SILA CARI DI SINI!

Google

Saturday, January 10, 2009

JEJAK-JEJAK JUANG PALESTINA

DARI OSLO HINGGA INTIFADAH AL AQSA
Jalan panjang untuk mewujudkan perdamaian acapkali diwujudkan, baik melalui perundingan atau membangun opini betapa pentingnya sebuah bangsa itu damai. Namun jalan terjal dan penuh halang rintang jadi penghambat keinginan berkawan itu. Masalah ini dialami oleh dua bangsa yang berlangganan seteru, Israel dan Palestina, mungkin menjadi habit dan cenderung menjadi culture. Orang memberikan penilaian bahwa kedua bangsa itu ibarat air dan minyak, bagaikan kucing dan anjing bahkan seperti film kartun "Tom and Jerry"
Sebuah buku yang diaransir oleh Musthafa Abd.Rahman, mencermati karut marut kedua bangsa ini, dengan detil analisa yang memadai. Sudah dua buku yang dikreasi, pertama berjudul "Dilema Israel" sedangkan yang kedua berjudul" Jejak-jejak Juang Palestina", keduanya diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas.
Dta buku
JUDUL: Jejak-jejak Juang Palestina - Dari Oslo Hingga Intifadah Al aqsa
PENULIS: Mustafa. Abd. Rahman
PENERBIT: PT Kompas Media Nusantara. Jl. Palmerah Selatan 26-28. Jakarta 10270. E-mail: buku@kompas.com
ISBN: 979-709-040-X
TEBAL: xxxvi + 328 hlm. 14 cm x 21 cm
CETAKAN: Agustus 2002
Untuk kali ini pencermatannya diarahkan pada sisi juang Palestina, mulai dari untaian membangun perdamaian, serta jalan terjal yang menghadang.

Ternyata dalam perjalanan sejarah antara Israel dan Palestina pernah menggelar pertemuan rahasia di Kota Oslo Norwegia. Kemudian lahirlah kesepakatan Ols yang menggemparkan opini dunia saat itu. Kesepakatan tersebut kemusian ditandatangani di halaman Gedung Putih pada 13 September 1993, yang diwarnai peristiwa salaman bersejarah antara Yaser Arafat dan mendian PM Israel Yitzhak Rabin. Serta merta media massa Palestina di daerah pendudukan mengalami perestroika [restrukturisasi] dalam kebijaksanaan pemberitaan, menyusul kesepakatan perdamaian antara PLO dan Israel, yang melahirkan pemerintah otonomi terbatas di Jalur Gaza dan kota Jericho, tepi barat.

Ketika itu Palestina! Memang belum ada. Namun rumus dan identitas Palestina setapak demi setapak mulai merasakan hadirnya wilayah yang otonom. Lagu nasional Palestina, misalnya, kini dinyanyikan setiap pagi oleh murid-murid sekolah di jalur Gaza. Ketika itu Rakyat jalur Gaza juga bisa menikmati acara televisi palestina yang mgudara mulai pukul 18.00 sampai pukul 22.00.

Masa bulan madu Israel-Palestina yang tercipta setelah tercapainya Kesepakatan Olso, ternyata juga tidak berlangsung lama. Tindakan Israel membunuh tokoh muda Hamas, Yahya Ayyash yang dikenal di mata pengagumnya dengan sebutan "sang Insinyur" pada awal Maret 1996 di Gaza City, harus dibayar sangat mahal oleh Israel baik secara politik maupun keamanan. Hamasmelakukan aksi balasan tidak tanggung-tanggung, yakni melancarkan serangkaian serangan bunuh diri di kota Tel Aviv, Ashkelon, dan Jerusalem yang menewaskan sekitar 50 warga Israel dan melukai lebih dari 100 lainnya.

Diatas angin opini Israel selalu menang karena lihai dan hebatnya dalam membangun jaringan media, acapkali memperoleh pembenaran atas tiondakannya. Namun sesungguhnya ketidakadilan membani perjuangan palestina dalam membangun perdamaian. Jika pejuang Palestina melakukan serangan terhadap warga Israel, ia sebut teroris. Namun jika serdadu Israel yang mebunuh Wanita dan Anak-anak Palestina, ia sebut tengah "membela diri", bahkan sering berdalih memburu teroris.

Itulah sebagian kecil yang dapat diendus dari buku ini, tulisan lain yang tersaji dalam untaian artikel berjimbun dalam buku ini, silakan menikmati.

No comments: