SILA CARI DI SINI!

Google

Saturday, July 26, 2008

MAMI ROSE : DIRJEN, SAMPAI MENTERI BERLANGGANAN

Akhirnya terpidana mati, Sumiasih—pembunuh Letkol Marinir Purwanto berserta keluarga itu menjalani eksekusi mati.
…….Tanah masih basah, dan memang kurang dari 7 hari pemakaman jasad Sumiasih, buku yang berkisah tentang dirinya sudah nongkrong di toko-toko, tangan cantik, pikiran cerdas serta balutan naluri bisnis yang piawai membantu kehadiran buku bersampul hitam kelam ini.
Putaran ulang peristiwa yang menyayat kembali dibuka, kisah pertarungan berlatar bisnis esek-esek di situs Dolly ini, yang akhirnya diputus eksekusi mati, membuat orang menjadi paham betapa sulitnya berkehidupan.
Mami Rose, adalah judul yang dipilih, karena kosakata mami dirasa tepat dan mewakili ikon Dolly. Mami adalah panggilan direktris “perlontean”, alias “GM—germo “, Rose merupakan signifikansi paras cantik dan body “semlohe”nya almarhum Sumiasih.
Melalui tangan kepiawaian penulis, kisah seorang-orang yang berada pada titik abu-abu ini, mudah cerna. Barangkali karena penulis dan yang ditulis adalah seorang wanita, maka resonansi emosional mudah tersambung, dan akhirnya semua informasi serasa tidak ada yang tertinggal.
Kisah tentang kehidupan seorang terpidana ini, ternyata diawali dengan siklus kehidupan yang penuh romantika, “mulai dari jual diri, ke mucikari sampai eksekusi mati”. Jaminan mutu buku, diindikasikan jika seorang-orang bernama Dahlan Iskan, CEO/Chaiman Jawa Pos Group, bersedia memberikan pengantar,
Detil Buku.
JUDUL : Mami Rose, “mulai dari jual diri, ke mucikari sampai eksekusi mati”
PENULIS : Ita Siti Nasyi’ah
PENERBIT: JP BOOKS. Jl. Karah Agung 45 Surabaya. Telp. 031-8289999 ext 156
ISBN: 978-979-1490-19-1
HALAMAN: xii + 180
CETAKAN : 2008

BAPAK PEJABAT, DIRJEN SAMPAI MENTERI
Sumiasih lahir telah diberkati Tuhan dengan paras cantik, ketika usia remaja banyak yang simpatik, tak hanya anak muda, orang yang telah berkeluarga ikut tergoda.
Di usia yang belia, sekitar 13 tahun telah berkeluarga. Kehidupan yang sarwa miskin itulah yang sering diratapi, tentunya ingin membalik keadaan itu. Perceraian dengan suaminya tak dapat dihindari. Inspirasi untuk mengadu nasib ke kota dijadikan rujukkan, apalagi ketika teman sedesanya banyak yang telah berhasil. Jakarta menjadi tempat mengadu untung, akhirnya harus terjerembat di dunia yang tentunya bukan pilihan sesungguhnya. Parasnya yang cantik, seakan membimbingnya menjadi seorang hostes, yang memberikan kenikmatan birahi pada lelaki. Tak hanya seorang perwira menengah yang dilayani, pejabat di Jakarta, mulai dari Dirjen, sampai Menteri.
Menjadi isteri simpanan juga telah dilakukan, bahkan membuka salon kecantikan yang sekaligus sebagai wahana transaksi birahi.
Ketika menjadi isteri simpanan, lahirlah jabang bayi yang akhirnya dititipkan ke orang tuanya di desa. Kelak sang jabang bayi ketika beranjak dewasa diperisteri oleh bintara polisi. Dan sang menantu pula yang turut serta dalam drama pembunuhan keji, berbuntut eksekusi.

CEKCOK BISNIS ESEK-ESEK, BERAKHIR DENGAN PEMBUNUHAN KEJI
Pengalaman mencari uang, di Jakarta akhirnya dilabuhkan di situs “perlontean atau perbalonan” Surabaya. Tepatnya di wilayah Jarak, merupakan wilayah hitam tempat “jamboree-nya” lelaki hidung belang.
Berdirilah wisma yang berinisial “HH” alias Happy Home, dihuni wanita muda pilihan yang masih “mak nyus”, barangkali pengalaman di Jakarta, bisa memberikan sensasi khusus, sehingga wisma “HH” laris manis.
Pelanggan setianya antara lain adalah seorang serdadu berpangkat Letnan Kolonel, yang kemudian diajak kerjasama mengkresai bisnis sejenis. Wisma “SR” kepanjangan dari Sri Rejeki, adalah wujud kerjasama antara Sumiasih “sang mami rose” dan Letkol Purwanto.
Berawal dari konflik bisnis, setoran hutang yang acapkali terlambat, dan berbuah ancaman makian, hingga popor pistol ikut bicara, akhirnya pembunuhan direncenakan.
Keluarga Letkol Purwanto akhirnya tumpas lunas, isteri, dua anak, dan satu saudaranya secara bergantian menerima pukulan besi. Mensiasati agar tidak ada kesan pembunuhan, jenasah keluarga Purwanto, dibuang ke jurang.
Kepiawaian intelejen, memberi isyarat, bahwa Mami Rose adalah otaknya.
[Wusana kata : Buku ini cocok dibaca para isteri Pejabat. Agar berjaga-jaga ketika sang suami bertugas sendirian tanpa pengawan sang isteri. Menurut buku ini kelakuan sebagian pejabat itu sejak dulu senang "mbalonan" atau "nglonte", utamanya ketika bertugas ke daerah. Terminologi warung: “lonte” atau “balon” adalah istilah di Jawa Timur artinya Pelacur/WTS; “semlohe” adalah bentuk tubuh wanita yang ideal rada sensual.]

4 comments:

Oni Mbem said...

Om, aku bisa dapetin buku Mami Rose di mana ya be;linya?thx

Poet Soenarjo said...

saya ingin sekali memiliki buku ini, dmn saya bs membeli? thx atas infonya

Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku] said...

Ananda,......mohon maaf. Aku beli di Toko Toga Mas Surabaya.

Nur Elva Wardiana said...

Aku penasaran banget, sampai saat ini masih ada di togamas gak ya ?403