SILA CARI DI SINI!

Google

Friday, May 2, 2008

KIAT-KIAT KREATIF PENULIS MUSLIM


Warung tertarik untuk mengulek, merebus dan sekaligus menyajikan, hidangan yang ada citarasanya “muslim”. Bukan maksud memilah-milah, selama ini yang ada di supermarket buku, depo buku, restoran buku, dan komunitas buku lama belum dijumpai citarasa lain. Barangkali jika warung menemukan bahan yang bercitarasa lain, tentu akan diulek juga. Warung sangat menghindari julukan “sektarian”, maklum warung ini seperti rumah sakit yang ketika menerima pasien, tidak akan bertanya, Suku, Agama, Ras, Warna Kulit, Jenis kelamin, ataupun Gender. Siapa saja boleh singgahm silakan nikmati, citarasa itu sangat pribadi.
Bukankah informasi akan mendulang prestasi, bukankah informasi meraut potensi. Maksudnya warung berbagi informasi itu penting, entah darimana asalnya, yang penting saringan dirapatkan sehingga tak menggoyahkan keyakinan.
Buku yang di Candra:
JUDUL : Kiat-Kiat menjadi Penulis Kreatif. [19 Upaya Menjadi Penulis Yang Kreatif]
PENULIS: H. Fuad Nashori
PENERBIT : Quranic Media Pustaka. Yogyakarta [Kelompom Adi Group]
ISBN: 979-99397-5-5
CETAKAN: Juli 2005
HALAMAN: xii + 118.
Buku ini kendati berukuran saku, isinya menggugah kalbu, dan membawa ke arah mutu. Citarasa muslimnya kental, bahkan judul secara tegas dicantumkan kata ”Muslim”. Namun warung membaca buku ini, terkesan memberikan informasi kepada siapa saja, Namun teristimewa yang muslim harus mengedepankan kalbu, dan selalu ingat pancaran Yang Maha Tahu.
Buku ini sebenarnya lahir dari karya tulis yang dinduksi dari hasil penelitian. Titik beratnya adalah psikologi Islami. Sebagai karya telah mantap, menurut ceritanya pernah di jadikan Poster Ilmiah dalam Konggres Ke-9 Himpunan Psikologi Indonesia [Himpsi] di Surabaya , 15-17 Januari 2004. Bahkan pernah pula dipresentasikan di Kuala Lumpur pada International Conference on Islam dan Muslims, tanggal 3-6 Agustus 2004.
HADIRNYA PROSES KREATIF YANG ISLAMI:
Buku ini mendeklarasikan bahwa proses kreatif yang dijalani oleh penulis Muslim utamanya dalam memperoleh ide-ide kreatif, disamping disandarkan pengalaman empiris, kontemplasi, Namur nur Illlahi adalah sumber ide yang tak pernah henti.
Psikologi Islami mempercayai bahwa ide akan lebih mudah diperoleh bila hati seorang-orang dalam keadaan bersih atau bening. Inilah sebuah pancaran, yang harus memperoleh posisi paling depan, jika kita mengakui penulis yang Islami, inilah yang menkondisikan nuari dalam berkiat.
PENDAPAT IBNU SINA & HANNA DJUMHANA:
Sangat beralasan ketika tokoh-tokoh Muslim terkemuka dirujuknya, sebagai bahan empiri yang ditangkap indera. Seprti Ibnu Sina maupun Hanna Djumhana Bastaman penulis Muslim Indonesia.
Ibnu Sina secara tegas menandaskan bahwa salah satu acara stimuli untuk menghasilkan ide kreatif adalah dengan melakukan ibadah. Dengan adanya ibadah seperti shalat, membaca kitab suci, berdzikir, dan berdoa, ternyata Ibnu Sina lebih lancar dalam memunculkan ide-ide barunya., bahkan memiliki tingkat kebenaran yang tinggi.
Hanna Djumhana Bastaman memperoleh sejumlah ide setelah intedns melakukan dzikir. Salah satu perkembangan menarik dalam beberapa dekade terakhir di Indonesia adalah meunculnya buku-buku yang laku keras di pasaran yang ditulis oleh penulis-penulis Muslim Indonesia.
PENGARUH RELIGIUSITAS TERHADAP KREATIVITAS:
Orang beragama maupun tidak beragama dapat menjadi kreatif adalah pernyataan yang benar, tapi belum lengkap. Itulah pernyataan H. Fuad Nashori, bidan buku ini.
Syarat menjadi pribadi kreatif adalah menggunakan potensi jiawanya alias akal, hati dan nafsu-secara optimal dan positif.
Thomas Alfa Edison, Issac Newton, Albert Einstein, bahkan Nietshe yang menganggap Tuhan telah mati, adalah orang-orang kreatif. Hal ini karena mereka mempergunakan modal dasar terutama akal dan nafsu.
Lalu apa yang membedakan antara orang-orang beragama dan yang tidak?
Orang-orang beragama [Islam] dimungkinkan optimal dalam menggunakan qalbu [hati nuraninya]. Optimasi ini dicapai melalui perbersihan qalbu. Proses pembersihan dan pemebingan hati nurani di samping dilakukan dengan lebih peduli kepada sesama [manusia dan alam], yang lebih penting aadalah dengan banyak melakukan perbuatan yang tulus-ikhlas kepada Tuhan. Keimanan yang kuat, ibadah yang rajin, amal sosial yang berbasis agama, dan pengalaman keagamaan yang kuat menjadikan qalbu seorang-orang dalam keadaan bersih. Kebersihan inilah menjadikan landasan yang memungkinkan seorang-orang memperoleh ide-ide kreatif, yakni ide-ide yang memilki tingkat kebenaran yang lebih tinggi atau lebih abadi.
KIAT-KIAT YANG DISARANKAN.
Dengan tetap menjunjung tinggi nilai religi, seorang penulis muslim dituntut pula untuk melakukan ikhtiar dalama bentuk:
  1. Membaca buku dan majalah
  2. Memperoleh ide karena ada pertanyaan orang lain
  3. Berdiskusi dengan teman sejawat
  4. Berdiskusi dengan keluarga
  5. Bertemu dengan orang lain yang lebih ahliBerdiskusi dengan orang yang berseberangan pendapat.

[Wusana kata: Warung mencermati buku ini, ternyata kuasa Illahi, akan membuka potensi dalam menggali dan menyisir ide, serta mampu merawat kesungguhan. Menulis dengan hati, menjadi acuan penting, karena ide selalu lahir dari hati yang bening. Itulah sebuah refleksi pemikiran warung. Jika kita berkontemplasi dan menambah qua pengalaman lewat bersilahturahim maka kedahsyat akan hinggap pada diri kita. Kewajiban menolong sesama ibarat mengasah kecerdasan, orang mengatakan kecerdasan spiritual, adalah kunci dari langkah arif. Langkah ini pula yang mengawal turunnya sebuah ide.
Qalbu, adalah yang memancarkan, tetapi bintang pengarah tetap tersandar karena kehandak Allah Yang Maha Esa. Qalbu yang bersih, selalu berkonsekuensi pada potensi diri, dan akhirnya menetas dalam kisaran produktivitas.
Kita tidak boleh memungkiri, Romo-romo yang juga bening qalbunya, ide akan hadir dibenaknya. Kita juga banyak melihatmya. Almarhum Romo Mangun, hebat tulisanya dan produktivitas juga tidak teragukan; Romo Dick Hartoko, juga santun dalam tulisannya, Romo Frans Magnis Suseno juga demikian]

No comments: