SILA CARI DI SINI!

Google

Wednesday, July 30, 2008

NASIONALISME KIAI

Buku dengan Judul Nasionalisme Kiai ini diangkat dari disertasi Dr. Ali Maschan Moesa, yang saat itu sebagai Pimpinan wilayah NU Jawa Timur. Warung tertarik untuk membahas karena sangat berkaitan dengan gaung HUT kemerdekaan RI ke 63, sekaligus sebagai bahan perenungan kita, bahwa para kiai itu pada zamannya telah memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Gagasan cerdas para kiai itu telah mengikat erat komitmennya, sehingga sampai saat ini dengan tegas mengatakan bahwa NKRI--Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah final. Juga dapat dikatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia bagi para kiai adalah harga mati.
Menarik buku ini untuk dicermati, karena para kiai dalam buku ini digambarkan sebagai lokomotif dalam membumikan Negara yang pluralis ini, menjadi kesatuan yang kuat.
Pemicu pikir seorang Ali Maschan dalam melahirakan disertasinya, ditengarai dari pemahaman sejarah pergerakan bangsa ini, melalui tonggak persiapan kemerdekaan. BPUPKI yang ketika itu beranggotakan 60 orang, dan ketika itu mengerucut dalam panitia kecil yang terdiri dari sembilan orang, sepakat menjadikan Negara ini sebagai Negara Kesatuan, bukan Negara Islam. Padahal bila dilihat ketika itu yang non muslim hanyalah seorang yakni, “AA Maramis”, tapi mengapa justru yang mayoritas ketika itu sangat akomodatif. Inilah yang menjadi percikan pemikiran sekaligus daya dorong buku ini lahir.
Detil Buku
JUDUL : Nasionalisme Kiai—Konstrusi Sosial Berbasi Agama
PENULIS: Ali Maschan Moesa
PENERBIT: LKIS Yigyakarta. Salakan Baru No. 1 Sewon Bantul. Jl. Parang TRitis Km 4,4 Yogyakarta. Telp. [0274] 387194, 7472110. E-mail.: elkis@!indosat.net.id
elkispelangi@yahoo.com bekerja sama dengan IAIN Sunan ampel Surabaya Jl. A. Yani 117 Surabaya
CETAKAN : I November 2007
ISBN: 979-1283-27-3
HALAMAN : xxii + 358 hlm ; 14,5 x 21 cm

Buku ini membentangkan bahwa kita telah memberikan kontribusi yang nyata terhadap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukti terpapar dari disertasi karya pikir seorang-orang akademikus yang juga seorang Kiai, ia adalah Dr. KH. Ali Maschan Moesa.
Kontribusi itu terpapar pada halaman 119, dengan judul sub bab “Kiai, Pancasila dan Asas Tunggal:
Menurut buku ini, sebuah Negara bangsa [nation-state) akan berdiri kokoh jika memiliki alandasan yang kuat, yaitu ideology yang merupakan pemersatu, perekat, dan pengikat persatuan dan kesatuan bangsa dan Negara.
Para pendiri Republik Indonesia telah berhasil meletakkan dasar Negara yang kuat dan kokoh, yaitu Pancasila.
Pancasila dipersiapkan oleh Badan Penyelidik Usaha kemerdekaan Indonesia [BPUPKI] yang mempunyai 60 orang anggota. Akan atetapi, hanya sembila orang dari mereka yang dijadikan Panitia Kecil untuk merumuskan Pancasila sebagai perwujudan dari tujuan dan maksud didirikannya Indonesia merdeka. Kesembilan orang tersebut adalah: Soekarno, Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, Ahmad Soebardjo, AA.Maramis, Abdul Kahar Muzakir, Abdul Wahid Hasyim, Aguis Salim, dan Abikusno Tjokro Sujoso.
Dalam Panitia Sembilan tersebut, paling tidak ada tiga kiai yang mempunyai andil besar dalam menyusun Pancasila. Oleh karena itu tidak mengherankan jika terdapat delapan kosa-kata dari khasanah Islam yang masuk dalam Pancasila, yaitu : adil, beradab, kerakyatan, hikmat, permusyawaratan, perwakilan; dan terulang kosa-kata “adil dan rakyat” dalam sila kelima dari Pancasila.
ASAS TUNGGAL :
Dalam Munas (musyawarah Nasional) alim ulama NU tahun 1983, dengan mulus diputuskan penerimaan Pancasila sebagai asas organisasi dan mengembalikan NU sebagai organisasi keagamaan [jami’iyyah diniyah], sesuai dengan kittah 1926. MUNAS tersebut juga brehasil mendeklarasikan hubungan antara Islam dan Pancasila:
  1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, dan tidak dapat menggantikan agama, dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama
  2. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Indonesia menurut pasal 29 ayat 1 UUD 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam

KH. AKHMAD SIDDIQ ADALAH ARSITEKNYA:
Dalam kontesk ini, yang paling berperan dalam merumuskan Asas Tunggal adalah KH. Ahmad Siddiq. Bahkan, dengan sangat meyakinkan ia mampu “membujuk” para kiai untuk menerima Pancasila dengan rumusan yang sesuai dengan paham ASWAJA yang dianut oleh mereka.
Lebih lanjut KH.Admad Siddiq mengingatkan bahwa umat Islam harus mengembangkan rasa persaudaraan [ukhuwwah]. Hal ini didasarkanpada intepretasi atas kosa-kata umat. Baginya, sepanjang zaman kenabian, kosa-kata umat memuat sekaligus tiga pengertian yaitu persaudaraan seagama yang merujuk pada cita-cita terjalinnya hubungan yang harmonis dan saling menghormati diantara kelompok umat islam [ukhuwwah Islamiyah], persaudaraan kebangsaan [ukhuwwah wathaniyyah], dan persaudaraan sesama manusia [ukhuwwah basyariyyah]

No comments: