KAMPUNGAN DAN “KATROK”
Ketika menjamu Menteri Pertahanan Korea Selatan, dalam menyantap hidangan lazimnya memakai sumpit, Mahfud justru menggunakan sendok dan garpu, karena makankan yang dikais dengan sumpit licin dan cenderung berontak. Dikesempatan itu Mahfud MD diajari menggunakan sumpit oleh Menteri Pertahanan Korea Selatan.Apalagi jika mendapatkan kesempatan menjamu tamu dengan bermain Golf, dapat dipastikan pak Mahfud jadi bahan tertawaan.
Dikesempatan lain, Mahfud mengaku tidak begitu tahu, bahwa, secara protokoler, ada aturan tersendiri untuk warna baju yang harus dipakai. Misalnya jas warna gelap harus dipakai dengan kemeja warna terang. Ketika pada suatu hari harus menerima Menteri Pertahanan Malaysia, dia melakukan kekeliruan mengenai hal itu. Dia berangkat dari rumah dengan memakai setelah jas hitam tetapi baju lorek-lorek berwarna coklat dan dasi bermotif coklat pula. Dengan sigap staf ahli Mahfud—Mayjen Albert Paruntu menyodorkan kemeja berwarna putih yang masih baru. Rupanya staf ahli pak menteri sangat paham kalau, bos itu memang “katrok.” [ hlm :280 ]


Thursday, August 21, 2008

SUPRIYADI: SEBUAH KONTROVERSI.

Sadapan buku "MENCARI SUPRIYADI" [Baskara T. Wardaya, SJ]
Menelusuri buku Mencari Supriyadi—Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno.
Romo Dr. Baskara. SJ. Secara tidak sengaja menemukan Eyang Andaryoko Wisnuprabu--AW, ketika sedang menyelenggarakan sebuah pementasan, yang mengangkat naskah Romo Dr. Sindhunata, SJ di Kota Semarang. Tiba-tiba disarankan untuk minta nasehat kepada sesepuh kebudayaan di kota itu, Eyang Andaryoko ternyata adalah sesepuh yang dimaksud, melalui pembicaraan itulah tertangkap sebuah pengkuan bahwa jati diri Eyang itu adalah Supriyadi.
Seperti sebuah jalan yang harus dilalui oleh Romo Baskara T. Wardaya, untuk mengangkat tulisan yang melingkup sejarah bangsa ini. Sebagai seorang-orang yang menekuni sejarah, Romo Baskara, seperti menemukan sesuatu yang berharga.
Kaidah keilmuan tentunya juga dikedepankan, mulai dari persiapan prnulisan yang penuh dengan citarasa keilmuan. Sekuensial dari prosedur yang harus dilakukan tetap diteggakan. Dalam penulisannya beliau juga melakukan triangulasi, yakni suatu metode penelitian dengan menggunakan beberapa metode lain, dalam hal ini, Cross-Checking hasil wawancara dengan studi kepustakaan. Inilah adalah tuntutan keilmuan sebagaimana yang disarnakan oleh Taylor & Bogdan dalam penelitian kualitatif.
Menurut Romo Baskara, dalam proses triangulasi itu, banyak kesesuaian informasi Eyang Andaryoko tentang peristiwa-peristiwa di seputar Bung Karno dan Soeharto, yang dapat memperkuat kebenaran klaim sang tokoh bahwa ia memang Supriyadi.
Buku ini sangat syarat informasi, kendadati mendatangkan beberapa kontroversi
Data buku
JUDUL: Mencari Supriyadi-Kesaksian Pembantu Bung Karno
PENULIS : Baskara T. Wardaya, SJ
PENERBIT: alang Press. Jl. Anggrek 3/34 Baciro Baru Yogyakarta 55225. Telp. [0274] 554985, 554986. E-mail: redaksi@galangpress.com http://www.galangpress.com/
CETAKAN I- 2008
ISBN: 979-602-8174-07-7
TEBAL: 230; 150X 230 mm

Supriyadi Sang Misterius,
Buku ini juga mengungkap, bahwa Supriyadi itu tokoh yang penuh misteri dan akhirnya juga memproduksi misteri.
Misteri itu menjadi lebih besar ketika orang sedang mengingat bahwa pada tahun 1945, saat negeri ini membentuk kabinetnya yang pertama pada tanggal 6 Oktober 1945, Presudeng Soekarno menunjuk Supriyadi menjadi Menteri Keamanan Rakyat. Misterinya adalah bahwa pada satu sisi ada kemungkinan dia sudah mati, tetapi pada sisi lain ia diangkat menjadi seorang menteri. Hal ini tentu saja cukup misterius. Tetapi menjadi lebih misterius lagi ketika kemudian pada tanggal 20 Oktober 1945 Supriyadi juga ditunjuk menjadi Panglima TKR [Tentara Keamanan Rakyat]. Sekali lagi, pada satu sisi ada ketidakjelasan apakah Supriyadi masih hidup atau telah mati. [hlm: 22]

SBY mengaku anak Supriyadi??
Tentunya banyak orang terkejut membaca buku ini, karena nama Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, ikut disebut-sebut, ketika dilakukan wawancara dengan Eyang Andaryoko.
Ketika itu Eyang Andaryoko diberi pertanyaan :
“Beberapa buku menyebut bahwa Supriyadi pernah bertugas untk menjadi pengawas Romusha. Benar?”
Tidak, tidak pernah
….Nah, ini saya hubungkan ya?, Pak SBY [Presiden Soesilo Bambang Yodhoyono], waktu kepilih jadi Presiden baru, dia pernah mengaku sebagai anaknya Supriyadi. Sebenarnya nama Bapak dia itu adalah Soekotjo, menjadi Angkatan Laut Jepang. Tapi lalu hilang. Karena hilang dan tidak jelas beritanya, lalu dilakukan bahwa nama orang itu adalah Supriyadi. Ini masuk media massa. Say abaca. Saya terheran-heran: Lho kok begini?! Waktu itu SBY disebut sebagai “satriyo piningit”, Satriyo apalah, pokoknya di diumbnulke [diangkat-angkat]. Tetapi tentu saja itu tidak benar. Tapi bagi saya ya tidak apa-apa. Itu terserah….[hlm 49]

Andaryoko pernah berbohong
Ketika di wawancarai tanggal lahirnya, Eyang Andaryoko berbohong.
Kapan tanggal lahirnya ?
Tanggal 23 Maret 1920. Tapi waktu mendaftar di PETA saya dimudakan, menjadi tahun 1923. Saya dicatat sebagi lahir di Trenggalek, 13 April 1923. …[hlm; 48]
….Seperti sata katakan tadi, di Blitar itulah saya mengaku kelahiran Trenggalek. Umur saya dibuat lebih muda, sehingga meskipun saya lahir tahun 1920 saya dicatat lahir tahun 1923.

Banyak orang yang mengaku Supriyadi.
Karena tidak diketahui kuburannya dan dianggap sebagi tokoh yang misterius, maka dari masa kemasa bermunculan orang yang mengaku sebagai pahlawan yang hilang itu. Semasa Darmadi [Bupati Blitar 1945-1956), ayah dari Supriyadi, masih hidup [ia meninggal tahun 1973) paling sedikit lima kali ia ditemui oleh oarng yang mengaku sebagai anaknya. Ki Utomo Darmadi [waktu muda bernama Setio Utomo], adik tiri dari Supriyadi pernah ditelpon oleh Wakil Presiden Try Sutrisno karena ada orang tua di Yogya yang mengaku sebagai Supriyadi. Utomo bernagkat ke Yogya dan menemui orang tersebut. Ketika ditanya badsalam bahasa Belanda dan Jepang, orang itu tidak mengerti, padahal Supriyadi pernah bersekolah di MULO dan MOSVIA dan ikut kemiliteran Jepang. Utomo Menyimpulkan meskipun orang itu pintar tetapi bukan Supriyadi.

Buku ini tetap menjujung obyektivitas.
Dalam menjamin kaidah ilmiah buku ini tidak serta merta membenarkan apa yang dikatakan oleh Andaryoko. Misalnya pada bab “Beberapa catatan tentang Fakta Historis”
…Ada beberapa hal yang menjadi tanda tanya dalam jawaban yang diberikan oleh Andaryoko Wisnuprabu. Mungkin saja ia lupa atau ada keterangannya yang tidak akurat. Tetapi kalau ketidaktepatan factual itu cukup banyak, masihkah dapat dipercaya pengakuannya ia adalah Supriyadi yang memimpin pemberotkan PETA tahun 1945?

Tuesday, August 19, 2008

JATI DIRI SHODANCHO SUPRIYADI— SOROTAN BUKU PETA:

Jika Eyang kakung Andaryoko itu Supriyadi, berarti beberapa buku yang terbit dimasa sebelum pengakuan Eyang harus di musnahkan, dan dapat dianggap melakukan pembohongan publik.
Kita tidak boleh serta merta memberiakn vonis salah benar, karena alat verifikasinya masing-masing lemah. Oleh karenanya setiap bentuk penulisan yang terkait dengan Shudhanco Supriyadi masih merupakan kebenaran Hipotetik.
Tentunya Romo Dr Baskara T. Wardaya, dsangat paham dan sangat sadar tentang hal ini, sebagai penulis, akan mencari data pendukung, dengan dimensi akurasi yang tinggi.
Hingga saat ini telah banyak penerbitan yang terkait dengan perjalanan sejarah PETA dan Supriyadi, namun setelah bermunculan pengakuan “Supriyadi-Supriyadi”, buku-buku itu kembali berada di wilayah hipotetik.
Eyang Andaryoko harus dihargai, karena menurut pengakuannya beliau sering dipanggil oleh teman-taman “supriyadi”, bahkan menurut penuturan Wilardjo yang saat itu bertugas sebagai Dinas Scurity Pengawal Presidem. “Bung Karno biasa memanggilnya dengan nama Sup,”…. Barangkali inilah yang meguatkan Eyang Andaryoko bahwa beliua itu memang “sup”.
Sorot Warung:
Buku yang nongkrong di Warung kami berbunyi lain, bahwa Supriyadi itu hilang, asal musalnya jatidirinya juga sangat bertentangan dengan pengakuan Eyang Andaryoko.
Datil buku:
JUDUL: PETA Tetntara Sukarela Pembela Tanah Air[ Di Jawa Dan Sumatera 1942-1945]
PENYUNTING: Purbo S. Suwondo
PENERIBIT: Pustaka Sinar Harapan.
CETAKAN: I—1996
ISBN: 979-416-407-0
TEBAL: xix + 296 hlm
Menurut buku ini, Supriyadi nama aslinya Priyambodo lahir pada tanggal 13 April 1923 di Trenggalek, anak dari bapak Darmadi, seorang pangreh praja [hoof jaksa], dengan ibu bernama Rahayu. Namun sejak kecil ia ditinggalka mati oleh ibu dan ayahnya kawin lagi dengan kerabatnya, yakni ibu Soesilah. Sejak kecil ia dekat dan diasuh oleh eyang kakung tiri [ayah Soesilah] yang bernama Sosrodihardjo--Seorang mantra guru di Kertosono. Pada waktu itu sosrodiharjo sudah memprediksikan bahwa Priyambodo yang kemudian ataskemauannya sendiri diganti menjadi supriyadi mempunyai kelebihan-kelebihan jika disbanding dengan anak-anak lainnya. Dari Sosrodihardjo inilah Supriyadi dinasehati atai’ diwejanggi” dengan nilai-nilai heroic yang bersumber pada pahlawan-pahlawan pewayangan, sehingga nantinya ikut membentuk kepribadian Supriyadi yang lebih menguatamakan kepentingan orang banyak daripada kepentingan pribadi [menurut wawancara dengan Utomo Darmadi]. Salah satu contoh sifat ini tercermin dari sikap Supriyadi yakni menjelang dilakukan pemberontakan dia mengambil seluruh uang tabungannya pada kantor pos Blitar untuk membiayai pemberontakan yakni dengan menyerahkan uang itu pada toko makanan, yang selanjutnya digunakan untuk mendukung perbekalan. Selain itu dari Sosrodihardjo, Supriyadi dibekali dengan ilmu-ilmu kejawen seperti tirakat, nglakoni, semedi. Supriyadi oleh pengikutnya juga dianggap sebagai orang yang memilki kekuatan supranatural.

BULUTANGKIS INDONESIA MENGGETARKAN DUNIA.

Akhirnya lagu Kebangsaan Indonesia Raya berkumandang di Pesta Olah Raga yang sangat bergensi itu, untuk kesekian kalinya Indonesia kembali bergeming tradisi Emas masih bisa dilajutkan. Universitas Gymnasium Beijing menjadi saksi, betapa hebat para pembulutangkis Indonesia, dengan kekuatan penuh dan mermandi peluh. Akhirnya keinginan luhur itu tercapai tepat malam hari menjelang peringatan Hari Kemerdekaan. Sungguh merupakan memontum tepat, seakan bangsa Indoensia memperoleh hadiah yang sdangat berharga dan tiada tara.
Tradisi Emas itu memang harus dipertahakan, secara bererutan dapat kita toreh kembali.


  • Beercelona [1992], Medali emas dicetak oleh , Susi Susanti dan Alan Nudikusuma
  • Atlanta [1996], kembali mendulang Medali emas, Ricky Subagia dan Rexy Mainaky
  • Sidney [2000], gengaman erat Medali emas itu dipertahankan, Candra Wijaya dan Tony Gunawan
  • Athena [2004], Emas dikawal ketat, Taufik Hidayat
  • Beijing [2008], tardisi tetap diperthankan, medali emas itu tak akan lepas, markis Kido dan Hendra Gunawan

Warung ini, juga mempertahankan tradisi, untuk selalau memberikan rasa hormat dan pujian tulus, kepada siapa saja yang berprestasi. Dikaislah beberapa buku-buku yang berbau bulu tangkis alias Badminton, terdapat dua buku,
1. Thomas Cup Di Boyong Kembali Ke Indoensia [Team Thomas Cup Indonesia]
2. Bulutangkis Bermutu [Ferry Sonnenville]
Data buku:
JUDUL : Thomas Diboyong Kembali Ke Indonesia
PENULIS : Team Thomas Cup Indonesia—Rudy Hatono-Mulyadi-Darmadi-Indriatno-Indra Gunawan-Mintarjo-Sudjono Djaliteng danI.Sumirat
PENERBIT : “GRIP” Surabaya
CETAKAN : --Tahun 1970
TEBAL: 58




Buku ini membentangkan tekad tim bulutangkis Indonesia untuk memboyong kembali Piala Thomas yang lepas dari gengaman Indonesia.
Malaya—Malaysia, ternyata duluan:
Ternyata di Asia Tenggara, Malaya- Malaysia adalah Negara pertama yang mampu memboyong Piala Thomas ke negerinya [1949]. Saat itu para pembulutangkis negeri datuk ini, termasuk disegani. Lawan-lawannya yang tangguh, ternyata runtuh. Padahal zone amerika itu terdapat pemain yang luar bisa, seperti Dave Freeman [AS], atau yang di zone lainnya Jhon Skoarup [Denmark]. Bahkan pada perebutan-perebutan berikutnya di tahun 1952, dan 1955, Malaya secara gemilang berhasil mempertahankannya. Membuat Piala Thomas bersemayam selama 9 tahun di Semenanjung Malaya.
Selanjut Indonesia, merajut kemenangan: [1958]
Pada perebutan Thomas Cup ke-4--1958 yang berlangsung di Singapore, Indoensia berhasil masuk final setelah berturut-turut menundukkan Australia dan Selandia Baru masing-masing dengan angka 9-0.
Regu Indonosia yang berjumlah 10 orang, terdiri dari 8 pemain dan 2 orang officials. Kedelapan pemain masing-masing : Fery Souneville [Nyo Kim Bie], ketika itu bertindak selaku playing captain, dan coach Tan Joe Hock, Edy Yususf, Lie Po Djian, Thiam Beng. Officials R. Jusuf[Tim Manager] dan Ramli Rikin nonplaying captain.
Ternyata ketika final melawan Denmark yang diperkuat oleh pemain andalnnya, Finn Kobero dan Erland Kops, dengan mudah “dijinakkan” oleh pasangan Ferry Sonneville dan Erland Korp. Inilah sejarah pembuka perbulutangkisan Indonesia.

INSIDEN SENAYAN 1967--"Bonek kita saat itu"....
Perebutan Thomas Cup Tahun 1967, kebali berlangsung di Jakarta. Empat Negra yang berhasil masuk final, yakni : demark [Zone Eropah], Amerika serikat [Zone Amerika Serikat], Jepang, Malaya—Malaysia, [Zone Australia]. Sedangkan Indonesia sebagai Negara bertahan baru akan bertanding dalam challenge Round.
Event ini ini juga menandai regereasi, karena Ferry Sonneville sudah diangkkap semakin uzur, masuklah generasi baru sebagai darah segar bulutangkis Indonesia, Rudy Hartono, Mulyadi dan Darmadi.
Sayang suatu kejadian yang amat disesalkan terjadi di Istora Senayan. Ketika terjadi pertandingan antara pasangan Indonesia Mulyadi-Agus Susanto melawan pasangan Ng Boon Bee-Tan Je khan-Malaysia, muncul kegaduhan.
“Bonek” bulutangkas Indonesia Gaduh, dan dianggap mengganggu jalannya pertandingan. Diputuskan untuk di stop, dan bertandingan ditunda untuk dialihkan ke di Selandia Baru, Indonesia serta merta menolak. Akhirnya Herbert Scheele sebagai honorary referee memenangkan pihak Malaya—Malaysia dengan stand 6-3. Dan Thomas Cup diboyong ke Malaysia.
Tentunya maklum ketika itu, sentimen penonton memang tidak dapat dikendalikan, apalagi kita baru saja terlibat konfrontasi dengan Malaysia.


Data Buku II
JUDUL: Bulutangkis Bermutu
PENULIS : Ferry Sonneville
PENERBIT: ; Keng Po, Pintu Besar Selatan 86-88 Jakarta
TEBAL : 144
CETAKAN : September 1958
Dalam buku ini akan diperoleh pintalan sejarah bulutangkis, didalamnya memuat tentang cikal bakalnya bulutangkis, dan asal mula nama “Badminton” dijelaskan tuntas.
Buku ini hadir pertama belum berbahasa Indonesia, selanjutnya dialihbahasakan oleh Tan Liang Tie.
Sebagian besar isi buku merupakan penyajian teknik berbulutangkis, dan dukungan kesiapan mental pemain sebagai pemicu kemenangan.
Startegi yang harus dipersiapkan yang diikuti oleh detail bermain, membuat buku ini laris manis di jamannya. Visualisasi dirupakan dalam bentuk foto yang menggambarkan setiap potongan gerak, mulai dari cara memegang raket, hingga permainan net yang “menggelitik dan mengocak” lawan.
Anjuran menjaga “Ausdauer”, serta kiat yang harus dilakukan diurai secara ringkas dan mudah cerna.

Sunday, August 17, 2008

MEMBACA INDONESIA: SAMBIL SENYAM SENYUM:

Dirgahayu Republik Indonesia, usia cukup matang, dan perlu energi untuk menjaga diri. Sadar ata tidak tataran dunia berubah dengan cepat, semua tersaji dalam ranah transparansi, ditambah derasnya informasi. Orang akan sulit berlindung dari kejaran informasi, bersembunyi dari kebohongan bukan patut dijaman ini. Inilah waktu yang sangat tepat, setiap orang, dan insitusi negeri berkaca diri, mematik auto kritik berbalut instrokpeksi.
Istilah menelenjangi diri menjadi sah, jika kita ingin lebih baik di masa datang.
Warung menemukan buku yang dapat dipergunakan sebagai cermin diri, kendati sarat kritik dengan wajah sinis, namun bila cermat melihat akan berasa manis.
Penulisnya mengaku, bahwa buku ini tidak perlu ditanggapi secara serius, namun jika seorang-orang berada dititik renung yang agung, pasti berdecak kagum.
Buku ini memilki kesengajaan, untuk merajam kelakukan kita selamai, memecut kita yang kadang pengecut, menendang kita yang senang menjadi pecundang.
Data buku
JUDUL : Membaca Indoensia Sambil senyam Senyum
PENULIS : Agoes Susilo Jp
PENERBIT : Bumi Cendikia. Alamat. Joyodiningrat Rt 03/V Jl. Dworowati No. 13. Solo [57153]. HP. 08129969035
ISBN: 979-99575-1-6
CETAKAN: I--Agustus 2005
TEBAL : xiii+ 86

Buku ini lebih di latar belakangi oleh kecenderungan kita yang “telah” hidup di jaman global sekarang ini yang secara tidak sadar telah menjadi lebih pandai untuk membandingkan antara segala sesuatu dengan sesuatu yang lainnya. Kita mulai membandingkan lagi antara Indonesia masa lalu yang susah untuk mencari seorang koruptor dengan Indonesia yang sekarang yang dimana-mana gampang sekali menemukan sekumpulan koruptor.
Membandingkan Indonesia dulu yang me-nomor satukan kepentingan bangsa dan Negara dengan Indonesia sekarang yang lebih mementingkan keuntungan golongan, partai dan uang semata. Membandingkan Indonesia kamaren yang rakyatnya hidup penuh kebersamaan dan gotong royong dengan Indonesia sekarang yang rakyatnya egois dan mau menang sendiri-sendiri.

Presiden Juga dilihat dengan senyam-senyum’
Buku ini juga mencandra perilaku presiden, Gus Dur ketika menjadi presiden tak lepas dari pengamatan buku ini. Dikatakan bahwa Gus Dur adalah adalah presiden yang senang bepergian ke luar negeri, dan pantas masuk rekor Muri.
Mbak mega juga “dirasani’ sebagai presiden yang mengacu pada kata bijak “Diam itu emas” sehingga acapkali puasa bicara, dan kadang diam seribu bahasa.

PNS dan “ilmu sabet”
Kalau kita bicara Gaji PNS itu besar atau itu relative. Namun karena merasa kecil PNS sering diserang oleh virus, yakni marasa kurang, atau memang kurang. Ternyata seorang PNS itu mendapat anugerah “ilmu sabet”. Ilmu sabet menurut buku ini, dimiliki secra turun temurun.
Dengan “ilmu sabet itulah maka tidak heran banyak PNS negeri ini khususnya yang jabatannya top dan setengah top bisa punya rumah dimana-mana, tanah di mana-mana, mobil dimana-mana.
Syarat utama agar dapat memiliki ilmu sabet.
Syarat utama adalah harus berani bertmuka badak atau kalau orang jawa menyebutnya dengan “rai gedhek”

Saturday, August 16, 2008

PERINGATAN HUT 17 AGUSTUS 1959

MANIFESTO POLITIK BUNGKARNO--PENEMUAN KEMBALI REVOLUSI KITA
Sekedar memutar ulang Pidato Bung Karno, yang diambil dari penerbitan khusus berkaitan dengan Kemerdekaan Republik Indonesia “Hari 17 Agustus 1959”. Penerbitan ini berupa buku yang diterbitkan oleh Harian Umum “Pemuda”. Warung merasa perlu menyanjikan terkait dengan relevasi dan momentum yang saat ini, dianggap tepat. Menunya tidak disampaikan secara penuh, namun hanya bagian-bagian tertentu.
Sesungguhnya Pidato ini merupakan “Manifesto Politik Bung Karno yang diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1959 pukul 08.00, ketika itu usia republic ini genap 14 tahun. Maniofesoto ini berupa garis-garis politik yang maha penting. Karena dianggap penting Hariam Pemuda mencetaknya sebanyak 50.000 exp, dan memuat secara lengkap Manifesto itu.
Sudah menjadi tradisi setiap HUT Kemerdekaan, Bung Karno memberikan Pidato Politik atau Pidato Kenegaraan, dan disetiap pidato memiliki thema-thema tertentu, seperti, tahaun ketentuan [a year decision], tahun tantangan [ a year of challenge]. Pada tahun 1959 Bung Karno memberikan istilah sebagai tahun penemuan kembali [Rediscovery of our Revolution]. Menurut Bung Karno tahun ini merupakan tahun yang istimewa setelah pengalaman pahit hampir sepuluh tahun kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945.
Data buku
JUDUL: Penemuan Kembali Revolusi Kita [The Rediscovery Of Our Revolution]
PENULIS : [Dihimpun Oleh Harian Pemuda]
PENERBIT: Harian Pemuda
CETAKAN: I—1959
TEBAL: 36 Hlm.
JUMLAH SEBARAN: 50.000 exp

Kepiawaian Bung Karno dalam orasi tidak dapat dipandang enteng, solah bawa [gesture] ketika berpidato menambah lengkap penampilannya. Suaranya dapat dikatakan “soundable”, dalam katuranggan burung perkutut suara Bung Karno termasuk “kung”, mengelegar dan ber-api-api. Disamping itu pula Bung Karno sangat jago dalam membuat jargon-jargon, yel-“pekik”, bahkan membuat istilah-istilah.
Padalam tahapan peringatan har kemerdekaan pasti menghadirkan istilah-istilah baru, yang kemudian dijadikan rujukkan oleh siapa saja.
Seperti ketika memberikan tahapan-tahapan kerja kenegeraan
Tahap 1945-1950, diistilahkan sebagai “Physical Revolution”, merupakan tahapan merebut dan mempertahankan apa yang telah direbut, yakni kekuasaan dari tangan imperalis

Rediscovery of our revolution menurut Bung Karno.

Kita sekarang telah “menemukan kembali Revolusi kita”. Apa artinya ini?
Apakah ini berarti semata-mata pergantian Undang-undanga Dasar 1950 dengan Undang-undang dasar 1945? Tidak!
Apakah ini berarti semata-mata supaya kita “naik semangat” atau “naik tekad”? Tidak!
Apakah ini berarti semata-mata bahwa kita mencari perfensi teknis dan efisiensi teknis dalam pekerjaan dan usaha kita? Tidak!
Sekali lagi tidak! Kita tidak sekadar mencari perobahan atau perbaikan lahir, kita tidak sekedar mencari “naiknya semangat”. Perubahan lahir setiap waktu bisa luntur, dan semangatpun setiap waktu bisa lutur!
Kita mencari perubahan yang lebih daripada itu! Kita mencari kesadaran sedalam-dalamnya,--kesadaran yang masuk tulang, masuk sungsum, masuk fikiran, masuk rasa, masuk roch, masuk jiwa,--bahwa kita tadinya telah nyeleweng dari dasar tujuan perjoangan kita. Kita mencari kesadaran sedalam-dalamnya, bahwa sifat hakikat revolusi ini tidak bisa lain, tidak bisa lain, daripada dasar dan tujuan yang kita proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945!