Google

Minggu, 08 November 2009

ANTASARI & KISAH PEMBUNUHAN MENJELANG PEMILU

Sampai hari ini masalah Antasari masih menyengat jika dibicarakan, karena testimoni yang dilakukan kini sudah menggelinding seperti bola salju. Makin besar dan dengan turbulensinya, kini menabrak berbagai dinding institusi, bahkan kini membubung seperti sulit direduksi. Kemungkinan semakin menjadi-jadi hampir pasti sulit dihindari. Banyak yang mepersepsikan bahwa Antasari pemicunya, Antasari pematiknya. Buku ini menandai9 bahwa setelah peristiwa Antasari testimoni, terkesan merupakan pertanda terjadinya pembatasan ruang gerak KPK. Beruntun aksi-aksi susulan yang melemahkan dan merontokkan KPK. Ungkapan "cicak mua lawan Buaya, makin mantap menjelaskan adanya kekuatan rakwsasa yang sakit hati dan berkepentingan untuk menghabisi "cicvak " pemberantas korupsi.
Buku ini sedang mengiur informasi, untuk mendekatan sekaligus merngungkapkan tentang Antasari

"CINTA SEGITIGA" NASRUDIN - RANI - ANTASARI

Jika ada seorang-orang bertanya, siapa sesungguhnya Rani Juliani? Buku ini akan menjawabnya. Berbagai info tentang Rani dihimpun buku ini. Kendati berita ini, banyak dikais dari berbagai sumber berita seperti koran, majalah, tabloit, maupun eletronik, rasanya tetap segar. Penyusun buku ini memang piawai, dengan gayanya yang spesifik dan ditambah model penulisannya cenderung ke "features" membuat semuanya serasa "fresh from the oven".

Jumat, 06 November 2009

JANGAN BUNUH KPK-PERLAWANAN TERHADAP USAHA PEMBERANTASAN KORUPSI

Buku ini seperti roti yang mentas dari paganggan, disamping baunya harus meransang, enak disantap apalagi jika dibarengengi dengan seduhan kopi panas. Buku hadir saat sebuah gonjang-ganjing bergulir. Berbagai masalah terkait dengan upaya mempertahakan institusi ini, terkuat tuntas pada bab III. Memang orang menjadi terbelalak, ketika sepak terjang KPK ini ter5nyata dapat membuat nyiut nyali para koruptor. Satu persatu pelaku diguulung diadilai dan selanjutnya didekamkan doi "hotel rodeo". Tindakn KPK ini aka yang menganggap sebagai "Super Body", oleh karenanya seperti hgalilitas yang menyambar, sekaligus membuat gerah semi ketakutan. Inilah yang memungkinkan yang merasa terusik memberikan r5espon setimpal dengan upaya-upaya istimewa, yakni melalkukan perlawanan terhadap upaya pemberantasan.
Kewenangan KPK mulai dikocok-kocok dan dipersoalkan, mulai dari kewenangan penyadapan, supervisi penanganan korupsi, sampai perilaku pejabatnya. Namun tiba-tiba ada totonan, kasus Antasari Azhar membuat keruh suasana, sehingga kausu itu justru menyemaikan munculnya "gerakan" membunuh KPK. Suatu pertanyaan muncul apakah upaya-upaya itu melenyapkan atau sebalinya justru menimbulkan masalah baru, seperti gelembungi bola salju yang semakin lama semakin membesar. Buku ini juga menyertakan beberapa koruptor yang telah ditangkap dan dijebloskan ke penjara berikut data-datanya.
Bagian-bagian yang dibahas buku ini:
Bagian 1 : Korupsi Masih di Mana-mana
  1. Pemerintahan dari Aceh Sampai Papua Terjerat
  2. Pembersihanh Birokrasi
  3. Pemberantasan Korupsi Terancam
  4. Korupsi Kelembagaan Masih ancaman
  5. Jelaga di Wajah Lembaga Penegak Hukumj
  6. BLBI dan "Kampung Maling"
  7. Telikung Hukum Sang Penegak
  8. Gunung Es Korupsi di Parlemen
  9. Rusaknya DPR
  10. Jaringan Mafia Senayan
  11. Pemberantasan Korupsi Belum Mati
Bagian 2 Perlawanan terhadap KPK
  1. Sinyal Delegitimasi KPK
  2. Berbahaya, Kekuasaan Yang Terlalu Besar dan Tanpa Kontrol
  3. Antasari Ingin Lemahkan KPK
  4. Gerakan"Bunuh" KPK
  5. Dilarang di Luar Gedung
  6. DPR Jangan Ganjal KPK
  7. Pengadilan Khusus Tipikor di Persimpangan Jalan
  8. Koruptort melakukan Perlawanan
  9. Menjemput Kematian KPK
  10. KPK Jangan Dihancurkan
Bagian 3 Jangan Bunuh KPK
  1. Presiden Diminta SElamatkan KPK
  2. Mahfud Ingin KPK Diselamatkan
  3. KPK Dapat Bubar Tanpa Ada Perpu
  4. Jangan BUnuh KPK
  5. Lanjutkan (Membunuh) KPK
  6. "Membunuh" Pengadilan Tipikor
  7. Pembenahan Birokrasi Saja Tak Cukup
  8. Mandat KPK Dilanjutkan
  9. Inikah Akhir Cerita KOmisi Pemberantasan Korupsi di Negeri Ini
Bagian 4 KPK Lembaga Super
  1. Etos politik KPK
  2. Wewenang KPK dan Pembnerantasan Korupsi
  3. Penyadapan Hanya untuk Tidak Pidana
  4. Penyadapan dalam Hukum Pidana
  5. Penggeledahan, KPK Vs DPR
  6. Membereantas Korupsi Dengan Melarang Main Golf
  7. KPK, Lembaga Super?
  8. KPK, Bertindak Luar Biasa!
  9. Menjaga Khitah KPK
Bagian 5 "Benang Basah" Pemberantasan Korupsi
  1. Divonis 10 Tahun, Puteh Diberi Hukuman Tambahan
  2. Hukuman Gubernur Kaltim Diperberat
  3. Mantan Pejabat Emigarsi Divonis Tiga Tahun
  4. Mantan Konjen Johor Baharu Divonis Dua Tahun
  5. Rokhmin Dahuri Divonis Tujuh Tahun Penjara
  6. Bupati Kendal Hendy Boedro Divonis Lima Tahun Penjara
  7. Mantan Duber RI untuk Malaysia Dihukum
  8. MA Tolak Kasasi Urip
  9. MA Tolak Kasasi Arthalyta
  10. Vonis Korupsi Untuk Penyuap
  11. Bulyam Divonis Enam Tahun
  12. Amin Nasution Sudah Dikuntit KPK Sejak Oktober 2007
  13. Bupati Situbondo Ditahan KPK
  14. Bupati Situbondi Divonis Sembilan Tahun
  15. Vonis 4,5 Tahun untuk Aulia Pohan
  16. Aulia Pohan, Nuansa Politik Dalam Kemanditrian KPK
  17. Kisah Jaksa "Pemburu" BLBI
  18. Pesan Moral Kasus Urip-arthalyta
  19. Tak Gentar Dengan Penjara
  20. Merebut Kekuasaan Legislasi
LAMPIRAN
Visi dan MIsis KPK
Tugas KPK
Sasaran Internal dan Eksternal KPK
Undang-undang yang Terkait dengan KPK
Kasus Korupsi yang Ditangani KPK [2005-2009]
Data buku
JUDUL: Jangan Bunuh KPK-Perlawnan terhadap Usaha Pemberntasan Korupsi
EDITOR: Tri Agung Kristanto, Irwan Suhada
PENERBIT: PT Kompas Media NUsantara. Jl.Palmerah Selatan 26-28 Jakarta 10270. E-mail: buku@kompas.com
ISBN: 978-979-709-442-3
TEBAL: xiv + 324 halaman. 14 cm x 21 cm
CETAKAN: September 26-28..
.

Sabtu, 24 Oktober 2009

PAK BOED EKONOM SEDERHANA


Kasap mata manusia akan berkata demikian terhadap sosok yang sekarang harus mendampingi SBY dan membawa ribuan nasib negeri ini. Pak Boed itu sederhana. Tampilannya memang membawa kesan yang sama antara pikiran orang dengan realitas sesungguhnya. Kini ada buku yang membawa kesan itu. Namun kesederhanaan bukan berarti sederhana dalam ilmu, Pak Boed itu kawan karibnya buku, saudaranya ilmu.
Memang ada yang mengatakan bahwa yang sederhana itu yang benar "Simplex Very Sigulum". Buku ini tidak terbeban oleh suasan yang berkembang, dan tidak terkontaminasi tujuan, apalagi terkait dengan pemilihan presiden dan wakil. Buku lahir setelah penghelatan yang penuh maksud sembunyi terlewati.
Ada juga yang menarik di sampul bagian belakang, yakni tulisan Eros Djarot, sang budayawan, tulisan itu selengkapnya:
"Pada saat sekolompok orang sangat gencar menebar isu 'Neolib' dan sengaja dilekatkan pada sosok Boediono...ada sebuah berita yang cukup mengejutkan. Seorang karib, Ayu Utami Sastrawati, membisikkan pada saya bahwa ia baru saja menerima telepon dari kawan lama yang kini bermukim di Australia, Prof.Arief Budiman, yang dulu dikenal sebagai salah satu tokoh Golput. Menurut Ayu, Arief Budiman sekarang menyatakan dirinya "no longer a Golput", Arief berubah menjadi "GOLBOED" [Golongan Boediono]. Kalau berita yang dilangsir Ayu benar, maka apa yang dinyatakan kawan, arief Budiman, adalah suatu bentuk simpati"
Data buku
JUDUL: Pak Boed Ekonom Yang Sederhana
PENULIS: Arwan Turi Arta
PENERBIT: Jogja Bangkit Publisher. Jl. Mawar Tengah No. 72 Baciro Yogyakarta 5525. Telp: [0274] 554985. E-mail: Jogjakartabangkit@gmail.com website: http://www.galangpress.com/
ISBN: 978-602-95394-1-7
TEBAL: 164 halaman. 15 x 23.
CETAKAN: I - 2009
Bab yang dibahas:
Percakapan awal
MENGISI WAKIL PRESIDEN
Percakapan satu
MUNCULNYA EKONOM DARI TIMUR
Percakapan dua
ANTARA KELUARGA DAN NEGARA
Percakapan tiga
SANG PEMIMPIN MENURUT PERHITUNGAN JAWA
Percakapan empat
MELANJUTKAN TRADISI ORANG KEDUA
Percakapan lima
SUARA SUARA DIBUANG SAYANG
Percakapan Terakhir
BOEDIONO PENGABDIAN TERAKHIR
.

Kamis, 22 Oktober 2009

9 RAHASIA SUKSES SBY

Jelas isinya tentang rapor baik sang SBY, entah kebetulan atau memang kesengajaan buku ini lahir dengan memuat angka 9, yang kebetulan angka ini adalah angka favorit bagi SBY. Mungkin juga dapat dianggap sebagai angka keberuntungan. Kendati SBY tidak fanatik pada angka ini, numun acapkali muncul sebagai keberuntungannya. Buku-buku lain yang menyungguhkan perihal SBY dapat dipastikan akan menotak-atik angka ini.
Kini angka sembilan terulang untuk di otak-atik.
Berikut sembilan rahasia yang mengindikasikan kesuksesan SBY, antara lain:
  • Prestasi Cemerlang di Militer
  • Menyunting Puteri Seorang Jendral
  • Modernisasi Politik
  • Citra Nasionalis, REligius dan Demokrat
  • Idola Perempuan dan Kaum Profesional
  • Tidak Suka Mengkritik, Hat-hati dan Tenang
  • Sikap Kenegaraan
  • Strategi Kebudayaan
  • Strategi Revolusi Senyap.
Itulah indikasi keberhasilan SBY, namun tidak hanya indikasi yang tersuguh, buku ini juga mengungkap info yang belum tersebar luas di masyarakat.
Dari paparan buku nampak, bahwa sukses yang direngkuh SBY bukan karena kebetulan semata, bahkan cenderung ilmiah. SBY sangat tidak suka dengan ABS-Asal Bapak Senang, Info dan data menurutnya penting, tapi tingkat akurasi tetap di junjung tinggi. Untuk maksud itu SBY membangun sebuah Tim Bayangan ketika menjaring informasi, dan tim ini sebagai cek siulang atas info yang diperolehnya. Menurut buku ini SBY menyusun tim pemenangan untuk Partai Demokrat sebagai berikut:
Tim Delta [5 orang]
Tim Echo [33 orang]
Tim Foxtrot [5 orang]
Tim India [5 orang]
Tim Romeo [ 5 OIrang]
Tim Sekoci [66 oang]
Tim bentukan SBY ini sangat dahsyat dalam menyumbang kemenangan SBY.
Selanjutnya juga dibentangkan oleh buku ini, bahwa kesukaan membaca adlah kekuatan dahsyat yang tiada tanding.
Data buku
JUDUL: 9 Rahasia Sukses SBY
PENULIS : M. Hari Wijaya dan R. Toto Sugiharto
PENERBIT : Pareadigma Indonesi [Group Elmatera]. Jl. Waru 73 B Sambilegi Baru, Maguwoharjo. Yogyalkarta. Telp: 0274-6688342. E-mail: paradigmaselatan@yahoo.com
ISBN: 978-979-18515-0-3
TEBAL: 199 halaman.
l

Senin, 19 Oktober 2009

BIOGRAFI POLITIK SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Garda Maeswara, penulis buku ini, sengaja membentang biografi SBY dengan citarasa yang dekat dengan politik. Olehkarenanya buku yang dikreasi ini berjudul Biografi Politik. Ketika muda SBY diunggah tuntas oleh buku ini, juga romantika kehidupan politik yang dialami juga tidak luput tercermati. Hubungan yang kurang harmonis dengan Ibu Mega juga terbentang di buku ini. Entah merupakan suplement atau memang dirancang, buku ini juga menyertakan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai Demokrat. Sebenarnya yang dibahas di buku ini bukan spesial yang terkait dengan politik, namun secara keseluruhan pribadi SBY.
Bab yang dibahas dalam buku ini, antara lain:
  • Masa muda, Masa Pembentukan Karakter
  • Karier Mentereng Sang "Thinking General"
  • SBY Politik
  • Karier Awal SBY di Kancah Politik Indonesia
  • Digandeng Megawati Duduk di Kabinet Gotong Royong
  • Konflik SBY-Megawati
  • Maju dalam Pemiloihan Presiden 2004
  • Bersama Kita Bisa
  • Dan Pesta Rakyat pun Digelar
  • Diserang Balik Menyerang
  • Presiden Pertama Pilihan Rakyat
  • Ujian Bagi Pemerintahan Presiden SBY
  • Mewujudkan Perdamaian di Aceh
  • BBM Melangit
  • Undang-undang Kontroversial
  • Sibuk Menampik Fitnah
  • Saatnya Cerai dengan IMF dan CGI
  • Agenda Pemberantasan Korupsi
  • Keretakan Duet SBY-JK
  • Kontroversi Daftar "100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia 2009" Versi Time
  • Pemilu 2009: Pagelaran Pesta Rakyat lagi
  • Kenapa Boediono
  • SBY, Boediono, dan Neo Liberal
  • Melacak Kedekatan SBY ke "kanan": Jejak - Jejak Neoliberal di Indonesia
  • Kebijakan-Kebijakan Neolib SBY
Data buku
JUDUL: Biografi Poltik Susilo Bambang Yudhoyono
PENULIS: Garda Maeswara
PENERBIT: Narasi Jl. Iraian Jaya D-24 Perum Nogotirto II, Yogyakarta 5592. Telp: 0274: 7103084. E-mail: penerbitnarasi@yahoo.com
ISBN: 978-979-168-175-9
TEBAL: 256 halaman; 15 x 23 cm
CETAKAN: Pertama 2009.
[LAMPIRAN]
  • Keluarga SBY
  • Keluarga Besan SBY
  • Orang-orang Terdekat
  • Visi Misi Partai Demokrat
  • Anggaran Dasar Partai Demokrat
  • Anggaran Rumah Tangga Partai Demokrat
  • Surat Pengesahan Partai Demokrat
  • Struktur Organisasi Partai Demokrat.

Minggu, 11 Oktober 2009

GURU SD PEJUANG TERDEPAN, PAHLAWAN PENDIDIKAN

Bukan hanya hasil penelitian dan teori yang berkembang atau tulisan buku-buku yang terletak memanjang di rak perpustakaan, namun merupakan fenomena yang harus diluruskan. Kini seakan menohok mata kita bahwa banyak Guru-guru kita yang belum mendapatkan penghargaan semestinya, namun justru di nistakan
Kenyataan memberikan jawaban, hampir semua kegiatan, mulai tingkat kecamatan hingga propinsi guru–guru terutama Guru SD menjadi motor penggerak, menyambut kehadiran, menjadi pewara, paduan suara, bahkan kegiatan yang bukan semestinya serta-merta dilakukan hanya demi sebuah keberhasilan orang lain.
Namun ketika ada perilaku yang dianggap minor dilakukan oleh seorang oknum guru pemberitaan menjadi besar dan tersebar, tak jarang koran mewartakan tiada habisnya. Inilah kenistaan yang acapkali diterima, sisi lain adalah masih lemahnya advokasi dalam segala bentuk pembelaan.
Mensiasati hal ini seharusnya para guru merapatkan diri, bersatu padu untuk saling bantu, bahkan membuka kerjasama untuk meningkatkan wawasan kerja dan wawasan profesi harus segera dimulai, yakni membangun solidaritas yang kuat dan hakiki

PERGURUAN TINGGI HARUS BERTANGGUNG JAWAB DAN MELINDUNGI
Agar guru-guru lebih bermartabat, tentunya harus dibekali dengan segenap pengetahuan yang kuat, bahkan meningkatkan kualitas akademik adalah tantangan yang tidak boleh ditinggalkan. Di sinilah Perguruan tinggi harus bertanggung jawab. Jika perguruan tinggi khususnya perguruan tinggi PGRI tidak berkontribusi untuk meningkatkan mutu para guru, utamanya guru sekolah dasar, dosa hukumnya. Dan bila berguruan tinggi tidak aspiratip dalam meningkatkan prosionalisme guru-guru berarti telah keluar dari jati diri yang sebenarnya.
Perguruan tinggi harus hampu memberikan perlindungan, terutama para dosennya, bukankah dosen itu sejatinya adalah seorang guru, dan ketika pangkat tertiunggi di genggamnya disebut sebagai professor atau “Guru” besar.
Sebagai rasa hormatnya sangat diharapkan memberikan spirit kepada para guru, dan ketika seorang dosen menjadi asesor, apakah asesor akreditasi sekolah, asesor sertifiaksi guru, atau pemateri memberikan timbangan yang khusus dan yang bagus atas kesuksesan guru. Jika hal itu dilakukan berarti perguruan tinggi beserta civitasnya telah melindungi Nasib Guru.

Bersatu menangkal Isu, Cerdas Membangun Solidaritas
Akhir-akhir ini ada sebuah sinyalemen yang ingin melemahkan organisasi yakni PGRI. Telah terlontar dan tersebar luas yakni isu dikotomis agar PGRI menjadi organisasi partial, ada organisasi guru Sekolah Dasar, ada organisasi guru SMK, ada organisasi Guru SMP, ada organisasi Guru SMA, bahkan hingga perguruan tinggi milik PGRI.
Jika isu itu menjadi kenyataan maka PGRI akan bubar, terpecah-pecah, saling memisahkan bahkan menjadi saling berhadapan. Inilah suatu tantangan bagi kita, untuk kembali kepada jati diri PGRI.
Banyak riset mengatakan bahwa PGRI sebagai organisasi besar dan kekuatannya diperhitungkan, serta memiliki jaringan dari hulu ke hilir, dan hampir seluruh kecamatan di republik ini memiliki pengurus. Parti Politik terbesar di Indonesia dinyatakan belum memiliki pengurus kecamatan serapi PGRI. Kenyataan inilah yang harus dijadikan pegangan kita semua, agar jangan ada serpihan maksud untuk menghasut, agar PGRI bubar.
Isu mutakir berkembang bahwa PGRI agar bersih dari unsur perguruan tinggi, isu ini berkembang di luar Jawa, yang tidak munutup kemungkinan akan merebak dan berhembus di Jawa Timur. Isu ini jelas agar PGRI lemah, dan sebagai organisasi agar tidak memiliki harga tawar. Kenyataan ternyata tidak terbantahkan, berangsur-angsur Ketua Umum PB PGRI Pusat dari kalangan perguruan tinggi.
Prof.Dr.H. M. Surya, adalah Ketua Umum yang secara kebetulan dari Perguruan Tinggi, semasa periode kepemimpinannya telah memberikan perubahan yang meluas, guru-guru lebih bermartabat, bahkan Undang-Undang Guru lahir ketika Pak Surya memimpin organisasi PGRI. Bahkan dengan kepemimpin HM. Surya, memenangkan gugutan atas pemerintah terkait dengan anggaran pendidikan sebesar 20 %.
Juga Pengurus Besar ketika di pimpin generasi muda DR.H, Sulistyo.MPd, adalah mantan Rektor IKIP PGRI Semarang, berhasil mendesak pemerintah agar para “Pengawas” juga disertakan dalam sertifikasi, akhirnya lahir Peraturan Pemerintah No 74 yang akhirnya para Pengawas di sertakan dalam sertifikasi.
Kini Dr.H. Sulistyo, MPd sang Ketua Umum PGRI Pusat terus berjuang, agar kemaslahatan guru terwujud, dengan gigih memperjuangkan standar gaji guru, memperjuangan pengangkat guru “wiyata bhakti”.
Kemudian Ketua PGRI Jatim, Drs. H, Matadjit,MM, adalah seorang mantan pimpinan Perguruan Tinggi, yakni mantan Pembantu Rektor Bidang Akademik, juga pernah menjabat Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswa IKIP PGRI Surabaya yang kini adalah menjadi Universitas Adi Buana Surabaya. Selama memimpin bertindak arif dan aktif. Berkalikali mendatangi mahkamah konstitusi agar anggaran pendidikan tuntas tercapai sesuai Undang-undang Dasar, bahkan pemberani. Pernah suatu kali menulis surat untuk Presiden terkait Anggaran Pendidikan. Inilah sebuah gambaran umum, agar kita tetap bersatu menangkal isu, serta cerdas membangun solidaritas