SILA CARI DI SINI!

Google

Thursday, July 24, 2008

SISWONO YUDO HUSODO : Bijak Bertindak Indonesiaku


Keprihatinan seorang Siswono Yudo Husodo tentang tanah airnya perlu mendapatkan respon semua warga bangsa. Siswono tidak menafikkan sebuah Negara memiliki utang kepada Negara yang lain. Menurutnya, sebagai suatu Negara, membuat utang bukanlah hal yang salah, tetapi menjadikan Negara yang tergantung pada utang luar negeri adalah menjerumuskan masa depan bangsa.
Keprihatinannya terhadap negeri ini sangat tinggi, hal ini dibentangkan melalui pidato politik yang telah dibukukan, judul pidato itu adalah, “Bijak Bertindak Indonesiaku’
Pidato politik ini merupakan suatu bentuk tekadnya untuk turut serta dalam kancah perpolitikan, yakni suatu kesungguhan untuk mencalonkankan diri sebagai pemimpin nasional. Dalam paparannya terkuak suatu potensi yang dimiliki oleh tanah air yang bersabuk equator ini. Namun hanya orang yang bernaluri bijak akan mampu membawa kesejahteraan. Negara yang cukup potensial, namun membawa kenyataan yang berbeda, adalah pendorongnya untuk maju mencalonkan diri.
Kendati buku ini dikreasi pada tahun 2004, namun sangat relewan diputar ulang, ketika pemilihan Presiden telah berada di bibir pintu pelaksaan.
Adapula yang menarik diungkapkan, bahwa nilai tambah produk yang seharusnya milik bangsa Indonesia justru dinimati bangsa lain. Starbuck merupakan cafĂ© yang saat ini berderet-derat di seluruh kota yang ada di tanah air ini, sangat membanggakan Java Coffe. Starbuck membeli Java Coffe dari dari Eropa berupa bahan setengah jadi yang dipilih dari bahan baku yang diimpor Eropa dari Indonesia. Demikian pula dengan jambu mente. Industri makanan “Heinz”, milik keluarga kandidat Presiden dari Partai Demokrat ketika itu, dia adalah Senator Jhon Forbes Kerry dari Massachusets; yang memproduksi aneka makanan dari tomato catchup sampai dengan makakan bayi membeli bahan-bahan baku asli Indoensia semisal lada, puli, coklat dari Eropa. Mengap harus dari Eropa? Dan tidak langsung dari Indoensia?
Rekaman utang:
Menurut pidatonya, diakhir pemerintahan Presiden Soekarno tahun 1966, utang luar negeri Pemerintah RI baru 2,5 miliar AD. Diakhir Pemerintahan Presiden Soeharto di bulan mei 1998, utang luar negeri Pemerintah RI telah mencapai 54 miliar dolar AS dan akhir tahun 2003 yang baru lalu, utang luar negeri Pemerintah RI telah mencapai 75,4 miliar dolar AS.
Hal inilah yang membangkitkan naluri Siwono Yudo Husodo, agar anak bangsa yang berjumlah ratusan juta tidak terperosok pada lubang utang.
Ungkapan kekuatan negeri ini:
Dalam pidato ini juga diungkap catatan majalah The Economist, sebuah pemaparan tentang “dunia dan angka”. Majalah ini membeberkan angka-angka produksi berbagai,
Produk yang dibutuhkan dunia dari berbagai Negara. Indonesia adalah Negara dengan luas daratan no. 15 di dunia, Negara terluas Rusia; Dengan jumlah penduduk terbanyak no.4, setelah Cina, India dan USA; dengan utang luar negeri no.6 sete;lah Brazil, Rusia, Meksiko, Cina dan Argentina. Indonmesia adalah penghasil biji-bijian terbesar no.6 di dunia; penghasil beras no.3 di dunia; penghasil minyak sawit no.2 di dunia setelah Malaysia; penghasil lada putih dan lada hitam no. 3 di dunia; penghasil puli dari buah pala terbesar di dunia;penghasil karet alam no.2 di dunia setelah Thailand dan penghasil karet sintetik no. 4 di dunia, penghasil tembaga no.3 dunia setelah Cili dan Amerika Serikat; penghasil timah no.2 setelah Cina; penghasil nikel no.6 di dunia; penghasil emas no. 8 di dunia dan penghasil natural gas no. 6 di dunia; serta penghasil batubara no.9 di dunia. Ekspor RI menduduki nomor nomor 29 dunia, merupakan 0,8 ekspor dunia; dan out-put industri kita senilai 72 miliar dolar AS/tahun, nomor 20 dunia.
Melihat angka-angka itu, Siswono sangat menyayangkan, kalau saat ini 26 % rakyat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan.

1 comment:

ferimalwa said...

kalo kita penghasil sumber daya alam sepuluh besar dunia, kenapa kita masih miskin ya? hmmm ... ( mikir mode on )