Google

Selasa, 24 November 2009

POLISI JANCHUK!

Jika hanya melihat sampul buku saja, yakin orang akan marah, apalagi kalau yang membaca adalah seorang anggota Polisi. Judulnya jelas dientepretasikan sebuah makian, mungkin juga ditafsir serbagai bentuk pelecehan. Memang kata "janchuk" itu identik dengan makian, dan jangan-jangan diangap sebagai tantangan untuk berkelahi. Kata Janchuk adalah made-in wilayah Surabaya dan Malang. Kata ini mempunyai dimensi makna yang bertolak belakang, yang satu bermakna makian dan sisi lainnya berarti keakarban. Tentunya judul buku ini, kata janchuk lebih bermakna keakraban dari pada makian. Hal ini terbukti dari kadungan sungguhan dari lembar-demi lembar buku ini. Lalu yang aneh apanya, yang unik mana?, demikian kata khalayak baca yang lagi dipusingkan oleh buku ini. Tentunya yang unik adalah waktu terbitnya. Ketika carut marut dan silang sengkarut antara Polisi dan KPK, buku ini lahir. Harus kita akui bahwa Hermawan Sulistyo ingin memanfaatkan mementum, harapannya jelas, buku ini makin banyak dibaca orang, konsekuensi logisnya jelas hadirnya uang.
Polisi itu memang janchuk, tetapi tidak janchukkan, artinya kata janchuk itu menujukkan sapaan akrab yang berbenih pujian. Di buku ini A, B, C, D-nya polisi dikupas tuntas, bahkan buku ini seakan memberikan penjelasan sekaligus pencitraan kepolisian.
Data Buku
JUDUL: Polisi Janchuk!
PENULIS: Hermawan Sulistyo
PENERBIT: Pensil 324 Jakarta
ISBN: 978-979-3622-54-5
TEBAL: viii + 151; 18 cm
CETAKAN: Pertama September 2009
.

Rabu, 18 November 2009

REPUBLIK TANPA KPK - koruptor harus mati

Semangat Pak Eggi menulis tetap terawat dengan baik, buktinya kendatipun sibuk masih dapat melahirkan buku. Sebenarnya buku ini terbit tahun 2008 yang lalu, namun seiring dengan carut marut negeri yang melakonkan perseturan institusi antara KPK dan Polisi, buku ini renyah kembali untuk di nikmati. Tertera di bagian belakan buku ini, seakan ada persepsi bahwa lahirnya KPK itu dapat dijadikan sebagai perangkat lunak untuk membekok lawan politik. Lebih jauh dapat pula berebut peran, atau mungkin mereduksi fungsi-fungsi institusi lainnya.
Eggi, menulis buku ini sangat komprehensif, dan menunjukkan komitmennya pada negeri ini, agar penegak hukum lebih memahami jati diri, bahkan mampu meningkatkan citra diri institusi.
Buku ini menegarai, ternyata di negara yang memiliki ribuan pulau seperti Indonesia ini persoalan suap dan konrupsi sudah membumi, buktinya setiap rejim yang berkuasa selalu mengreasi lembaga-lembaga anti korupsi. Ketika zaman Bung Karno, nawaitu memberantas telah terpatri, tentunya hingga kini. Namun yang terjadi Koruptor tetap bernyali menggerogoti bumi pertiwi ini. Sejarah juga mencatat upaya-upaya negeri dalam memberantas korupsi, sederatan lembaga didirikan. Pada masa Orde Lama terbentuk lembaga pemberantas korupsi: Panitia Retooling Aparatur Negara (Peran), Operasi Budhi, dan Komando Tertinggi Ritooling Aparat Revolusi (Kontrar). Pada masa Orde Baru muncul Tim Pemberantasan Korupsi (KPK), pemberantasan Komite Empat dan Operasi Tertib (Opstib). Di era reformasi lahir Komisi Pengawas Kekayaan Pejabat Negara (KPKPN), KPPU, atau Lembaga Ombudsman. Selanjutnya, Pemberantasa Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK) dan Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN) dilebur menjadi KPK. segenap persoalan korupsi, mulai dari pengaruh terjadinya, hingga modusnya tergarap cermat oleh buku ini. Khalayak akan mudah memahami apa itu korupsi.
Bab-bab yang dibahas buku ini antara lain:
  • Sejarah Dan Potret Buram Korupsi di Indonesia
  • Paradigma Baru Dan Strategi Pemberantasan Korupsi Serta Keniscayaan Pemberdayaan Masyarakat
  • Akar dan Dampak Korupsi
  • Anatomi dan Strategi Kunci Pemberantasan Korupsi
  • KPK dan Urgensi Sinergi Memberantas Korupsi
Data Buku
JUDUL: Republik Tanpa KPK Koruptor Harus Mati
PENULIS: Dr. Eggi Sudjana, SH.,MSi
PENERBIT: JP Books Jl. Karah Agung 45 Surabaya. Phone: [031] 828.9999.
ISBN: 978-979-1490-25-2
CETAKAN: 2008
TEBAL;272.
..

KONFLIK KEPENTINGAN KPK

Di bentangkan buku perihal konflik kepentingan yang menjurus pada tindakan korupsi. Buku ini sebenarnya ingin menggugah kesadaran, bahwa seorang-orang yang cenderung salah memaknai masalah, atau memberi tafsir sekenannya akan menimbulkan tindakan yang menyimpang. Manifestasinya bisa berupa tindakan komersialisasi jabatan, bisa pula sampai jualan otoritas alias kewenangan, dan ujungnya berlagu korupsi. Orang akan melakukannya tanpa dosa, karena tertutup oleh tafsirannya sendiri. Ternyata oleh buku ini mengungkap, bahwa penyebab korupsi di Indonesia karena dipicu dari konflik kepentingan yang dilakukan pejabat negara. Dan karena pemahamannya tidak seragam ketika memandang konflik, apalagi diperberat oleh penafsiran yang beragam.Maka perilaku menyimpang itu tak terkendali.
Mengatasi salah langkah itu, KPK menyusun Panduan Penanganan konflik.
Data buku :
JUDUL: Panduan Penanganan Konflik Kepentingan bagi Penyelenggara Negara.
PENULIS : Tim-Komisi Pembereantasan Korupsi, 2009.
PENERBIT: Komisi Pemberantasan Korupsi. Jl. H.R. Rasuna Said Kav. C1, Jakarta 12920. Telp: 62.21.2555 78311.. http://www.kpk.go.id/
ISBN: 978-979-18455-6-4
TEBAL: 80 halaman.+vi
Bab yang dibahas:
  • Apa yang dimaksud konflik kepentingan?
  • Konflik Kepetingan apa saja yang sering terjadi?
  • Prinsip Dasar Penanganan Konflik Kepentingan
  • Tahapan dalam Penanganan Konflik Kepentingan
  • Faktor-faktor Pendukung Keberhasilan Penanganan KOnflik Kepentingan
  • Contoh-Contoh Konflik Kepentingan dan Penanganannya.

Minggu, 08 November 2009

ANTASARI & KISAH PEMBUNUHAN MENJELANG PEMILU

Sampai hari ini masalah Antasari masih menyengat jika dibicarakan, karena testimoni yang dilakukan kini sudah menggelinding seperti bola salju. Makin besar dan dengan turbulensinya, kini menabrak berbagai dinding institusi, bahkan kini membubung seperti sulit direduksi. Kemungkinan semakin menjadi-jadi hampir pasti sulit dihindari. Banyak yang mepersepsikan bahwa Antasari pemicunya, Antasari pematiknya. Buku ini menandai9 bahwa setelah peristiwa Antasari testimoni, terkesan merupakan pertanda terjadinya pembatasan ruang gerak KPK. Beruntun aksi-aksi susulan yang melemahkan dan merontokkan KPK. Ungkapan "cicak mua lawan Buaya, makin mantap menjelaskan adanya kekuatan rakwsasa yang sakit hati dan berkepentingan untuk menghabisi "cicvak " pemberantas korupsi.
Buku ini sedang mengiur informasi, untuk mendekatan sekaligus merngungkapkan tentang Antasari

"CINTA SEGITIGA" NASRUDIN - RANI - ANTASARI

Jika ada seorang-orang bertanya, siapa sesungguhnya Rani Juliani? Buku ini akan menjawabnya. Berbagai info tentang Rani dihimpun buku ini. Kendati berita ini, banyak dikais dari berbagai sumber berita seperti koran, majalah, tabloit, maupun eletronik, rasanya tetap segar. Penyusun buku ini memang piawai, dengan gayanya yang spesifik dan ditambah model penulisannya cenderung ke "features" membuat semuanya serasa "fresh from the oven".

Jumat, 06 November 2009

JANGAN BUNUH KPK-PERLAWANAN TERHADAP USAHA PEMBERANTASAN KORUPSI

Buku ini seperti roti yang mentas dari paganggan, disamping baunya harus meransang, enak disantap apalagi jika dibarengengi dengan seduhan kopi panas. Buku hadir saat sebuah gonjang-ganjing bergulir. Berbagai masalah terkait dengan upaya mempertahakan institusi ini, terkuat tuntas pada bab III. Memang orang menjadi terbelalak, ketika sepak terjang KPK ini ter5nyata dapat membuat nyiut nyali para koruptor. Satu persatu pelaku diguulung diadilai dan selanjutnya didekamkan doi "hotel rodeo". Tindakn KPK ini aka yang menganggap sebagai "Super Body", oleh karenanya seperti hgalilitas yang menyambar, sekaligus membuat gerah semi ketakutan. Inilah yang memungkinkan yang merasa terusik memberikan r5espon setimpal dengan upaya-upaya istimewa, yakni melalkukan perlawanan terhadap upaya pemberantasan.
Kewenangan KPK mulai dikocok-kocok dan dipersoalkan, mulai dari kewenangan penyadapan, supervisi penanganan korupsi, sampai perilaku pejabatnya. Namun tiba-tiba ada totonan, kasus Antasari Azhar membuat keruh suasana, sehingga kausu itu justru menyemaikan munculnya "gerakan" membunuh KPK. Suatu pertanyaan muncul apakah upaya-upaya itu melenyapkan atau sebalinya justru menimbulkan masalah baru, seperti gelembungi bola salju yang semakin lama semakin membesar. Buku ini juga menyertakan beberapa koruptor yang telah ditangkap dan dijebloskan ke penjara berikut data-datanya.
Bagian-bagian yang dibahas buku ini:
Bagian 1 : Korupsi Masih di Mana-mana
  1. Pemerintahan dari Aceh Sampai Papua Terjerat
  2. Pembersihanh Birokrasi
  3. Pemberantasan Korupsi Terancam
  4. Korupsi Kelembagaan Masih ancaman
  5. Jelaga di Wajah Lembaga Penegak Hukumj
  6. BLBI dan "Kampung Maling"
  7. Telikung Hukum Sang Penegak
  8. Gunung Es Korupsi di Parlemen
  9. Rusaknya DPR
  10. Jaringan Mafia Senayan
  11. Pemberantasan Korupsi Belum Mati
Bagian 2 Perlawanan terhadap KPK
  1. Sinyal Delegitimasi KPK
  2. Berbahaya, Kekuasaan Yang Terlalu Besar dan Tanpa Kontrol
  3. Antasari Ingin Lemahkan KPK
  4. Gerakan"Bunuh" KPK
  5. Dilarang di Luar Gedung
  6. DPR Jangan Ganjal KPK
  7. Pengadilan Khusus Tipikor di Persimpangan Jalan
  8. Koruptort melakukan Perlawanan
  9. Menjemput Kematian KPK
  10. KPK Jangan Dihancurkan
Bagian 3 Jangan Bunuh KPK
  1. Presiden Diminta SElamatkan KPK
  2. Mahfud Ingin KPK Diselamatkan
  3. KPK Dapat Bubar Tanpa Ada Perpu
  4. Jangan BUnuh KPK
  5. Lanjutkan (Membunuh) KPK
  6. "Membunuh" Pengadilan Tipikor
  7. Pembenahan Birokrasi Saja Tak Cukup
  8. Mandat KPK Dilanjutkan
  9. Inikah Akhir Cerita KOmisi Pemberantasan Korupsi di Negeri Ini
Bagian 4 KPK Lembaga Super
  1. Etos politik KPK
  2. Wewenang KPK dan Pembnerantasan Korupsi
  3. Penyadapan Hanya untuk Tidak Pidana
  4. Penyadapan dalam Hukum Pidana
  5. Penggeledahan, KPK Vs DPR
  6. Membereantas Korupsi Dengan Melarang Main Golf
  7. KPK, Lembaga Super?
  8. KPK, Bertindak Luar Biasa!
  9. Menjaga Khitah KPK
Bagian 5 "Benang Basah" Pemberantasan Korupsi
  1. Divonis 10 Tahun, Puteh Diberi Hukuman Tambahan
  2. Hukuman Gubernur Kaltim Diperberat
  3. Mantan Pejabat Emigarsi Divonis Tiga Tahun
  4. Mantan Konjen Johor Baharu Divonis Dua Tahun
  5. Rokhmin Dahuri Divonis Tujuh Tahun Penjara
  6. Bupati Kendal Hendy Boedro Divonis Lima Tahun Penjara
  7. Mantan Duber RI untuk Malaysia Dihukum
  8. MA Tolak Kasasi Urip
  9. MA Tolak Kasasi Arthalyta
  10. Vonis Korupsi Untuk Penyuap
  11. Bulyam Divonis Enam Tahun
  12. Amin Nasution Sudah Dikuntit KPK Sejak Oktober 2007
  13. Bupati Situbondo Ditahan KPK
  14. Bupati Situbondi Divonis Sembilan Tahun
  15. Vonis 4,5 Tahun untuk Aulia Pohan
  16. Aulia Pohan, Nuansa Politik Dalam Kemanditrian KPK
  17. Kisah Jaksa "Pemburu" BLBI
  18. Pesan Moral Kasus Urip-arthalyta
  19. Tak Gentar Dengan Penjara
  20. Merebut Kekuasaan Legislasi
LAMPIRAN
Visi dan MIsis KPK
Tugas KPK
Sasaran Internal dan Eksternal KPK
Undang-undang yang Terkait dengan KPK
Kasus Korupsi yang Ditangani KPK [2005-2009]
Data buku
JUDUL: Jangan Bunuh KPK-Perlawnan terhadap Usaha Pemberntasan Korupsi
EDITOR: Tri Agung Kristanto, Irwan Suhada
PENERBIT: PT Kompas Media NUsantara. Jl.Palmerah Selatan 26-28 Jakarta 10270. E-mail: buku@kompas.com
ISBN: 978-979-709-442-3
TEBAL: xiv + 324 halaman. 14 cm x 21 cm
CETAKAN: September 26-28..
.

Sabtu, 24 Oktober 2009

PAK BOED EKONOM SEDERHANA


Kasap mata manusia akan berkata demikian terhadap sosok yang sekarang harus mendampingi SBY dan membawa ribuan nasib negeri ini. Pak Boed itu sederhana. Tampilannya memang membawa kesan yang sama antara pikiran orang dengan realitas sesungguhnya. Kini ada buku yang membawa kesan itu. Namun kesederhanaan bukan berarti sederhana dalam ilmu, Pak Boed itu kawan karibnya buku, saudaranya ilmu.
Memang ada yang mengatakan bahwa yang sederhana itu yang benar "Simplex Very Sigulum". Buku ini tidak terbeban oleh suasan yang berkembang, dan tidak terkontaminasi tujuan, apalagi terkait dengan pemilihan presiden dan wakil. Buku lahir setelah penghelatan yang penuh maksud sembunyi terlewati.
Ada juga yang menarik di sampul bagian belakang, yakni tulisan Eros Djarot, sang budayawan, tulisan itu selengkapnya:
"Pada saat sekolompok orang sangat gencar menebar isu 'Neolib' dan sengaja dilekatkan pada sosok Boediono...ada sebuah berita yang cukup mengejutkan. Seorang karib, Ayu Utami Sastrawati, membisikkan pada saya bahwa ia baru saja menerima telepon dari kawan lama yang kini bermukim di Australia, Prof.Arief Budiman, yang dulu dikenal sebagai salah satu tokoh Golput. Menurut Ayu, Arief Budiman sekarang menyatakan dirinya "no longer a Golput", Arief berubah menjadi "GOLBOED" [Golongan Boediono]. Kalau berita yang dilangsir Ayu benar, maka apa yang dinyatakan kawan, arief Budiman, adalah suatu bentuk simpati"
Data buku
JUDUL: Pak Boed Ekonom Yang Sederhana
PENULIS: Arwan Turi Arta
PENERBIT: Jogja Bangkit Publisher. Jl. Mawar Tengah No. 72 Baciro Yogyakarta 5525. Telp: [0274] 554985. E-mail: Jogjakartabangkit@gmail.com website: http://www.galangpress.com/
ISBN: 978-602-95394-1-7
TEBAL: 164 halaman. 15 x 23.
CETAKAN: I - 2009
Bab yang dibahas:
Percakapan awal
MENGISI WAKIL PRESIDEN
Percakapan satu
MUNCULNYA EKONOM DARI TIMUR
Percakapan dua
ANTARA KELUARGA DAN NEGARA
Percakapan tiga
SANG PEMIMPIN MENURUT PERHITUNGAN JAWA
Percakapan empat
MELANJUTKAN TRADISI ORANG KEDUA
Percakapan lima
SUARA SUARA DIBUANG SAYANG
Percakapan Terakhir
BOEDIONO PENGABDIAN TERAKHIR
.