SILA CARI DI SINI!

Google

Monday, April 21, 2008

KARTINI DAN BUKU: "HABIS GELAP MENUJU CAHAYA"

Ketika orang percaya bahwa buku mampu membangkitkan segalanya, maka akan menjadikan buku sebagai rujukan dalam bertindak, berpikir dan ber perilaku.
Buku dari keadaan fisiknya, hanya berupa kertas saja, namun tulisan yang mendiami buku itu, memiliki kesanggupan yang luar biasa. Orang bisa takut karena buku, namun orang juga bahagia karenanya. Kadang sebuah rezim pemerintahan gerah karena buku, akhirnya kata breidel menyeru. Misalnya karya pulau Buru Paramoedya Ananta Tour, yang banyak diburu oleh orang, yang terangsang karena buah tulisanya. Sisi lain yang kurang senang menyerang dan melarangnya. Indonesia Menggugat merupakan pledoi Bung Karno di depan pengadilan Hindia Belanda. Sebuah buku yang menggugat kejahatan cultuurselsel, setelah peledoi itu menjadi buku mampu menggetarkan daya juang anak bangsa. Jauh negeri ini merdeka lahirlah buku-buku yang mampu membuka kalbu, menghadirkan persamaan, menentang pikiran yang mapan, dan menjungkirbalikkan kenyataan. Itulah dahsyatnya kumpulan tulisan Kartini, yang dibukukan oleh Mr.J.H.Abendanon. Buku itu mula-mula diterbitkan pada tahun 1911 dan pada tahun 1923 telah mengalami cetak ulang ke-4.
Warung sangat berkepentingan dengan karya-karya Kartini, sebagai wahana memotivasi pengunjung warung untuk terus berkarya, dan sadar betapa pentingnya bacaan dalam mengasah ketrampilan menuangkan gagasan.
Untuk buku-buku Kartini warung hanya memiliki koleksi yang terbatas. Terkait dengan judul bahasan, saat ini akan diketengahkan tiga buku, masing-masing:
  1. Panggil aku Kartini saja, karya Pramoedya Ananta Toer
  2. Tragedi Kartini, Sebuah Pertarungan Ideologi karya Asma Karimah
  3. Kartini dari sisi lain : Melacak Pemikiran Kartini tentang Emansipasi “Bangsa” karya Dwi Arbaningsih

MENCANDRA BUKU:

JUDUL: Tragedi Kartini Sebuah pertarungan Ideologi
PENGARANG: Asma Karimah
PENERBIT: Syaamil, Jl. Babakansari I. No.71 Kiaracondong, Bandung 40283. Telp.[022] 7208298
ISBN : 979-959-423-5
CETAKAN: VII Maert 2007
HALAMAN: vi + 82 hlm, 13,5 cm

“HABIS GELAP TERBITLAH TERANG” atau “DARI GELAP MENUJU CAHAYA”
Dalam buku Asma Karimah, yang bertitel Tragedi Kartini, ternyata sang cucu Ibu Kartini, Prof. Dr. Haryati Soebadio, mantan Menteri Sosial RI, memberikan makna yang lain dari judul buku Kartini.
Semula Mr.J.H.Abendanon, memberikan judul Door Duisternis tot Licht, yang terlanjur diartikan sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang oleh Armijn Pane.
Sang Cucu mengartikan Door Duisternis tot Licht sebagai Dari Gelap Menuju Cahaya, yang bahasa Arabnya adalah : Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur.
Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur ini merupakan inti dari panggilan Islam, yang maksudnya membawa manusia dari kegelapan [kejahiliyahan atau kebodohan hidayah] ke tempat yang terang benderang. ---[hlm: 2-3]

DARI KELUARGA CERDAS DAN BAKAT MENJADI PEMIMPIN.
Atmosfir politik Indonesia saat ini, lagi deman pemimpin dari kawula muda, sebenarnya ketika zaman penjajahan banyak pula pemimpin yang berasal dari generasui muda. Misalnya Kakek Kartini, Pangeran Ario Tjondronegoro IV diangkat menjadi bupati pada Usia 25 tahun. Beliau adalah bupati pertama di Jawa Tengah yang membuka peradapan barat. Kakak Kartini, Sostrokartono, adalah seorang jenius dalam bidang bahasa. Selama pendidikannya yang singkat di Belanda, dia berhasil menguasaai 26 bahasa; 17 bahasa-bahasa Timur dan 9 bahasa-bahasa Barat.—[hlm:9]

PENGALAM KARTINI YANG TIDAK MENYENANGKAN KETIKA MENGAJI.
Pada masa kecilnya , Kartini memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan ketika belajar mengaji [membaca Al-Quran]. Ibu guru mengajinya memarahi dia dan menyuruh Kartini keluar ruangan ketika Kartini menanyakan makna dari kata-kata Al-Quran yang diajarkan kepadanya, sejak itu timbullah penolakan pada diri Kartini.
Cuplikan Surat Kartini kepada Stela [6 Nopember 1890].
…..Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan Apa! Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aka dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahami Al Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Disini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al Quran, tetapi tidak mnegrti apa yang dibacanya……. –[hlm:35]

KARTINI MENCELA BARAT DAN MEMPERBAIKI CITRA ISLAM
Cuplikan surat kepada nyonya E.E.Abendanon. 27 Oktober 1902
…..Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tida taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna?. Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?

Cuplikan surat kepada Nyonya. Van Kol, 21 Juli 1902 …. Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut diakui

JUDUL: Panggil Aku Kartini Saja
PENGARANG: Pramoedya Anantatoer
PENERBIT: Hasta Mitra,
ISBN : 979-8659-07-6
CETAKAN: 2000 Cetakan ulang ke-IIHALAMAN: xxvi + 262 hlm



RAKYAT DIHALANG-HALANGI ARISTOKRAT
…Kartini ingin menyatakan, bahwa sebenarnya kemajuan Rakyatnya dihalang-halangi oleh kaum aristokratnya sendiri, orang-orang yang justru menganggap dirinya paling mulia di dalam masyarakat.
Untuk memudahkan memahami moral feodal Primbumi, kiranya tepat sekali dikemukakan salah satu ajaran moral, yang disampaikan dari turunan pada turunan kalangan feudal, terikat dalam puisi tradisonal, dan berbunyi demikian.
Metrum Sinom:
Wedi asih ing wong tuwa
Setia ing Sang Aji
Ratu ingkah angreh praja
Nuhoni sakersa neki
Sumujud lahir lan batin
Iku sejating elmu
Dadasaring kesatrian

Artinya:
Takut sayang kepada orang tua
Setia tulus kepada Sri Baginda
Raja yang memrintah negeri
Laksanakan segala kehendaknya
Bersujud lahir batin
Itulah ilmu yang sejati
Dasar daripada kesatriaan
[hlm:83-84]

DAYA DUKUNG BACAAN YANG MELEJITKAN PIKIRAN KARTINI
Kartini mendapat banyak pengaruh dari bacaan, terutama dalam mengambil sikap pengaruh ini diterimanya dari keluarganya sendiri, dari P.A. Hadiningrat, dari R.M.A.A. Tjondronegoro, terutama sekali dari abangnya yang tercinta Sosrokartono. Di dalam surat-suratnya di sana-sini orang dapat temukan kembali pendapat-pendapatnya mereka ini, yang telah menjadi pendapat dan sikapnya sendiri. Sekali R.M.A.A. Tjondronegoro menerbitkan sebuah catatan atas karangan Veth Java jilid I, dan catatan itu bersifat kritik yang menolak pandangan Veth. Jejak ini diikuti juga Kartini. Ia menolak buku yang “jadi buah bibir, yang menggerakan begitu banyak pena dan membangkitkan badai kekecewaan”. Memanglah buku tersebut memandang Rakyat Hindia dari jurusan kekurangannya saja, kurang melihat segi-seginya yang posistif. Karena itu Kartini membela diri. ---[hlm:108]
Siapa sebenarnya Veth [1814-1895] adalah seoramng mahaguru dalam bahasa Timur, serta jurusan Purbakala Ibrani, tafsir Injil, filsafat Etnologi Hindia Belanda, serta Islamologi.
Namun demikian bacaan Kartini juga dijumpai bubku-buku yang menceriterakan Hindia Belanda dari sisi positif. Misalnya:

Tulisan Augusta de Wit, yangh dinilai simpatik, kemudian juga roman Belanda karya, Henri J.F.Borel [1869-1933] tentang “Gamelan”. Juga dalam De Gods, tentang “Wayang Orang”
Kartini pernah menjumpai karya oaring Asing, yang menggambarkan keprihatinanya terhadap negeri Hindia Belanda. Minnerbrieven Karya Multatuli. Kartini mendapatkan kalimat-kalimat yang menggoncangkan:
Orang jawa dianiaya
Akan menyetopnya
Dan: Tugas manusia ialah menjadi manusia.
--[hlm: 110]

HABIS GELAP TERBITLAH [DOOR DUISTERNIS TOT LICHT], MENGGONCANG DUNIA.
Door Duisternis tot Licht ternyata menarik juga perhatian dunia internasional. Berturut turut majalah “Atlantic Monthly [New York, 1919-1920] pernah menerbitkannya dalam terjemahan Bahas Inggris, dan kemudian diterbitkan khusus dalam bentuk buku dengan Judul Letters of a Javanese, terjemahan Agnes Louise Syammers, dengan kata pengantar Louis Couperus [1863-1923] Di samping utu Kartini pun telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusis buat penduduk muslim sewaktu pemerintahan Czar, dan beberapa uraian serta surat-suratnya juga telah ditulis dan disalin kembali pada waktu yang akhir-akhir ini. Setelah Perang Dunia kedua terjemahan pun dilakukan dalam bahasa Tionghoa. –[hlm:213-214]

JUDUL : Kartini dari sisi lain : Melacak Pemikiran Kartini tentang Emansipasi “Bangsa”
PENGARANG : Dwi Arbaningsih
PENERBIT: PT KOMPAS Media Nusantara, Jl. Palmerah Selatan 26-28, Jakarta 10270. E-mail: buku@kompas.com
ISBN: 979-709-207-0
CETAKAN: Juli 2005HALAMAN : xiv + 218 hlm: 14 cm x 21 cm

KRITIK TERHADAP SUKU JAWA.
Di mata Kartini, rakyat Jawa, dari kalangan atas hingga bawah, pertama-tama perlu memilki nalar dan budi pekerti, “ Naast’t hoofd moet’t hart worden”.
Kartini menulis:
….Salah satu sifat buruk dari orang Jawa ialah kesukaanya pamer, Seorang bangsawan Jawa lebih suka hidup melarat daripada harus bekerja tanpa mendapat kehormatan berupa…payung emas. Orang bangsawan Jawa memandang rendah segala apa yang tidak disertai paying emas. Sifat ini harus segera diberantas, karena merupakan hambatan bagi kemajuan [Surat Kartini, dalam Sitisoemantri, 1986:428]
…[hlm: 4]

DAMPAK LUAR BIASA DAN “AKROSTIK”
Melihat dampak luar biasa perjuangan Kartini itu, tidak berlebihan bila Abendanon menulis akrostik Kartini sebagai berikut:
K-Kartini’s hart sloeg warm de toekomst togen
A-Aan’t garen van bloemen, haar zielgewijd
R-Reikhalzend uit teedere droomen ontwekend
T-Tot heil van heel haar zachte volk
I-In lijden en strijden met velen verboden
N-Na duisternis wijzend naar ‘schemerend licht
I-In blij ontuikenden morgenstond

[Hati Kartini merangkul hangat menyambut masa depan
Jiwa direntangkan pada bau harum bebungaan
Terbangun dari mimpi lembut
Demi keagungan bangsanya yang halus
Dam derita dan perjuangan bersama
Habis gelah menuju gemerlapnya terang
Dalam bahagia menyambut datangnya pagi]
…[hlm: 48]

NAMA-NAMA YANG MEMPENGARUHI KARTINI:

  1. Sosrokartono [1877-1952] adalah abang langsung Kartini. Dari Sosrokartono lah Kartini mendapatkan kiriman bacaan dan bhuku untuk menyempurnakan penguasaan bahasa Belandanya dan memahami ilmu pengetahuan.
  2. Multatuli alias Douwes Dekker lewat karyanya Max Havelar [1860], memberikan gambaran betapa buruk dampak Culturstelsel [tanam paksa] terhadap kehidupan rakyat Bumi Putera, sedangkan leawt Minnebbrieven, dialog antara dua wanita, Fancy dan Tine, ia membahas isu emansipasi. Douwes Dekker pernah menjabat asisten residen di daerah lebak, banten. Akibat tulisannya itu ia dipulangkan ke Negeri Belanda dan hidup di sana dalam keadaan serba kekurangan.
  3. C.Goekoop de jong van Veak en Donk menulis buku Hilda van Suylenburg [1898]. Tokoh dalam buku ini, memberi inspirasi Kartini tentang perjuangan seorang qwanita mendudukkan dirinya di masyarakat. Buku ini pada zamannya mengundang polemic.
  4. Pandita Ramabai, Tokoh Wanita dari India. Dikagumi karena pembaharu sosial serta tokoh pendidikan dan emansipasi wanita. Tokoh ini menguasai tujuh bahasa, memperoleh reputasi tinggi sebagi pakar bahasa Sansekerta.
    …[Hlm : 46]

PERHATIANNYA KEPADA PENDIDIKAN
Cuplikan nota Kartini untuk Rooseboom:
…Berilah pendidikan kepada perempuan Jawa, gadis-gadis kami! Didikalh budinya dan cerdaskan pikirannya. Jadikanlah mereka perempuan yang cukup cakap dan berakal, jadikanlah mereka pendidik yang baik untuk keturunan yang akan datang! Dan bila pulau Jawa mempunyai ibu-ibu yang cakap dan pandai, maka peradaban satu bangsa hanyalah soal waktu saja.
…[hln: 133]
Hampir tidak ada harian dan tidak ada majalah satupun yang berarti yang kita buka tanpa memuat sesuatu mengenai Hindia. Bukan hanya mengenai Hindia sebagai tanah yang kaya, melainkan mengenai Hindia sebagai tanah orang Jawa, yang berhak akan kekayaan tanah airnya…. Masih banyak hal lain…yang berguna bagi orang Jawa, membuka mata kami terhadap usaha yang sungguh-sungguh…untuk menjadikan bangsa berkulit coklat, bangsa kami, lebih sejahtera dalam arti kebendaan dan kerohkanian.
..[hlm 131]

[Wusana kata: Kartini kendati hanya lulusan sekolah rakyat, minat bacanya tidak dapat ditandingkan, disamping keluarganya sangat mengkondisikan suasana belajar. Keluarganya, adalah keluarga yang terdidik dan cerdas. Itulah yang memberikan daya dorong Kartini untuk mengepresikan dirinya, sehingga bacaan demi bacaan memberikan inspirasi yang tajam dan dahsyat.Membaca adalah energi Kartini, hasil membaca memproduk ulang gagasan, yang diadaptasikan dengan keadaan bangsanya. Kini menjadi sebuah buku yang membongkar kebodohan menuju jatidiri manusia yang manusia. Door Duisternis tot Licht- sebagai Dari Gelap Menuju Cahaya]

1 comment:

suyatno said...

Kartini demikian hebat meski dalam keterpurukan rakyat dan keterdesakan diri di alam dominasi laki-laki. Bravo Kartini!