SILA CARI DI SINI!

Google

Monday, December 17, 2007

EVO MORALES, PRESIDEN BOLIVIA MERAKYAT& PEMBERANI

Berita Harian Sore Surabaya Post Sabtu [15 Desember 2007], memberitakan bahwa Bolivia menyiagakan angkatan bersenjata menjelang upaya otonomi yang akan dilakukan separo dari propinsi-propinsi yang ada di negara itu.
Pemeruntah sosialis yang dipimpin Presiden Evo Morales khawatir demonstran akan berusaha mengambil kantor-kantor negara di Santa Cruz. Ripanya Evo memilki nasib yang sama dengan karibnya Presiden Venezuela, Hugo Chavez yang pernah didemo mahasiswa akibat konstitusi yang controversial, dan berakhir kekalaha di pihak Hugo.
Empat dari sembilan propinsi yang ada di Bolivia, yakni Santa Cruz, Tarija, Beni dan Pando telah memprakarsai untuk mendeklarasikan otonomi, menurut rencana dilakukan Sabtu Tanggal 15 Desember 2007. Keempat propinsi tersebut sangat keberatan atas langkah-langkah yang dilakukan Evo Morales mengubah konstitusi untuk memperluas wewenang presiden, meningkatkan hak-hak mayoritas pendusduk pribumi dan mendistribusikan ulang kekayaan dari daerah-daerah dataran rendah mereka yang kaya ke daerah-daerah dataran tinggi Andreas yang miskin.

Warung ini sangat tertarik untuk melihat lebih jauh, “Siapa Evo Morales, Presiden Pemberani, Presiden Rakyat”, melalui buku-buku yang secara tematik menulis Sang Presiden. Saat ini tersedia dua buku di warung kami: (1) Evo Morales Prersiden Pemberani , dan (2).Evo Morales Presiden Menantang Arogansi Amerika.

Presiden Rakyat :
Evo adalah presiden Indian pertama, nama lengkapnya adalah “ Juan Evo Morales Ayma”. Model pikirannya memperkuat sikap untuk tidak tunduk, dan tidak mudah digertak oleh korporasi asing yang akan merampok sumber daya alam milik negeri dan rakyatnya. Oleh karenanya saat ini, Evo adalah salah satu dari empat presiden radikal, seperti yang ditulis Eko Prasetyo dari penerbit Resist. Lihat tulisan Eko Prasetyo dalam, inilah Presiden Rasdikal [Evo Moraleh, Hugo Chavez, Fidel Castro, dan Mahmoud Ahmadinejad].
Morales adalah presiden rakyat. Ia sangat memahami kepada siapa semestinya menjadi pelayan, dan dia memilih menjadi prerside bagi rakyatnya, termasuk bagaiman keberanian morales memotong gajinya 50% untuk membiayai penambahan jumlah dokter dan guru.
Pemikirannya yang radikal nampak ketika dilantik menolah di lakukan di Istana, namun justru memilih dilantik di bekas kuil.
Salah satu cuplikan pidato Evo Morales di ladang gas San Alberto, Bolivia Selatan (1 Mei 2006) terkait dengan nasionalisasi perusahaan gas dan minyak bumi sbb:
“ Kami menasionalisasi seluruh sumber minyak dan gas bumi negara ini, bersama ini pemerintahan mengambil alih keuntungan, kepemilikan, dan memiliki control total dan absolut terhadap seluruh sumber alam ini. Kami memulainya dengan nasionalisasi migas. Besok kami akan menambahnya dengan pertambangan, kehutanan, dan semua sumber-sumber alam yang telah diperjuangkan nenek moyang kita”
Keberaniannya cukup beralasan, karena tindakan Morales selalu di didukung oleh sekutunya, yakni Presiden Hugo Cavez

Chavez menyatakan: “Venezeula tidak akan membiarkan Pemerintah Bolivia dan rakyatnya diserang dari luar atau dari dalam”

Pidato Evo ketika kampanye, membuat negara kapitalis kurang simpatik, karena pernah berkata:
“Musuh paling jahat dari umat manusia adalah kapitalisme”.
Jargon itulah yang mengantarkan gagasannya untuk pendidikan Kesehatan dan Perumahan sbb:
Pendidikan:
Menyelenggarakan pendidikan gratis untuk rakyat miskin dengan pemahaman akan situasi sosial dan keadaan konkrit ekonomi yang penuh ketimpangan.
Kesehatan:
Layanan kesehatan gratis dan kewajiban dokter untuk komunitas kampung orang-orang miskin
Perumahan:
Perumahan khusus untuk kaum miskin dari dana alokasi nasionalisasi perusahaan dimanfaatkan untuk membangun perumahan pemukiman miskin.

Yang Aneh. Unik dan Konyol untuk presiden ini.
- Menurut dia terminology politik adalah; “ Politik adalah ilmu melayani rakyat, bukanya hidup dari rakyat”
- Dalam sejarah demokrasi di Bolivia, tidak pernah terjadi, seorang kandidat mendapatkan suara lebih dari 50 %. Evo mendulang rekor, memperoleh dukungan mayoritas rakyat sebesar 54%, sehingga tidak diperlukan lagi pengambilan keputusan di tingkat kongres.
- Menolak adigium “ pacta sunt servanda” [sekali kontrak ditandatangani perlu dihormati kesuciannya], penolakkan adigium inilah yang melatari Evo, melakukan nasionalisasi.
- Tidak senang menggunakan dasi, kemana-mana memakai sweater, termasuk ketika kunjungan kenegaraan di luar negeri. Sebagai presiden paling popular di benua Amerika, ketika dilakukan polling kepopulerannya mengalahkan preside George W. Bush [presiden Amerika]. Hasilnya 81 % untuk Evo, sedangkan George .W. Bush meperoleh suara jauh dibawah Morales

Ingin menikmati lebih lanjut silahkan membaca:

JUDUL : Evo Morales Presiden Pemberani, Presiden Rakyat
PENGARANG : Budhi Wuryanto + Wanda Djatmiko [Penyunting]
PENERBIT : Delokomotif, Jl. Kemitbumen No.5A.Yogyakarta [55131] Telepon [0274] 700 5618. 372191. E-Mail: deloco@delocomotif.com Web: http://www.delocomotif.com/
CETAKAN : I Mei 2007
ISBN : 978-979-16187-1-7
JUMLAH HALAMAN:80


JUDUL : Evo Morales Presiden Bolivia Menantang Arogansi Amerika
PENGARANG : Hempri Suyatna
PENERBIT : Hikmah, PT Mizan Republika Jl. Puri Mutiara Raya No. 72, Cipete Jakarta Selatan 12410 Telepon [021] 75915762-7591573. E-Mail: hikmahku@cbn.net.id.
CETAKAN : I Juni 2007
ISBN : 979-114-070-7
JUMLAH HALAMAN:207
[pada sampul belakang, bagian luar buku ini tertulis pendapat AM. Fatwa , yang dikutip dari weblog catatan harian pimpinan MPR, http://www.mpr.go.id/.]
Isinya:
”Sudah tiba waktunya Presiden SBY mengumumkan kepada rakyat bahwa semua bisnis migas dan pertambangan yang selama ini dikuasai asing segera dikembalikan kepada rakyat dan sepenuhnya dikontrol oleh negara”
[A.M. Fatwa. Wakil ketua MPR RI]

1 comment:

ogi said...

Perlu dikaji ulang mengenai penulisnya ini, mbak wanda djatmiko.
Beliau sudah melakukan plagiarism di salah satu buku karya nya, 100 warung makan enak di jogja, yang sebagian besar mengambil tanpa ijin dari website TrulyJogja.com

Bahasan lebih lanjut silahkan baca disini
http://o.gi.web.id/archives/119/kasus-plagiat-buku-100-warung-makan-enak-di-jogja/