How to be Excellence in Millenial Era
Untaian pemikiran:
*) poin poin singkat
Djoko Adi Walujo
PENGANTAR:
Berita yang sangat senang ketika
mendapatkan undangan untuk berbagi pengalaman, tentu asumsi yang harus
dikedepankan ketika menyambut undangan ini, adalah saya berada di tengah-tengah
audience yang sudah mengantongi pengalaman
yang sama. Setidaknya sudah mendengar hal ini sejak lama., bahkan mungkin bosan
mendengar hal-hal yang akan saya sampaikan.
Ada alasan pembenar dari asumsi saya
yakni karena zaman yang tak pernah diam. Zaman sering menggoda karena teknologi
saat ini penuh daya penggoda yang dahsyat. Lalu apa bedanya antara saya dengan
audience? Jawabnya terletak pada daya goda, tingkat daya goda, cara menggoda
dan siapa yang tergoda atau kita saling menggoda.
Sebelum berlanjut memaparkan ada untai
pemikiran yang sarikan dari dunia maya yang menggoda saya, berikut godaan itu:
Godaan pertama:
Era Revlolusi industri 4.o adalah sebuah
keniscayaan. Di Era ini bangkit suatu derivasi anak perkembangan ilmu pengetahuan, yakni teknologi informasi yang
akan beranak pinak pada “Cyber Systems”. Di era inilah yang membuat semua
orang/organisma/organisasi, dituntut untuk secara [2S,2C] Sadar, sehat, cerdas,
dan cepat merespon sebuah kejadian (lebih tepat fakta[fact] bukan sekekar
kejadian berbentuk fenomena belaka). Sesungguhnya kita sudah berada di pusaran
ini. Termasuk profesi kesekretariatan tak lepas dari daya goda. Setiap hari
kita digoda, semuanya mengancam pola sikap seorang orang yang "tidur
nyenyak" di ZONE aman. Orang yang berada Zona aman dan selalu bahagia di
zana itu, adalah orang yang telah tergoda tapi tidak merasakan digoda.
Akibatnya adalah hadirnya sebuah kesadaran dungu dan tertinggal jauh.
Godaan kedua
Fakta menunjukkan bahwa sebuah
berita telah berkembang dengan tergandakan (terpoleferasi), ter-viralkan
dengan cepat, dengan kelipatan pangkat yang tak terbatas. Kelipatan pangkat tak
terbatas yang akrab dikenali dengan “Exponensial”. Semua kejadian tidak bisa
dibungkus rapi, semua akan terkuak. Sebaik baiknya kemasan (packaging), Serapat
rapatnya daya tutup, akan tercium dan terviralkan.
Mengapa terviralkan karena kemampuan
teknologi informasi saling gayut, atau
saling terkait dan terintegrasi. Kita tidak bisa bersembunyi akan budaya viral
itu, apalagi kita berada di kawasan budaya yang amat suka gaya dengan model “rerasan”
atau pergunjingan. Tanpa teknologi kita
sudah jadi bahan pembicaraan apalagi teknologi memfasilitasi. Berita satu akan
bersambung dengan yang lain melalui “line”, “whatshap”, “facebook”, “Instagram”,
“path”, “pinterst” atau lainnya.
Apalagi sekarang ada seorang dara dari
Kebumen Jawa Tengah menemukan WA ala Indonesia yang diberi nama Callind-
kepanjangan dari Call Indonesia. Begitu canggihnya callind ditawar provider
hingga 200 milyar.
Lalu godaan apalagi dengan Callind karya
Novi yang yang alumni UGM ini?, kita akan terditeksi antar pengguna hingga
radius 100 KM. Peluang tapi juga ancaman bagi semua orang yang miskin
kejujuran.
Godaan Ketiga
Katersediaan berbagai sumber berita
sudah tak terkendali dari kuantita maupun kualita, orang akan mudah mengakses
tanpa bayar, dan acapkali tanpa dikonfirmasi, atau menvalidasi secara dalam,
padahal kedalaman sebuah analisis sekarang menjadi kemutlakan.
Ketersediaan inilah yang sering disebut sebagai “abundance era”, era
berkelimpahan. Kemudian dampaknya bisa bernilai positif namun juga membawa
kecenderugan negatif. Khususnya untuk dunia pendidikan yang harus diwaspadai
adalah, seorang-orang memiliki kecenderungan menjadi “user” karena semua
tersedia, dan menghindari menjadi “maker” pembuat. Inilah yang harus diwaspadai
karena yang akan menurunkan budaya literasi, dan meruntuhkan daya imaginasi.
Rantai imaginasi sejatinya akan melahirkan kebaharuan (novelty), selanjutnya
mendorong inovasi, berlanjut mempertajam mental egility. Organisasi sangat
berharap semau anggotanya memiliki
imaginasi yang hebat, lalu wawasan dengan horizon yang kuat, namun
semuanya terpangkas karena informasi tersedia berkelimpahan dan instan
sifatnya. Semua tanya pada “mbah Google” akan dijawab cepat ketimbang tanya
profesor yang kadang udah pikun karena beban cerdasnya.
Bagaimana kita harus Excellence di era penuh goda ini?
Tentunya banyak cara, banyak metoda,
saya menawarkan dua saja di seminar ini:
- Bangunkan kelincahan mental kita ( Mental Egility )
- Suburkan ambisi sehat kita (halty in ambition)
No comments:
Post a Comment